Anies Baswedan, cendekiawan yang ingin 'berkuasa'

(WIN): Dalam sejarah pasca kemerdekaan RI, nama Abdul Rahman Baswedan, atau biasa disebut AR Baswedan, tercatat sebagai Menteri Muda Penerangan pada 1946. Juga tercatat sebagai salah satu delegasi diplomatik Indonesia pimpinan H. Agus Salim ke Mesir, yang menghasilkan pengakuan dari Mesir (pengakuan pertama internasional) atas terbentuknya Negera Indonesia.

AR Baswedan adalah kakek (kandung) dari Anies Baswedan, salah satu peserta Konvensi Capres Partai Demokrat. Selama ini Anies lebih dikenal sebagai cendekiawan dan pemikir, kebanggaan kaum muda Indonesia.
Nama lengkapnya adalah Anies Rasyid Baswedan yang lahir di Kab Kuningan, Jabar – 7 Mei 1969. Anies yang kemudian dibesarkan di Yogyakarta itu merupakan anak pertama dari pasangan Rasyid Baswedan (putra AR Baswedan) dan Aliyah. Rasyid Baswedan adalah Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Sang ibu, Aliyah, tercatat sebagai guru besar di Universitas Negeri (d/h IKIP) Yogyakarta.
Dibesarkan di lingkungan keluarga berbasis akademis membuat Anies Baswedan menyadari pentingnya pendidikan. Pada Mei 1996, Anies menikahi F. Farhati Ganis, dikaruniai empat anak, yakni: Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam dan Ismail Hakim.
Anies yang dikenal sebagai intelektual muda ini merupakan lulusan FE UGM Yogyakarta, melanjutkan S2 di University of Maryland - AS, dan program doktor (S3) di Northern Illinois University – AS. Ketika usianya genap 38 tahun, Anies sudah menjabat Rektor Universitas Paramadina menggantikan DR. Nurcholish Madjid (cendekiawan muslim).

Kalangan muda banyak yang bangga kepada figur Anies Baswedan, karena pemikirannya yang cemerlang, universal, berkualitas, dan berpenampilan santun. Banyak pihak berharap pemikir muda keturnan Arab ini bisa menjadi guru bangsa ke depan, seperti Nurcholish Madjid, pendahulunya di Paramadina.
Khalayak senang karena Anies tidak bergabung di partai, dan bukan caleg dari sebuah partai. Karena sudah terlalu banyak pemikir di republik ini – kemudian luntur identitasnya – gara-gara masuk ke wilayah kekuasaan dan politik. Sedangkan Anies tidak. Dia tetap pada jalur akademis dan pemikiran, setidaknya di Universitas Paramadina.
Hanya saja, suatu hari, khalayak muda Indonesia menjadi terkejut luar biasa saat mendengar kabar tentang keikut-sertaan Anies Baswedan pada Konvensi Capres yang digelar Partai Demokrat.
Pengganti Nurcholis Madjid di Paramadina ini mengikuti secara seksama tahapan demi tahapan konvensi, seolah partai yang diketuai oleh Presiden SBY itu akan memberinya harapan. Bahkan Anies Baswedan terkesan tidak mempedulikan elektabilitas Partai Demokrat yang nota-bene terus menurun dari banyak versi survei politik.
Survei LSI pada 20 Oktober 2013, elekbilitas Partai Demokrat hanya 9,8%, atau turun dari survei LSI sebelumnya (Maret 2013) yang tercatat 11,7%. Lembaga survei lainnya juga mengindikasikan elektabilitas Partai Demokrat menurun signifikan.

Anies terkesan tetap optimistis bahwa Partai Demokrat adalah jalan masa depan-nya. Ini bisa dilihat dari komentarnya saat menanggapi hasil survei terhadap elektabilitas partai yang pernah dipimpin oleh Anas Urbaningrum tersebut.
“Itu masih bisa dibandingkan dengan partai lain yang terkena kasus korupsi. Jadi, hari ini untuk melihat hasil survei masih terlalu riskan,” kata Anies di Jakarta, Sabtu (26/10/13).
Dengan sisa waktu enam bulan ke depan, Anies optimistis Partai Demokrat masih bisa dimaksimalkan elektabilitasnya. “Masih ada waktu, dan kita yakin bisa,” tegasnya.
Anies mungkin lupa bahwa menjadi presiden, persyaratan cerdas dan intelektual saja tidak lah cukup. Menjadi presiden bukan sekedar mampu berfikir. Bukan sekedar mampu berpidato di mimbar. Tapi di sana, di pergulatan perebutan kekuasaan, ada banyak sistem permainan yang berjalan sendiri di luar mekanisme, dan terkadang memaksa orang yang ikut di dalamnya bisa gelap mata, lupa diri, berbuat nekad, culas, bohong, bahkan curang. Mabuk ingin berkuasa. Tsumma Naudzubillah...
Khalayak, mungkin, hanya bisa berdoa: Mudah-mudahan Anies Baswedan diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Amin.(win5)