Menanti inovasi SI

(WIN): PT Semen Indonesia (Persero) Tbk telah berusia 56 tahun. Diusianya yang lebih dari setengah abad, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut telah menorehkan beberapa capaian. Diantaranya dengan terus melebarkan sayap, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga sampai ke luar. Seperti sukses menguasai 70% saham pabrik semen Thang Long di Vietnam dengan dana investasi sekitar Rp1,5 triliun.

Kemudian dari total kapasitas produksi semen nasional yang mencapai 65, 6 juta ton pada 2013, 27,7 juta ton diantaranya dihasilkan oleh grup Semen Indonesia (SI). Yakni, Semen Gresik 14 juta ton, Semen Tonasa 7,3 juta ton dan Semen Padang 6,4 juta ton.

Sisanya, pruduksi semen nasional dihasilkan Indocement TP (20,5 juta ton), Holcim Indonesia (10,4 juta ton), Semen Bosowa (3,6 juta ton), Semen Andalan (1,6 juta ton), Semen Baturaja (1,3 juta ton), dan Semen Kupang 0,5 juta ton.

Untuk pangsa pasar dalam negeri, SI juga masih unggul dengan produsen semen lain di Tanah Air. Yakni, dari pemenuhan 59,3 juta ton semen sepanjang 2013, 43% diantaranya dilakukan oleh grup SI. Selanjutnya, 30,5% pangsa pasar domestik dikuasi Indocement TP dan sisanya oleh produsen-produsen semen lain.

Cukup membanggakan memang jika melihat data yang didapat dari PT SI tersebut. Sebagai BUMN, SI mampu menunjukkan eksistensinya. Paling tidak di negeri sendiri, sekalipun sudah banyak produsen semen swasta yang berdiri.

Hanya saja, capain yang ditorehkan SI serasa kurang membanggakan saat saya bertemu dengan seorang sahabat dalam sebuah obrolan di pinggir jalan. Bahkan, sahabat yang sudah lama berkecimpung di dunia kontraktor tersebut dengan entengnya melontarkan pernyataan bernada kritikan. "Semen Indonesia itu minim inovasi," ucap seorang sahabat tersebut.

Penasaran dengan apa yang disampaikan, saya pun mencoba menggali informasi lebih dalam. Sampai akhirnya orang tersebut bercerita sedikit seputar dunia `persemenan`, yang didasarkan pada pengalamannya selama menjadi kontraktor.

Pada dasarnya, semua semen itu sama. Baik yang diproduksi grup SI ataupun produsen lainnya. Seperti dari kekuatan, ketahanan dan sebagainya. Mungkin yang membedakan adalah kecepatan kering semen saat digunakan dalam proses pembangunan dan harga jual di pasaran. Jenis-jenis semen yang diproduksi grup SI pun juga mudah didapatkan dari produsen lain.

Malahan, menurut sahabat tersebut, saat ini inovasi grup SI sedikit tertinggal dengan produsen semen lainnya. Sebagai contohnya, belakangan ada produsen semen swasta di Indonesia yang mengeluarkan produk semen khusus acian plus plamir.

Penjelasannya, setiap pengerjaan bangunan gedung dan sejenisnya, proses finishing yang dilakukan adalah menggunakan acian semen untuk meratakan dan menghaluskan tembok atau dinding usai diplester. Setelah itu, tembok atau dinding diplamir atau cat dasar sebelum akhirnya dicat dengan warna yang diinginkan.

Namun dengan produk semen khusus acian plus plamir, seorang pekerja cukup melakukannya dalam satu kali jalan. Setelah mengaci, pekerja tak perlu lagi memberi cat dasar atau plamir sebelum akhirnya dicat sesuai warna yang diinginkan.

Tentu hal itu sangat membantu bagi para kontraktor. Disamping menghemat biaya pekerja, juga mengurangi belanja bahan karena tidak perlu lagi membeli plamir atau cat dasar. Bahkan bila dihitung, biaya yang dikeluarkan untuk acian semen konvensional dan acian semen plus plamir selisihnya bisa Rp4.000-Rp5.000 per meter persegi bangunan.

Produk inilah yang sampai sekarang belum dihasilkan oleh grup SI. Satu lagi jenis produk yang tidak bisa didapatkan dari grup SI adalah semen untuk memasang bata cetak atau bata ringan. Menurut keterangan sabahat, dirinya selalu memakai produk dari luar setiap kali mendapatkan pengerjaan dengan bata ringan. Yang jelas, produk itu bukan dari grup SI atau produsen semen swasta di Tanah Air.

Memasang bata ringan atau bata cetak berbeda dengan bata merah biasa. Dimana dalam prosesnya hanya memerlukan semen yang bisa melekatkan tanpa menggunakan campuran pasir, gamping dan sebagai. Begitu pula saat proses finishing harus menggunakan semen acian khusus. "Kalau menggunakan Semen Gresik (grup SI) atau lainnya tidak bisa lengket," terang sahabat.  

Itulah sedikit cerita dari seorang sahabat seputar dunia `persemenan`. Apa yang disampaikan ini bukan untuk mencari kelemahan atau membandingkan grup SI dengan prodsen semen swasta lainnya. Namun semata-mata berbagi cerita dan pengalaman yang mungkin bermanfat bagi grup SI sebagai BUMN dalam mempertahankan pangsa pasar, khususnya di Tanah Air.

Karena sangat tidak mungkin sebuah perusahaan dapat mempertahankan pangsa pasar hanya mengandalkan kuantitas produk, tanpa memperhatikan kualitas dan inovasi baru. Pastinya, setiap orang ke depannya lebih memilih menggunakan yang praktis.

Belum lagi dengan keterbatasan suber daya. Misalnya, saat ini masyarakat lebih banyak menggunakan bata merah ketimbang bata cetak atau bata ringan dalam proses pembangunan. Tapi sangat tidak menutup kemungkinan, dalam beberapa tahun ke depan bata cetak atau bata ringan lebih banyak digunakan. Mengingat tanah yang menjadi bahan dasar bata merah juga terbatas.(win6)

Komentar