Ending kisruh PSSI, Timnas U-19 fenomenal

(WIN): Perjalanan persepakbolaan Indonesia masih panjang untuk menjadi sebagai salah satu kekuatan di Asia. Segala upaya terus dilakukan oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk bisa mewujudkan semuanya, namun mimpi itu tak akan bisa tercapai tanpa adanya persatuan dari publik bola yang ‘katanya’ mencintai dan ingin sepakbola Indonesia ini lebih maju.

Benang merah telah terurai seiring dengan lancarnya Kongres Luar Biasa (KLB) pada 17 Maret 2013 di Hotel Borobudur. Hal ini menandai mencairnya hubungan antara PSSI Djohar Arifin Husein dengan PSSI versi KPSI yang dipimpin oleh La Nyalla Mahmud Mattalitti. Seperti yang diketahui bahwa kedua pimpinan tersebut menyatakan bahwa PSSI mereka adalah yang sah.

KLB 2013 yang berlangsung di Hotel Borobudur berlangsung lancar. Meski masih saja beberapa oknum yang ingin mengkacaukan hasil KLB, termasuk kehadiran 18 voters yang sebelumnya ditolak, kembali datang dan mencoba merangsek masuk ke ruang sidang, Minggu (17/3/13).

Dan hasil dari KLB tersebut mengangkat La Nyalla Mattalitti sebagai Wakil Ketua Umum PSSI,  menggantikan Farid yang terkena skorsing dan Djohar Arifin sebagai ketua PSSI. Yang terakhir adalah pembubaran secara resmi Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI). Pada Kongres ini, dihasilkan beberapa keputusan diantaranya soal Liga Unifikasi Indonesia Super League (ISL).

Liga Unifikasi merupakan sebuah langkah strategis dari PSSI untuk mengakomodir dualisme kompetisi yang kadung terjadi. Pada saat KLB berlangsung, kedua belah pihak yang berseberangan dalam hal penyelenggaraan kompetisi yaitu PT Liga Indonesia sebagai operator Indonesia Super League (ISL) dan PT Liga Primer Indonesia Sportindo (LPIS) diintruksikan untuk saling memaparkan program.

Ternyata, ide dari PT Liga Indonesia yang diterima oleh voter di KLB. Sedangkan ide dari PT LPIS ditinggalkan. Itu hanya secuil dari hasil KLB yang monumental di Hotel Borobudur. Bulan-bulan berikutnya setelah pelaksanaan KLB tersebut menjadi momentum untuk melaksanakan apa yang sudah diputuskan.

Ending dari kisruh PSSI selama tiga tahun ini adalah pencapaian dari Timnas Indonesia U-19. Ketua Badan Timnas Indonesia (BTN) yang diketuai oleh La Nyalla ingin PSSI fokus pada pemusatan latihan serentak untuk Tim Nasional Under-16 dan Under-19 di dua tempat berbeda .

Coach Indra Sjafri pun dipercaya untuk menangai Timnas Indonesia yang akan menghadapi kejuara Piala AFF DI Sidoarjo. Segala bentuk upaya dan kerja keras menuntut agar timnas U-19 bisa mengalhiri paceklik gelar selama 22 tahun.

Garuda Muda bukti tak ada lagi dualisme PSSI. Tim nasional sepak bola U-19 Garuda Muda akhirnya mampu membuktikan diri dan mengembalikan pamor Indonesia dengan menjuarai Piala AFF U-19 2013.Garuda Muda juara Piala AFF U-19 2013. Kendati di kancah regional, Asia Pasifik, tetapi kemenangan yang diraih Minggu (22/9/13) dengan mengalahkan Vietnam 7-6 (0-0) melalui adu penalti itu menjadi penyegar dan penyemangat untuk bangkit.

Bertahun-tahun, Indonesia mengalami paceklik prestasi. Tak hanya di junior, miskin prestasi juga terjadi di level senior. Bertahun-tahun pula, gaung sepakbola Indonesia lebih diramaikan laga di luar lapangan. Perseteruan antarpengurus, dualisme kepengurusan hingga kerusuhan suporter lebih menggairahkan pemberitaan ketimbang prestasi sepakbola itu sendiri.

Kini, semua mulai tersingkap. Hal negatif pada badan yang menaungi olahraga terpopuler sejagad itu mulai tergantikan riuh rendah sepak terjang dan kegigihan pemain di lapangan hijau dalam baju tim nasional Indonesia.

Memang masih dini menyebut apa yang diraih Ilham Udin Armayn dkk. itu sebagai prestasi mulai dituai PSSI. Namun paling tidak, segelas kesegaran sudah ditunjukkan para pengurus PSSI sejak persiapan tim hingga pencapaian gelar juara di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Minggu malam itu.

Tak ada lagi gontok-gontokan antarpengurus, perebutan status paling benar diantara dualisme kepengurusan. Semua bersatu dalam wadah timnas Indonesia. Harus diakui, kebesaran hati dan tekad meleburkan diri atas perseteruan yang pernah terjadi membuahkan hasil manis. Paling tidak, itu ditunjukkan sikap dan komitmen Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin dan Ketua Badan Tim Nasional La Nyalla Mattalitti.

Tak sekali pun Djohar dan La Nyalla mengomentari Garuda Muda. Sejak pembentukan, perjuangan di lapangan hijau hingga menggapai prestasi. Kendati dalam tubuh tim, terdapat dua squad dari kubu PSSI Djohar Arifin Husin dan PSSI La Nyalla Mattalitti.

Para pemain Garuda Muda 2013 merupakan gabungan dari tim-tim terbaik di Indonesia. Para pemain berasal dari klub peserta Liga Super dan Liga Premier itu melengkapi skuad timnas U-19 yang selama ini menjalani pemusatan latihan di Uruguai dan tergabung dalam klub Deportivo Indonesia. Klub itu sejak mengikuti kompetisi Divisi Quinta (liga junior) Uruguay.

Pria yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jatim itu tak ingin berpolemik lagi. Selain menguras tenaga dan pikiran, berpolemik tanpa dasar jelas dan kuat hanya memunculkan persoalan tak berujung.

La Nyalla membuktikan ucapannya, persoalan posisi Ketua Umum PSSI bukanlah target utama sikap kukuhnya mempertahankan kebenaran dalam mengelola sepakbola sebuah negeri ketika berseteru dengan Djohar Arifin. Kini, meski secara hirarki berada di bawah posisi seterunya Djohar Arifin, La Nyalla tetap memegang komitmennya dalam mengawal timnas.

Tak hanya menjadi juara Piala AFF saja, Evan Dimas cs juga berhasil lolos ke putaran selanjutnya dalam ajang Piala AFC setalah dalam babak penyisihan grup mengalahkan timnas Korea Selatan dengan skor 3-2.

Evan Dimas kembali menjadi penentu keunggulan Indonesia atas Korea Selatan pada partai terakhir penyisihan Grup G Piala AFC U-19, Sabtu (12/10/13). Kapten tim Garuda Muda itu mencetak hattrick ke gawang Korsel, sehingga meloloskan Indonesia ke putaran final Piala AFC U-19 dengan kemenangan 3-2 (1-1).

Diajang SEA Games Myanmar yang baru usai, prestasi Timnas Indonesia U-23 juga tak kalah moncernya dengan skuad Indra Sjafri. Dibawah asuhan pelatih Rahmad Darmawan skuad Timnas U-23 berhasil meraih medali perak, setelah dalam babak final kalah 0-1 dari tim kuat Thailand.

Lagi, Tim Nasional (Timnas) Indonesia harus puas dengan medali perak di gelaran SEA Games 2013 Myanmar. Skuad besutan Ramhad Darmawan itu harus menyerah dari Timnas Thailand dengan skor 0-1, di Stadion Zeyar Thiri, Sabtu (21/12/13) malam.

Sepanjang babak kedua, tensi pertandingan cukup tinggi. Timnas Indonesia terus mengejar devisit satu golnya dengan meningkatkan intensitas serangan. Sejumlah pelaung pun sempat tercipta. Diantaranya oleh Pahabol yang masuk menggantikan Yandi Sofyan pada menit ke-69.

Pahabol sempat melesakkan tendangan keras dari luar kotak pinalti di penghujung laga. Hanya saja, bola masih melambung di atas mistar gawang Thailand. Kedudukan 1-0 untuk keunggulan Thailand pun bertahan hingga babak kedua bubar.

Dengan hasil ini, maka Timas Indonesia belum bisa mengakhiri krisi medali emas di SEA Games sejak 22 tahun silam. Pada gelaran SEA Games 2011 Jakarta, Indonesia juga harus menyerah dari Timnas Malaysia. Sebagai tuan rumah, Indonesia takluk lewat drama adu pinalti dengan skor 4-3 untuk keunggulan Malaysia.  

Seperti diberitakan sebelumnya, gol semata wayang tim `Gajah Putih` tercipta pada menit ke-21. Bermula dari operan pemain Thailand Thitipan Puangchan kepada Sarawut, bola akhirnya menjebol gawang Indonesia yang dikawal Kurnia Mega. Bola lambung hasil sontekan Sarawut tak bisa dijangkau Kurnia Mega.

Meski hanya berhasil meraih Perak, namun prestasi ini patut disyukuri oleh bangsa dan negara Indonesia. Lagi, Timnas harus puas dengan perak, namun demikian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap bangga dengan prestasi Timnas U-23. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan apresiasi atas upaya tim nasional sepak bola usia-23 yang berlaga di final Sea Games, meski hasil akhir Bayu Gatra dkk mengalami kekalahan dari Thailand 0-1 di Naypyidaw pada Sabtu malam.

"Indonesia bangga atas perjuangan maksimal Tim Garuda U-23 dalam final Sea Games," kata Presiden dalam akun twitternya @SBYudhoyono yang dipantau di Jakarta, Minggu (22/12/13).

Presiden meminta seluruh anggota tim memelihara semangat dan juga mengasah keterampilan untuk pertandingan-pertandingan berikutnya. "Terus semangat dan tingkatkan kualitas permainan," kata Presiden.(win12)

Komentar