Edward Snowden, musuh AS, pahlawan dunia

WIN: Edward Snowden mungkin tak pernah membayangkan keputusannya hidupnya begitu mewabah dan mengubah politik dunia. Terlahir sebagai Edward Joseph Snowden di Elizabeth City, North Carolina, AS pada 21 Juni 1983, putaran kehidupan Snowden kini berubah cepat. Dari musuh utama Pemerintah AS menjadi pahlawan rakyat AS, bahkan dunia.
Edward Snowden adalah putra pasangan Lon Snowden dan Elizabeth Barrett Snowden. Ayahnya seorang mantan perwira Coast Guard dan kini tinggal di Pennsylvania. Sedangkan ibunya yang akrab disapa Wendy di lingkungan kampungnya di Ellicot City, adalah seorang Wakil Kepala Administrasi dan Teknologi Informasi di Pengadilan Distrik AS di Baltimore.
Berawal dari pemikiran bahwa apa yang dilakukan negaranya adalah salah, Snowden pun membocorkan sejumlah fakta tentang sepak terjang badan keamanan AS (National Security Agency/NSA). Tak pelak, pria mantan karyawan Dell dan Booz Allen, subkontraktor konsultan teknologi Badan Intelijen AS (Central Itelligence Agency/CIA) untuk NSA itu, jadi buruan nomor wahid negaranya.
“Saat ini, tidak ada telepon di AS yang melakukan sambungan tanpa catatannya diketahui NSA. Kini tidak ada transaksi internet yang dibuat tanpa melalui tangan NSA. Wakil-wakil kita di Kongres mengatakan ini bukan pengintaian. Mereka salah,” kata Snowden melalui pesan kepada para pengunjuk rasa di Capitol Hill, Washington, akhir pekan lalu.
Proyek mata-mata NSA yang disahkan Kongres AS dengan tajuk Patriot Act itu awalnya langkah strategis mendeteksi aksi terorisme. Sebuah aturan yang diklaim sangat diperlukan menyusul terjadinya aksi pemboman tower kembar WTC.
Namun, Snowden menilai ada yang salah, karena penerapannya juga melakukan penyadapan terhadap rakyatnya sendiri dan negara lain, termasuk para pemimpin dunia. Dia pun membocorkan seputar program-progam NSA yang sangat rahasia seperti PRISM kepada The Guardian dan The Washington Post, Juni 2013.
Pria yang dikenal tetangganya di Ellicot City sebagai pemuda pendiam yang menghabiskan banyak waktu di komputer itu juga membocorkan perintah FISA terkait pengambilan data oleh NSA. Keputusan yang mengubah hidupnya itu dilakukan karena aksi NSA ternyata bertujuan mengungkap apa yang diyakini sebagai tindakan berlebihan oleh pemerintah dalam memantau aktivitas warga AS.
Awalnya, publik AS dan negara-negara Eropa yang menjadi sekutunya, diam saja tatkala Pemerintahan Barrack Obama menetapkannya sebagai buron negara. Namun, kesadaran publik mengemukan setelah Snowden mengungkapkan aksi culas NSA terhadap rakyat AS, rakyat negara lain dan pemimpinnya, termasuk negara sekutunya macam Jerman dan Prancis.

Akibatnya, gelombang kecaman dan demonstrasi atas sikap tak terpuji Pemerintahan AS dengan dalih keamanan negara itu merebak di seluruh dunia. Sejumlah demonstran di Jerman bahkan menuntut negara-negara yang menjadi korban spionase NSA untuk tidak mengekstradisi Snowden.
Bagi mereka, putra pasangan Lon Snowden dan Elizabeth Barrett Snowden adalah pahlawan yang perlu dilindungi dari keculasan Pemerintah AS, karena telah membuka kedok aktivitas NSA yang memberangus kehidupan pribadi manusia. Tak hanya warganegara biasa, melainkan juga para pemimpinnya.
Tercatat, setelah membuka pengintaian terhadap Presiden Brasil dan Meksiko, Snowden mengungkapkan aksi penyadapan telepon seluler Kanselir Jerman Angela Merkel. Rahasia NSA yang menyimak dan merekam hubungan telepon jutaan rakyat Prancis, termasuk sang Presiden François Hollande, juga diungkap Snowden.
Sadap 35 Pemimpin Dunia
The Guardian, Kamis (24/10/13) menurunkan fakta baru, mata-mata AS berkedok Patriot Act dilaporkan telah menyadap pembicaraan telepon 35 pemimpin dunia. Penyadapan dilakukan setelah Gedung Putih, Pentagon dan para Pejabat Departemen menyerahkan nomor-nomor telepon itu kepada badan tersebut.
AFP melengkapi dengan sebuah dokumen rahasia yang dirilis Edward Snowden. Dokumen itu menyebut NSA bekerjasama dengan pelanggannya, yaitu sejumlah departemen Pemerintah AS untuk mencari nomor telepon politisi asing terkemuka. Dokumen itu menyebut seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menyerahkan 200 nomor, termasuk milik para pemimpin dunia yang segera digarap untuk diawasi NSA.
Pengungkapan terbaru itu muncul di tengah kehebohan skandal AS telah menyadap telepon genggam Kanselir Jerman Angela Merkel, jutaan rakyat Prancis, termasuk presidennya François Hollande dan memantau komunikasi pemimpin Brasil dan Meksiko.
Kendati Gedung Putih telah menolak tudingan penyadapan terhadap telepon genggam Merkel di masa lalu, tetapi kecaman atas aksi spionase berkedok keamanan negara itu makin meluas di Jerman dan Prancis.
Faktanya, ada sebuah Memo NSA yang dikutip The Guardian menunjukkan, pengawasan tidak terisolasi dan rutinitas NSA melacak nomor telepon para pemimpin dunia.

Sebuah memo pada 2006 beredar di kalangan staf di Direktorat Sinyal Intelijen berjudul “Para Pelanggan Dapat Membantu Memperoleh SID Nomor Telepon Target”. Memo itu menggarisbawahi para agen NSA bisa memperoleh informasi kontak yang dikumpulkan para pejabat di cabang lain dari pemerintah.
Memo itu mencatat, “Dalam satu kasus baru-baru ini, seorang pejabat AS memberi NSA 200 nomor telepon 35 pemimpin dunia.”
Memo itu juga mengakui, penyadapan itu telah menghasilkan sedikit laporan intelijen.
Dan berkat pengungkapan memo-memo rahasia milik NSA itu, Snowden kini tengah menapaki kehidupan baru sebagai pahlawan dunia dengan melawan pemimpin negaranya yang selalu mengklaim sebagai polisi dunia.(win10)