Terpisah Laut, Harapan Warga Sepeken Tetap Terajut

Akses Internet Buka Beragam Kesempatan

Haerul Faisal (berdiri, baju hitam) bersama sebagian pengajar dan santri di Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) Abu Hurairah di Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

KANALSATU - Pukul 06.30 WIB, Haerul Faisal sudah berdiri di depan kelas Pondok Pesantren Persatuan Islam (Persis) Abu Hurairah di Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sebelum disibukkan dengan kegiatan mengajar, Faisal sudah menyelesaikan pekerjaan lain yang tak kalah penting. 

Sebagai redaktur di sebuah media online, di pagi hari Ia terlebih dahulu mengedit sejumlah berita kiriman wartawan dari berbagai daerah. "Tapi kalau pagi biasanya memang belum banyak teman-teman wartawan yang kirim berita," kata Faisal.

Semua aktivitas tersebut dilakukan dari sebuah pulau kecil seluas hanya 201,88 kilometer persegi yang berada jauh di tengah Laut Jawa. Bagi masyarakat perkotaan, mengirim dokumen, mengikuti rapat daring, atau mengedit berita secara real time mungkin menjadi hal biasa. Namun di Sapeken, kemampuan melakukan semua itu merupakan perubahan besar yang baru benar-benar dirasakan dalam dua dekade terakhir.

Sapeken merupakan kecamatan kepulauan. Ada sekitar 20 pulau-pulau kecil yang sebagian besar berpenghuni. Lokasinya sangat jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sumenep. Untuk mencapai ibu kota kabupaten, warga harus menempuh perjalanan laut sekitar 24 jam menggunakan kapal perintis.

Perjalanan itu pun tidak dapat dilakukan setiap hari. Kapal Sabuk Nusantara 91 yang menjadi salah satu moda transportasi andalan warga hanya beroperasi sekali dalam sepekan. 

Kapal tersebut melayani rute Sumenep-Sapeken-Banyuwangi-Sapeken-Sumenep setiap hari Minggu. Dari Sapeken menuju Banyuwangi saja membutuhkan waktu sekitar 16 jam pelayaran.

Selain itu terdapat Kapal Sabuk Nusantara 74 dan Sabuk Nusantara 51 yang melayani rute hingga Nusa Tenggara Timur. Karena lintasannya panjang, kapal-kapal tersebut tidak singgah setiap minggu di Sapeken. Pilihan lain adalah kapal Sumekar milik BUMD Kabupaten Sumenep yang juga hanya beroperasi sekitar sekali dalam sepekan.

Sebenarnya juga ada pesawat perintis dari Pulau Sapeken ke Sumenep. Namun harga tiket yang mencapai lebih dari Rp600 ribu membuat moda transportasi ini belum sepenuhnya terjangkau bagi seluruh warga.

Faisal memahami betul arti penting koneksi dan komunikasi dengan dunia luar. Pria asli Sapeken itu pernah merantau ke Bandung untuk kuliah pada 2006. Setelah lulus dari Perguruan Tinggi STAI Persis Bandung pada 2010, ia lantas berkarir sebagai wartawan di Jakarta. 

Kota besar dengan segala fasilitasnya tidak membuat Faisal meninggalkan panggilan untuk mengabdi di kampung halaman. "Rasanya sudah cukup merantau, saya ingin memajukan daerah tempat asal saya," ujarnya. 

Ia pun memilih kembali ke Sapeken dan mengajar di pesantren tempatnya dulu belajar. Namun, kesibukan mengajar dan mengurus pesantren tidak membuatnya meninggalkan dunia jurnalistik. "Dengan akses internet yang lancar, saya bisa tetap mengajar sekaligus bekerja di media," ujarnya.

Faisal mengaku masyarakat Sapeken saat ini relatif tidak mengalami kendala berarti dalam mengakses jaringan telekomunikasi. Ia masih ingat ketika jaringan telekomunikasi mulai hadir di Sapeken sekitar tahun 2005. Sejak saat itu, kehidupan masyarakat perlahan berubah. 

"Kalau ditanya operator yang paling banyak digunakan masyarakat di sini, hampir semuanya akan menjawab Telkomsel. Kalaupun ada gangguan biasanya hanya saat cuaca buruk dan tidak berlangsung lama," katanya. 

Dengan adanya sinyal seluler yang lancar tanpa gangguan, masyarakat Sapeken tidak lagi ketinggalan informasi. Terlebih, tidak ada koran yang masuk ke pulau tersebut. "Di sini tidak ada koran yang masuk. Jadi sumber informasi utama masyarakat sekarang berasal dari internet," ujarnya.

Menjaga Nafas Pendidikan di Tengah Laut Jawa

Pondok Pesantren Persis Abu Hurairah berdiri sejak 1976 dan menampung hampir 200 santri setingkat Tsanawiyah (setingkat SMP) dan Aliyah (setingkat SMA). Santrinya berasal dari berbagai pulau di sekitar Sapeken. 

Meskipun sebagian besar memiliki ponsel, namun pihak pesantren hanya memperbolehkan santri menggunakan gadgetnya setiap Hari Jumat mulai pukul 08.00 hingga sebelum Shalat Jumat. 

Bagi sekolah sendiri, jaringan internet kini menjadi bagian penting dalam aktivitas belajar mengajar. Berbagai administrasi pendidikan, mulai dari pelaporan ke Kementerian Agama hingga pengelolaan data akademik, seluruhnya dilakukan secara daring.

Akses digital juga membuka peluang baru bagi anak-anak pulau yang sebelumnya sulit dijangkau. Informasi beasiswa, perguruan tinggi hingga kesempatan belajar ke luar negeri kini bisa diperoleh dengan mudah. "Anak-anak sekarang bisa mengetahui informasi beasiswa sejak masih sekolah. Mereka bisa mempersiapkan diri lebih awal. Dulu waktu saya kuliah, informasi seperti itu sangat sulit didapat," ujarnya.

Pentingnya konektivitas semakin terasa ketika Faisal mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kementerian Agama. Seluruh tahapan, mulai pendaftaran hingga ujian sertifikasi, dilakukan secara online.

Saat ujian berlangsung, jaringan WiFi sempat bermasalah. Beruntung ia telah menyiapkan internet seluler sebagai cadangan. "Saya langsung berpindah ke internet seluler. Sempat tidak tersambung beberapa menit, tetapi kemudian normal kembali," kenangnya.

Peluang Usaha Semakin Terbuka 

Dampak adanya internet juga terasa hingga ke dapur-dapur rumah warga. Penduduk Pulau Sapeken sekarang sudah semakin akrab dengan dunia digital. 

Faisal menuturkan, banyak warga Sapeken yang juga berjualan memanfaatkan media sosial. "Ada yang open PO kue atau masakan lainnya, promosinya di Facebook atau status WA," jelas Faisal. 

Bagi warga Sapeken, berbelanja online juga sudah menjadi bagian dari keseharian. Hampir semua kebutuhan sehari-hari dibeli secara online. Namun harus diakui, hal ini bak pisau bermata dua. Bagi konsumen, memang akan dimudahkan mendapatkan barang yang beragam dan harga terjangkau. Namun, tidak sedikit toko-toko busana di sana yang akhirnya tutup karena warganya lebih memilih berbelanja di e-commerce

Karena kapal ke Sapeken tidak tersedia setiap hari, fenomena belanja online tersebut melahirkan profesi baru berupa jasa titip atau jastip. Barang yang dibeli secara online dikirim terlebih dahulu ke Banyuwangi atau Sumenep, lalu dibawa ke Sapeken menggunakan kapal sesuai jadwal keberangkatan. Para penyedia jastip umumnya memasang tarif Rp5000 per kg. 

Selain itu, kemudahan akses internet ini juga membuka pintu rezeki bagi ibu rumah tangga seperti Zumrotin. Sejak 2011 ia mulai membuka usaha toko kelontong di Pulau Sapeken. 

Di tokonya, ia menjual berbagai kebutuhan masyarakat mulai dari sembako, perlengkapan sekolah, sabun, produk perawatan tubuh, hingga makanan dan minuman ringan.

Melalui e-commerce, ia rutin berburu promo dan diskon untuk produk kecantikan seperti bedak, losion, dan parfum. Barang-barang tersebut kemudian dijual kembali kepada warga Sapeken maupun masyarakat di pulau-pulau kecil sekitar.

"Sebagian pembeli datang langsung, tapi banyak juga yang pesan lewat WhatsApp. Sebagian juga bayarnya transfer. Semua lancar karena sinyal di sini bagus," ujarnya.

Tidak hanya di Pulau Sapeken, ia juga melayani pengiriman ke pulau-pulau sekitar. "Biasanya kirim satu sampai dua dus. Isinya macam-macam, mulai sembako, perlengkapan sekolah, sabun, sampai produk kecantikan. Apa saja yang dibutuhkan masyarakat di sana," katanya.

Menurut ibu tiga ini, jaringan telekomunikasi yang stabil telah membantu memperluas pasar dan meningkatkan omzet usaha. "Karena sinyalnya kuat, kami bisa kirim foto produk, pembeli juga bisa tanya-tanya dulu, atau cek harga bisa cepat," tuturnya.

Jembatan Menuju Masa Depan

Di tengah keterbatasan akses transportasi dan kondisi geografis yang menantang, internet perlahan menjadi infrastruktur paling penting bagi masyarakat Sapeken.

Memasuki usia ke-31 tahun, Telkomsel menegaskan kembali komitmennya untuk menghadirkan pengalaman digital terbaik bagi pelanggan melalui semangat "Melayani Sepenuh Hati". Komitmen tersebut diwujudkan lewat penguatan jaringan 5G, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta berbagai inovasi layanan yang lebih personal dan relevan bagi masyarakat Indonesia.

Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, mengatakan kepercayaan pelanggan selama lebih dari tiga dekade menjadi fondasi utama perusahaan untuk terus berinovasi dan berkembang sebagai pemimpin industri telekomunikasi digital nasional.

Melalui jaringan digital, warga dapat mengakses pendidikan, bekerja dari jarak jauh, mengembangkan usaha, hingga membuka peluang ekonomi baru yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Komitmen memperluas konektivitas juga terus dilakukan Telkomsel melalui penguatan jaringan dan layanan digital hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Saat ini, jaringan 5G Telkomsel telah menjangkau lebih dari 107 kota dan kabupaten dengan dukungan lebih dari 6.380 BTS 5G. Sebanyak 36 kota dan kabupaten telah menikmati layanan 5G contiguous yang menawarkan konektivitas lebih stabil dan berkecepatan tinggi.

Di Sapeken, sinyal bukan sekadar indikator pada layar telepon genggam. Ia telah menjadi jembatan yang menghubungkan pulau-pulau kecil di ujung Laut Jawa dengan pendidikan, pekerjaan, ekonomi, dan masa depan yang lebih luas. (KS-5)

Komentar