PON, prestasi atau prestise

WIN.com: Gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 Jawa Barat memang masih lama. Namun hiruk-pikuk persiapan menuju olahraga multieven empat tahunan tersebut sudah bisa dirasakan dari sekarang. Mulai persiapan penetapan cabang olahraga (cabor) dan nomor pertandingan, hingga persiapan masing-masing kontingen daerah.
Belakangan sudah marak dikabarkan tentang wacana penambahan empat cabor baru, yakni, berkuda, drumband, hoki dan dansa. Sebenarnya, wacana penambahan keempat cabor itu sudah mencuat sebelum pelaksanaan PON XVIII 2012 Riau. Hanya saja setelah menuai pro dan kontra, akhirnya keempat cabor batal dipertandingkan. Kini, wacana itu kembali muncul dan kemungkinan bisa masuk dalam PON XIX 2016 Jabar, mengingat masih cukup lamanya waktu pelaksanaan.
Dengan demikian, jumlah cabor di PON yang akan datang bakal lebih banyak dari sebelumnya. Praktis, juga berdampak pada nomor pertandingannya. Terlebih selama ini tidak ada pakem atau aturan pasti tentang jumlah cabor dan nomor yang dipertandingkan. Jadi, semuanya bisa berubah seiring dengan waktu dan tempat pelaksanaan, tentu saja juga terserah panitia pelaksana.
Sedikit kilas balik tentang gelaran PON XVIII 2012 Riau. Sebelum resmi digelar, sejumlah kontingen daerah sempat dengan dibingungkan cabor dan nomor yang dipertandingkan. Ini seiring dengan seringnya keluar Surat Keputusan (SK) yang mengatur tentang jumlah cabor dan nomor pertandingan.
Diantaranya, SK No. 37/2011 yang merupakan pengganti SK No. 35/2009. Dengan terbitnya SK baru, maka nomor pertandingan yang dilombakan dalam PON XVIII 2012 berubah dari 555 nomor menjadi 598 nomor. Bertambahnya nomor pertandingan, bukan berarti nomor yang sebelumnya dipertandingkan tetap dipertahankan kemudian ditambah nomor-nomor baru.
Namun, ada beberapa nomor yang sebelumnya dipertandingan tapi justru dihapus. Adapun nomor pertandingan yang dihapus adalah panjat tebing (tujuh nomor), selam (enam nomor), panahan (enam nomor),ski air (empat nomor), aeromodeling (tiga nomor), karate (dua nomor), renang (dua nomor), gulat (dua nomor) dan biliar (satu nomor).
Polemik soal cabor dan nomor pertandingan terus berlanjut hingga beberapa bulan menjelang pelaksanaan PON XVIII 2012 Riau. Sampai akhirnya keluar SK No. 44/2012 yang menetapkan PON XVIII 2012 Riau memertandingkan 601 nomor dari 39 cabor.
Itu sekelumit polemik persiapan PON di tingkat KONI Pusat selaku penyelenggara. Polemik juga terjadi di masing-masing kontingen daerah. Mulai dari menyiapkan atlet-atlet yang bakal diturunkan, sampai bagaimana mengamankan target perolehan medali.
Sebagai contoh, KONI Jatim mulai sibuk memersiapkan cabor berkuda begitu mendengar wacana bakal dipertandingkan di PON XIX 2016 Jabar. Persiapan dilakukan mulai pembentukan struktur kepengurusan, pencarian kuda dan menyiapkan atlet yang bakal diturunkan. Terlebih, selama ini Pengprov Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Jatim seakan mati suri.
Mungkin hal serupa juga dilakukan kontingen daerah lain. Bukan hanya untuk berkuda, tetapi juga cabor-cabor lain yang bakal dipertandingkan di PON XIX 2016 Jabar. Bila dicermati lebih dalam, ada yang menarik dari kontingen masing-masing daerah dalam menyiapkan atlet. Sudah menjadi rahasia umum, cara instan demi mendapatkan prestasi tinggi di PON biasa dilakukan sejumlah kontingen daerah.
Beberapa bulan lalu, marak diberitakan soal rencana kepindahan atlet catur Jabar Irene Kharisma Sukandar ke Jatim. Bahkan, tarik-menarik pecatur yang menyandang gelar Grand Master Internasional Wanita (GMWI) itu sampai ke tingkat Badan Arbitrasi Olahraga Indonesia (Baori).
Cukup berasalan memang, mengapa Irene sampai menjadi rebutan antara Jatim dan Jabar. Bagi Jabar, Irene sudah banyak menyumbangkan prestasi, sedangkan bagi Jatim sendiri, kehadiran Irene akan sangat berarti sebagai pemicu kebangkitan catur maupun kepentingan mendulang medali di PON XIX 2016 Jabar.
Sampai akhirnya Baori memutuskan Irene tetap menjadi milik Jabar, sekalipun yang bersangkutan lebih menginginkan pindah ke Jatim. Hal serupa tak hanya terjadi di cabor catur, tapi juga banyak terjadi pada cabor-cabor lainnya. Serta bukan hanya dialami Jatim dan Jabar, tetapi juga daerah-daerah lain.
Bila ditarik ke belakangan lagi, kasus serupa pernah terjadi pada atlet panahan Jatim Rina Dewi yang hijrah ke DKI Jakarta. Bahkan, polemik terus berlanjut sampai gelaran PON XVIII 2012 Riau. Jatim keberatan dan sempat melakukan protes atas tampilnya Rina di PON membela DKI. Pasalnya, Perpani Jatim telah memberikan sanksi larangan bermain kepada Rina selama dua tahun terhitung sejak 22 Juli 2010, terkait dengan keputusannya pindah ke DKI.
Namun, protes dari Jawa Timur tak dihiraukan PB PON, dan atlet peraih medali SEA Games 2011 itu tetap diperbolehkan tampil membela DKI Jakarta di PON XVIII 2012 Riau. Kekecewaan Jatim akhirnya sedikit terobati setelah pada perebutan medali emas, ternyata Rina kalah dari yuniornya yang dulu sama-sama berlatih di Jatim.
Prestasi internasionalNah, berdasarkan fakta yang terjadi mungkin dapat disimpulkan, apa sebenarnya tujuan PON? Apakah sebagai bentuk pembinaan olahraga di tingkat nasional demi menggapai prestasi internasional, atau sekadar mengejar prestise dengan meraih gelar juara umum?
Dengan tak adanya pakem tentang cabor dan nomor pertandingan, seakan juara umum PON bisa diatur. Cabor dan nomor mana yang perlu dipertandingkan atau tidak, bisa ditentukan oleh siapa yang ‘berkuasa’. Ironisnya, kadang nomor-nomor pertandingan yang dipangkas atau tidak dipertandingkan di PON, justru pertandingkan di SEA Games.
Begitu pula dengan proses pembinaan, kontingen daerah yang kuat secara finansial mungkin lebih gampang mendapatkan atlet berprestasi secara instan, tanpa melakukan pembinaan dari nol. Betapa tidak, fenomena rebutan atlet seakan membuktikan beberapa daerah tak lagi memikirkan pembinaan, tapi lebih mementingkan sekadar prestasi atau meraih medali.
Serta aturan tentang atlet-atlet berprestasi di tingkat internasional namun tetap diperbolehkan berlaga di PON juga pantas dipertanyakan. Sebab hal itu sangat berdampak pada proses regenerasi atlet.
Untuk mencari jawabannya, mungkin kita bisa berkaca pada gelaran SEA Games. Pada SEA Games XXVI 2011, Indonesia keluar sebagai juara umum. Itu merupakan kembalinya prestasinya Indonesia sejak 1997. Tapi untuk diketahui, baik 2011 maupun 1997 saat menjadi juara umum, ketika itu Indonesia berperan sebagai tuan rumah.
Memang, sepanjang sejarah gelaran multieven olahraga tingkat Asia Tenggara sejak 1959, Indonesia paling banyak mengoleksi gelar juara umum. Yakni, 10 kali pada 1977 (Kuala Lumpur), 1979 (Jakarta), 1981 (Manila), 1983 (Singapura), 1987 (Jakarta), 1989 (Kuala Lumpur), 1991 (Manila), 1993 (Singapura), 1997 (Jakarta), 2011 (Jakarta).
Dari data itu dapat diketahui, prestasi olahraga Indonesia di tingkat Asia Tenggara merosot dalam 10 tahun terakhir. Mampukah Indonesia memertahankan gelar juara umum di SEA Games XXVII 2013 Myanmar? Tunggu saja, sebab raihan tersebut bukan sekadar prestise semata, tetapi juga merupakan cerminan pembinaan olahraga di Tanah Air.(win6)