Paradigma Sebelum Kejadian

Oleh : Andi Arief, Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana

WIN: Sejak Tsunami Aceh 2004, Indonesia dan dunia dikejutkan dengan rentetan gempa besar dan merusak. 2005, 2006, 2007, 2009 periode teror gempa melanda Sumatera, selatan Jawa dan Jawa Barat (segmen Selat Sunda). Juga sambung menyambung geliat gunung api hampir 30 gunung dari 129 gunung api yang ada hingga kini.

Tiga tahun belakangan kembali muncul gempa dan tsunami:  Di tahun 2010 pada 12 Januari gempa porak porandakan Haiti dengan kekuatan 7 SR . 27 Februari di Chili (8,8 SR) korban ratusan karena Chile berbenah setelah gempa 9,4 SR tahun 1960. 25 Oktober giliran Pagai di selatan Mentawai digoyang gempa 7,4 SR, menewaskan ratusan orang.

Di Tahun 2011, Jepang membuka catatan gempa besar. Pada 11 Maret Sendai dihantam gembar berkekuatan 9,1 SR dengan korban 30 ribu orang meski mitigasi sudah disiapkan bertahun-tahun. Warga dunia menyaksikan siaran langsung bagaimana Tsunami menghantam pantai Sendai. Lalu di tanggal 4 April giliran Cilacap digoyang gempa dengan kekuatan 7,4 SR

Tahun 2012, pada 10 Januari Simeulue di Aceh kembali dihantam gempa berkekuatan 7,2 SR, lalu pada 11 April kembali dihantam gempa dengan kekuatan 8,5 dan 8,2 SR.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa sejak 1608 hingga 2010 setidaknya ada 218  kali Tsunami di Indonesia.

Namun siklus tsunami itu baru terjadi di segmen Aceh-Andaman  dan Siberut Mentawai  yang diketahui siklusnya melalui riset mendalam dan serius. Tak ada pilihan segmen lain. Kini adalah prioritas untuk mengetahu siklus segmen yang terbentang dari Selat Sunda sampai Papua.

Kalau tidak, maka mitigasi gempa tak akan menentu arahnya. Belum lagi sejumlah patahan darat baik yang sudah teridentifikasi maupun belum. Karena gempa adalah pengulangan, mencari data berbagai gempa-gempa tua/purba sehingga mendapatkan siklusnya adalah jawaban mencari sebuah hidup di alam penuh kepastian.

Jepang, negara yang sangat siap, masih tak dapat menghindarkan korban yang berjatuhan. Kita jangan pasrah dan menyerah, kesadaran pentingnya mitigasi sudah cukup meluas, namun selain segmen Aceh dan Mentawai yang siklusnya jelas terpetakan, kita masih meraba di berbagai tempat.

Dalam peristiwa letusan hebat Gunung Merapi 2010 jumlah korban tewas dapat diminimalisir karena persiapan matang di samping siklusnya cukup jelas.

Siberut Mentawai satu segmen yang menguji perhatian dan tak boleh sedikitpun lelah dan lengah dalam mensikapi potensi Megathrust. Ini bukan hanya persoalan warga Sumatera Barat saja, tapi menjadi pesoalan seluruh rakyat Indonesia dan dunia. Peresmian shelter mini di Padang adalah salah satu upaya dalam mitigasi jangka panjang.

Bantuan masyarakat/swasta/BUMN dan lain sebagainya sehingga tercipta shelter yang massal adalah sedikit jawaban untuk meminimalisir korban. Negara memang wajib melindungi warganya, namun bencana sangat khusus sifatnya. Semakin besar peran masyarakat, itulah kunci keberhasilan melindungi warga. Saatnya paradigma menolong sesama pasca bencana berubah menjadi paradigma sebelum kejadian (mitigasi). * (* setkab.go.id)

Komentar