Tahun Baru ala Dubai
Lebih 500.000 kembang api, 100 komputer, 200 teknisi dan 5.000 jam kerja

WIN: Malam pergantian Tahun Baru Selasa (31/12/13) menuju Rabu (1/1/14) diperingati secara meriah di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Langit ibukota UEA itu gemerlap bermandikan jutaan cahaya dari atas tower simbol kota, Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia yang pernah dibuat manusia.
Pertunjukan spektakuler tersebut memang dirancang sebagai aksi pemecahan rekor dunia penyalaan kembang api. Mengalahkan piroteknik pesta kembang api di atas jembatan Gedung Opera Sydney, Australia yang juga diklaim terbaik di dunia.

Secara harfiah, pyrotechnics (piroteknik) adalah teknologi api yang merujuk kepada suatu bidang dengan melibatkan bahan letupan, utamanya untuk tujuan pencahayaan.
Pertunjukan kembang api komersial kini selalu mengandalkan perangkat piroteknik untuk penggunaan di luar ruangan. Tenik itu biasanya memerlukan satu hari untuk mengatur tampilan kembang api profesional.
Di kebanyakan yurisdiksi, pelatihan kembang api khusus dan lisensi harus diperoleh dari pemerintah daerah untuk mempersiapkan secara legal dan menggunakan pertunjukan kembang api.
Klaim Dubai memecahkan rekor dunia untuk tampilan kembang api terbesar yang pernah itu tampaknya benar adanya. Paling tidak, pengakuan sebagai yang terbaik sudah muncul dari Guinness World Records.
“Dubai memecahkan rekor dunia untuk display terbesar yang pernah pyrotechnics pada malam tahun baru dengan acara yang melibatkan hampir setengah juta kembang api,” kata pernyataan resmi Guinness World Records yang dirilis Rabu (1/1/14).
Sinkronisasi per milidetik
Dalam masa enam menit penyalaan pada 31 Desember 2013 malam itu, fitur luar biasa lebih dari 500.000 kembang api menerangi langit di depan ribuan penonton. Burj Khalifa, menara tertinggi di dunia dengan ketinggian 828 meter menjadi latar belakang yang menakjubkan untuk sebuah layar pertunjukan kembang api.

Begitu spektakulernya, kembang api tahun baru di atas langit kota termoderen di jazirah Arab itu khusus dirancang Grucci, perusahaan dari Amerika Serikat. Menggunakan 100 komputer dan 200 teknisi untuk menyinkronkan kembang api dengan biaya dilaporkan sekitar US$6 juta atau sekitar Rp72 miliar.
Kinerja 100 komputer diperlukan untuk menyinkronkan kembang api bersandingan dengan soundtrack musik yang disiapkan koreografer. Lebih dari 200 tenaga ahli bekerja dalam 5.000 jam kerja untuk memastikan waktu penyalaan kembang api tersebut wajib akurat hingga ke hitungan milidetik.
“Kerja keras 10 bulan perencanaan, lebih dari 500.000 kembang api yang digunakan selama tampilan yang berlangsung sekitar enam menit, maka tangan juri Guinness World Records mengkonfirmasi bahwa rekor baru telah ditetapkan,” kata situs web Guinness.
Kilauan kembang api Dubai memang luar biasa. Membentang lebih dari 100 kilometer (60 mil) dari Pantai Dubai, yang menawarkan sebuah kepulauan pulau buatan manusia dan Burj Khalifa, menara tertinggi di dunia.
Pejabat Uni Emirat Arab berharap piroteknik kembang api yang mereka gelar itu menempatkan mereka dalam Guinness World Record, mengalahkan rekor yang masih dipegang Kuwait hingga kini. Rekor tetangga dekat UEA itu Guinness World Records pada tahun 2011, dengan rentang penyalaan selama satu jam melalui pertunjukan epik 77.282 kembang api.
Bermandi kembang api
Pesta semarak kembang api dengan teknik tinggi di Burj Khalifa sebenarnya bukans atu-satunya di Dubai. Langit ibukota UEA itu sepanjang malam pergantian tahun 2014 bermandikan cahaya. Kemewahan Burj Khalifa dilengkapi pesta kembang api di Atlantis Hotel dan di Palm Jumeirah, salah satu dari tiga pulau bentukan manusia.

Selama ini, Dubai memang begitu membanggakan menara tertinggi di dunia Burj Khalifa, pulau buatan manusia terbesar Palm Jumeirah dan salah satu bandara tersibuk di dunia, Dubai International Airport.
Selama beberapa tahun terakhir, Dubai telah berlomba-lomba untuk menjadi ikon permanen di peta dunia dalam hal perayaan Tahun Baru. Upaya dimulai dengan mementaskan pertunjukan spektakuler sejak pembukaan menara Burj Khalifa berketinggian 828 meter (2.716 kaki) pada 2010.
Kota Teluk nan mewah itu telah menempatkan dirinya sebagai pusat global untuk transportasi udara dan transit perdagangan, serta pusat keuangan regional. November lalu, mengalahkan Brasil, Rusia dan Turki untuk memenangi hak menjadi tuan rumah Ekspo Perdagangan Dunia pada 2020.
Ekonomi Dubai terkena krisis keuangan global pada tahun 2009. Dampak nyata melanda sektor real estate yang meruntuhkan setengah nilainya setiap properti di kota itu. Namun, sejak itu pula, Dubai langsung comeback dengan kondisi yang jauh lebih kuat.
Kini, reputasi sebagai kota liberal di wilayah konservatif, Kota Teluk adalah rumah bagi populasi ekspatriat dari lebih dari 200 kebangsaan, kian membuat Dubai jauh meninggalkan status daerah berpengharapan terbaik di jazirah itu.(win10)