Akbar Faizal, sering keluar dari zona mapan

Akbar Faizal

(WIN): Pria berkacamata ini sering tampil di sejumlah TV nasional, baik dalam acara dialog, debat, diskusi, atau pun wawancara khusus. Bahasanya terstruktur, jelas, dan retorik, sehingga memikat lawan bicara (pemirsa TV). Dia dikenal kritis sejak masih remaja dan tergolong aktif di banyak kegiatan kampus tempatnya berkuliah. 

Sehingga saat menjadi Anggota DPR RI, figur ini mudah sekali "menguasai" panggung Senayan. Namanya melambung saat terjadi hiruk-pikuk skandal Bank Century. Sejak itu sering diundang sebagai pembicara (dalam dan luar negeri) dan komentar-komentarnya mengenai banyak problematika bangsa, selalu menjadi konsumsi media (TV, cetak, online).

Dia sering tampil sebagai news maker untuk banyak hal, bak selebriti di panggung politik. Figur ini selalu berkomentar miring dan cenderung keluar dari koridor kemapanan pakem cara berfikir politisi nasional secara umum. Sehingga keberadaannya di panggung politik nasional sering dianggap "mengganggu" "kenyamanan" banyak pejabat dan politisi - (khususnya di DPR RI).

Siapa lagi figur itu kalau bukan Akbar Faizal. Pria ini terlahir di Sulawesi Selatan, tepatnya di kota Makassar, 21 Desember 1968. Ia dilahirkan sebagai pribadi pekerja keras. Di usia mudanya ia telah bekerja sebagai wartawan di sebuah koran daerah saat masih kuliah di Fakultas Bahasa dan Sastra IKIP Ujung Pandang, Makassar. 

Karirnya berlanjut sebagai wartawan salah satu koran nasional terkenal di Indonesia. Sifat pekerja keras Akbar juga tercermin dalam karirnya. Ia telah menduduki berbagai posisi strategis di berbagai instansi seperti pemimpin redaksi di sebuah majalah dan president director di dua instansi berbeda. Selain pekerja keras, Akbar faizal juga sebagai pribadi yang sederhana.

Politisi berwawasan luas ini, saat masih Anggota DPR RI lebih memilih menggunakan kendaraan umum saat pergi ke tempat kerja. Saat itu, Akbar tinggal di Depok, tidak mau kehilangan waktu di jalan karena macet. Maka dari itu ia memilih menggunakan KRL. Biasanya Akbar naik dari Stasiun KA Depok Lama dan turun di Stasiun Dukuh Atas. Lalu dia melanjutkan perjalanan ke Gedung DPR dengan menumpang taksi atau ojek. 

Akbar menaruh mobilnya di Gedung DPR karena terkadang dia harus menghadiri kegiatan Dewan di luar Gedung DPR. Untuk diketahui, Akbar memiliki Honda Civic keluaran 2008 dan Honda CRV edisi 2009 yang dibelinya sebelum menjadi anggota Dewan.

Akbar Faizal tergolong tipologi orang aktif. Sejak di bangku Sekolah Dasar ia sudah senang berorganisasi dengan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler pramuka. Berlanjut dengan menjadi anggota OSIS di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Di bangku perkuliahan Akbar juga terdaftar sebagai aktivis, dan tercatat sebagai praktisi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Karir politik Akbar dimulai saat ia menjadi salah satu pegiat atas berdirinya Partai Demokrat dan tercatat sebagai pendiri sekaligus ketua umum Pemuda Partai Demokrat pada tahun 2003 sampai 2007. Namun Lelaki yang gemar menulis cerpen, puisi, maupun novel ini memilih bergabung dengan Partai Hanura, dan terpilih menjadi wakil rakyat (DPR RI) dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan II. Pada tahun pertama ia dipercaya duduk di Komisi V DPR dan saat itu juga Akbar duduk di Komisi II DPR.

Di Dewan Perwakilan Rakyat, Akbar Faizal merupakan salah satu anggota yang kritis, tegas, keras, dan berani menantang siapa saja untuk memperjuangkan kebenaran. Nama Akbar Faizal langsung bergaung di antara 560 wakil rakyat lainnya saat ia menjadi anggota Panitia Khusus Hak Angket Bank Century. Walau Pansus Hak Angket Bank Century telah berlalu, karakternya yang selalu vokal, cerdas, dan berargumen dengan logis itu secara konsisten dipertahankannya. Dengan pembawaannya itu pula Akbar terpilih sebagai Man of The Year 2010 dari salah satu media di tanah air.

Selain itu Akbar Faizal juga dinobatkan sebagai anggota DPR RI paling berpengaruh oleh Charta Politika Indonesia. Anggota Komisi II DPR RI ini resmi menerima Charta Politika Award III pada Selasa malam, 28 Februari 2012, di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta. Akbar Faizal berhasil mendapatkan salah satu award dari kategori politikus partai oposisi pemerintah mengalahkan sejumlah nominator politikus oposan seperti Tjahyo Kumolo, Gandjar Pranowo, Eva Kusuma Sundari, dan Rieke Diah Pitaloka.

Namun dia memutuskan untuk hengkang dari anggota DPR dan Partai Hanura, dan bergabung ke Partai Nasdem. Akbar tercatat  menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasdem. Dalam kunjungannya ke redaksi whatindonews.com, salah satu portal berita nasional pada Rabu (1/1/14) Akbar berpesan agar keberadaan media di tengah gencarnya arus politik hendaknya selalu mengutamakan idepedensi di Pemilu 2014.

Akbar Faizal, di kantor whatindonews,com.

"Kedudukan pers saat ini sangat penting jelang Pemilu 2014, namun yang lebih utama adalah esensial berita yang harus mengedepankan kepentingan masyarakat luas, objektif dan transparan tanpa ada unsur kepentingan untuk memenangkan kepuasan pribadi maupun golongan," ungkapnya saat dialog dengan awak redaksi whatindonews.com yang dipandu langsung oleh Lutfil Hakim, pemred whatindonews.com. (win12)

Aktivitas & Karir : 

2007 - Sep 2009: Konsultan Ahli Komunikasi 26 Bank Pembangunan Daerah (BPD)    

2008 - Sep 2009: Pemimpin Redaksi Majalah PROGRES
2007 - Sep 2009: President Director Media Plus Network
2003 - Sep 2009: President Director Gagah Communications
2000 – 2003      : Redaktur Majalah SWA, Jakarta
2000  - 2001      : Internet Agrakom Services (IAS)
1999 - 2000       : Kepala Biro Majalah SWA di Surabaya
1998 – 1999      : General Manager & Owner Bali tribune, Bali
1996 – 1998      : Redaktur Ekonomi Harian NUSA ( Bakrie Group ), Bali
1994 – 1996      : Redaktur Harian Manado Post, Manado/Jawa Pos Group
1993 – 1994      : Wartawan Harian Jawa Pos di Surabaya
1991 – 1993      : Wartawan Harian Pedoman Rakyat, Makassar

Pendidikan : 
•Lulus SMA Neg. 1 Sengkang Kab. Wajo, 1987
•Fakultas Bahasa dan Sastra IKIP Ujung Pandang, 1992
•Magister Komunikasi Politik Universitas Indonesia, 2007 (Angkatan Pertama)

Organisasi : 

•Dewan Penasehat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)
•Ketua PB Lemkari
•Ketua Bidang Kaderisasi PP Nasional Demokrat
•Senat Mahasiswa IKIP Ujung Pandang
•HMI
•Anggota Jaringan Kerja Budaya Indonesia - Malaysia
•Indonesian Advertising Watch 

•Pendiri & Ketua Umum Pertama Pemuda Partai Demokrat, elemen pertama Partai Demokrat (2003-2007)
•Direktur Eksekutif Local Election Centre, sebuah LSM yang bergerak di bidang penguatan civil society dan melakukan riset tentang pilkada dan Voting Behavior.
•Koordinator Kaukus Intelektual Sulawesi Selatan (KISS)
•Pendiri Lembaga Penguatan Produk-produk Asli Indonesia (Original Brands of Indonesia)
•Dll

Karya Tulis, dll : 

•PENJARA BUKAN CARA, sebuah otobiografi  (Tohpati Grafika, Bali, 1999)
•PROFESIONALISME versus POLITIK (Elex Media Komputindo, 2002)
•PARTAI DEMOKRAT & SBY: Mencari Jawab Sebuah Masa Depan (Gramedia Pustaka Utama, 2004)
•MEREK-MEREK UNGGULAN EKSPOR INDONESIA ( Jejaring Media Plus, 2007)
•MEREKA BICARA TENTANG PARTAI HANURA (editor)
•GENERAL CHEK-UP KELISTRIKAN NASIONAL (Jejaring Media Plus, Jakarta, 2008)
•PENGELOLAAN ASET-ASET NEGARA MELALUI KEBIJAKAN PERTANAHAN NASIONAL (Jejaring Media Plus, Jakarta, 2008)
•Berbagai artikel di koran nasional dan daerah
•Berbagai tulisan cerpen dan puisi di berbagai koran nasional dan daerah
•Pembicara di berbagai seminar tentang Komunikasi serta Tentang Media.

Komentar