Dari Tadbir Menuju Tafwidh, Menakar Ikhtiar PSSI Menambah Naturalisasi untuk Timnas Garuda
Oleh: Erwin Muhammad*

KANALSATU - PERSATUAN Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) terus menunjukkan keseriusannya membangun masa depan 'Timnas Garuda' ini secara nasional. Ikhtiar dan strategi apa yang dilakukan PSSI?
Salah satu langkah strategis yang kini dijalankan adalah proyek jangka panjang tambahan perekrutan pemain naturalisasi keturunan Grade A sebagai bagian dari persiapan menghadapi Kualifikasi Piala Dunia 2030 dan Piala Asia 2027.
Di bawah arahan pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, sejumlah talenta diaspora muda yang berkarier di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia masuk dalam radar penguatan skuad Garuda.
Nama-nama seperti Luke Vickery dari Macarthur FC Australia, Laurin Ulrich dari FC Magdeburg Jerman, hingga Dean Zandbergen yang bermain untuk VVV-Venlo Belanda menjadi bagian dari daftar pemain yang dipantau.
Selain itu, sejumlah pemain bertahan keturunan Indonesia yang berkarier di Belanda dan Jerman juga sedang diamati.
Bahkan bek Leeds United, Pascal Struijk, disebut masih menjadi salah satu nama yang menarik perhatian dalam proyek jangka panjang tersebut.
Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas tim nasional, tetapi juga menjaga kedalaman skuad menghadapi persaingan yang semakin ketat, terlebih ketika FIFA tengah mengkaji kemungkinan penambahan kuota peserta Piala Dunia di masa mendatang.
Namun di balik berbagai strategi dan perencanaan tersebut, ada satu hal yang perlu dipahami oleh masyarakat sepak bola Indonesia: naturalisasi bukanlah jaminan keberhasilan. Ia hanyalah bagian dari ikhtiar.
Dalam Islam, manusia diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin, tetapi tidak dibenarkan menggantungkan ketenangan hidup pada hasil yang belum tentu terjadi. Di sinilah relevansi sebuah hikmah agung yang sering dikutip para ulama, seperti yang disampaikan oleh Ulama Ibnu Atho'illah As-Sakandari
"Istirahatkan dirimu dari pengaturan-pengaturan. Sebab apa yang telah diurus oleh Allah untukmu, janganlah engkau sibuk mengurusinya sendiri."
Hikmah ini bukan berarti melarang perencanaan atau strategi. Sebaliknya, Islam justru mendorong umatnya untuk melakukan persiapan terbaik. Rasulullah SAW bersabda:
"Mengatur urusan merupakan setengah dari penghidupan."
Artinya, perencanaan adalah bagian dari ajaran Islam. PSSI harus merancang program pembinaan, mencari pemain terbaik, membangun kompetisi yang sehat, dan memperkuat tim nasional. Semua itu merupakan bentuk tanggung jawab dan ikhtiar yang tidak boleh ditinggalkan.
Namun, setelah seluruh usaha dilakukan, ada wilayah yang bukan lagi milik manusia untuk menentukan. Tidak ada yang dapat memastikan apakah Indonesia akan lolos ke Piala Dunia 2030. Tidak ada yang bisa menjamin setiap pemain naturalisasi akan sukses atau langsung membawa prestasi.
Di sinilah konsep tafwidh, yaitu menyerahkan hasil akhir kepada Allah SWT. Sering kali suporter terjebak pada pola pikir bahwa setiap program harus langsung menghasilkan kemenangan. Ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan, kritik berubah menjadi cemoohan dan optimisme berganti pesimisme. Padahal dalam kehidupan, termasuk dalam sepak bola, hasil akhir tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia.
Allah SWT berfirman:
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96).
Ayat ini mengingatkan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan strategi, kualitas pemain, atau kekuatan finansial. Ada faktor keberkahan yang lahir dari keimanan, kejujuran, kerja keras, dan ketakwaan.
Karena itu, masyarakat sepak bola Indonesia perlu melihat program naturalisasi dengan cara pandang yang lebih bijaksana. Program ini adalah bentuk ikhtiar yang sedang ditempuh PSSI untuk mempercepat peningkatan kualitas tim nasional. Dukungan dan kritik konstruktif tentu diperlukan, tetapi tidak seharusnya berubah menjadi vonis sebelum prosesnya selesai.
Sebagaimana seorang petani menanam benih tanpa mampu memastikan kapan hujan turun, demikian pula PSSI sedang menanam berbagai ikhtiar demi masa depan Garuda. Tugas mereka adalah bekerja dan mempersiapkan yang terbaik. Adapun hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah SWT.
Sepak bola pada akhirnya mengajarkan pelajaran yang sama dengan kehidupan. Manusia boleh menyusun strategi, merancang target, dan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Tetapi kemenangan, keberhasilan, dan kemuliaan tetap berada dalam genggaman Sang Maha Pengatur.
Maka biarkan PSSI berikhtiar. Biarkan pelatih bekerja. Biarkan pemain berjuang. Dan biarkan masyarakat Indonesia tetap menjaga optimisme.
Sebab dalam sepak bola maupun kehidupan, tugas manusia adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah SWT.
Di antara ikhtiar dan tawakal itulah harapan Garuda menuju pentas dunia terus terbang tinggi.
Surabaya, 31 Mei 2026
Penulis:
-Wakil Ketua SIWO PWI Pusat*
-Anggota PWI Jawa Timur*
-Pengurus Majlis Darussalam Surabaya*