Dwi Soetjipto, Mengubah konflik jadi kekuatan

(WIN): Judul berita ini adalah bagian dari judul buku yang ditulis sendiri oleh Dwi Soetjipto, Dirut PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Judul aslinya: “Road to Semen Indonesia Transformasi Korporasi Mengubah Konflik menjadi Kekuatan”. Buku ini adalah karya kesekian dari sejumlah buku yang pernah ditulis sendiri oleh pria berkacamata kelahiran Surabaya, 10 November 1955 ini.

Buku berbahasa Indonesia setebal 318 halaman yang diterbitkan oleh Kompas ini, pada 21 Februari 2014 dibahas tuntas (Bedah Buku) di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Tampil sebagai pembahas Bedah Buku antara lain: Muhammad Said Didu (mantan SesMen BUMN), Andi Unggul Attas (direktur PT Semen Tonasa), Marsuki (pengajar di Unhas), Muh Idrus Tabba (pengajar di Unhas), serta Idrus A Paturusi (Rektor Unhas).

Dwi Soetjipto yang lulusan Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) – Surabaya ini menulis buku  “Road to Semen Indonesia Transformasi Korporasi Mengubah Konflik menjadi Kekuatan” – dengan gaya alur bertutur, mengisahkan perjalanan pribadinya selama memimpin BUMN Semen Indonesia. Berbagai kisah konflik, tantangan memperbaiki kinerja perusahaan, menyatukan berbagai perbedaan, mengawal proses transformasi, hingga upaya pencapaian visi menuju BUMN yang  menjadi “world class engineering company” dibahas tuntas di buku tersebut.

Dwi di sela bedah buku di Unhas

Buku ini sarat dengan tulisan bernuansa knowledge serta strategic management, diselingi dengan data statistik, sehingga layak dijadikan bahan refrensi, dan karya ilmiah  yang bisa dipergunakan sebagai kajian – kajian terkait strategi manajemen perusahaan.

“Dalam buku ini, saya ingin mengajak pembaca untuk mencoba mengerti dan membayangkan seandainya pembaca menjadi salah satu manajemen di  Semen Indonesia,” kata suami dari Handini di sela-sela Bedah Buku.

Ayah empat putra (Aditiya Hadi Wicaksono, Wahyu Agung Pramudito, Dananto Adi Nugroho, Muhammad Baskoro Aji) ini mencoba mengajak pembaca untuk mengetahui perjalanan hidupnya memimpin sebuah perusahaan. Ia seolah memberi pesan tidak langsung, bahwa seorang pimpinan  tidak bisa hanya sekadar duduk di kursi nyaman dan hangat, namun harus berani menanggung risiko atas jabatan yang dipegang.

Kasus di Semen Padang yang bergejolak, menjadikan tantangan  bagi Dwi Soetjipto untuk mencoba berbagai macam strategi agar roda manajemen perusahaan bisa bergulir dan kembali berproduksi. Ia tak patah arang meski dicaci dan ditolak oleh Serikat Pekerja. Ia berjuang dari “tempat pengasingan” karena yakin langkahnya benar.  

membangun holding

Berhasil membalikkan kondisi perusahaan dari terpuruk menjadi untung di Semen Padang, mengantarkan “arek Suroboyo asli” ini ke tantangan lebih besar, memimpin Semen Gresik Grup.  Ia memulai menjalankan strategi transformasi.  Berbagai persoalan ia identifikasi: mulai dari  resistensi karyawan, konsolidasi operasional, corporate culture, dan persoalan-persoalan lain. Satu persatu persoalan diselesaikan  jajaran manajemen di bawahnya yang menghasilkan banyak keputusan strategis dan dapat menggerakkan roda produksi serta sinergitas holding Semen Indonesia.

“Saya coba mengajak pembaca juga bisa melakukan hal yang sama jika menghadapi tantangan saat duduk di kursi jabatan,” terang Dwi Sotjipto yang juga mantan Ketua Ikatan Alumni (IK) ITS ini.

Kunci sukses yang ingin ditekankan dalam buku itu adalah  sinergitas. Sinergi dengan tim yang dibentuk, serta sinergi dengan tim lain yang mendukung atau bekerja bersama-sama. Buku ini juga menyelipkan teori-teori manajemen yang biasa dipergunakan untuk melakukan analisa atau tindakan dalam  pengambilan keputusan. Analisa tersebut didukung dengan alur pengambilan keputusan dan data yang sangat akurat, sehingga pembaca serasa diajak untuk berpikir dan merenungkan langkah-langkah strategis dalam menjalankan roda manajemen.

Selain sinergi, Buku ini memberikan penekanan yang sangat penting pada  kata  inovasi. Dalam buku ini diulas sangat cermat dan cerdas, bagaimana dua kata tersebut (sinergi dan inovasi)  melakoni perjalanan Dwi Soetjipto baik dalam keseharian maupun keberlangsungan perusahaan. Beberapa kasus dan analisa strategis dilakukan berdasarkan dua kata tersebut, seakan-akan penulis mengajak pembaca untuk menyetujui bahwa perusahaan dapat berjalan dengan baik menggunakan kata sinergi dan inovasi. Dan penulis berhasil membuktikan sendiri dan mewujudkan hal tersebut : konflik menurun, produksi meningkat, dan angka finansial bergerak semakin positif.

Dwi saat bedah buku di Unhas

Dwi Soetjipto menjelaskan Inovasi dimunculkan parallel dengan sustainable dan continuously di perusahaan. “Secara logika perusahaan harus sustain dan continuos, maka resep untuk itu adalah inovasi, tanpa inovasi maka perusahaan hanya akan menjadi barang tua yang teronggok di tempat sampah.”

Salah satu implementasi inovasi adalah pembentukan Centre of Engineering (COE) dan Sekolah Tinggi Ilmu Management Semen Indonesia (STIMSI). Satu hal yang perlu dicatat dari inovasi adalah alat utama mendukung implementasi kebijakan perusahaan serta menjaga competitiveness perusahaan. 

Buku ini sangat tepat untuk jadi bahan kajian dalam melakukan sinergitas pembentukan holding company. Tidak hanya membuktikan bahwa perbedaan antar perusahaan dapat diselesaikan, namun juga menjadi satu langkah bersama dalam mewujudkan peningkatan produktivitas perusahaan.  

Disisi kinerja, Dwi bisa membawa Semen Indonesia terus mengalami peningkatan, terbukti dengan meningkatnya laba bersih perseroan naik signifikan hingga sembilan kali lipat dari Rp509 milliar di tahun 2004 menjadi Rp4,85 triliun tahun 2012, nilai Ebitda 2004 senilai Rp1,4 triliun meningkat menjadi Rp6,87 triliun di tahun 2012. Sedangkan pendapatan pada 2004 hanya Rp6,07 Triliun meningkat menjadi Rp19,60 Triliun.

Dari Gresik ke Indonesia

Buku ini bukan hanya bisa menjadi contoh cara menjalankan manajemen perusahaan yang “berat” menjadi “mulus”, tapi juga bisa menjadi inspiring mengenai strategi dan taktik menyelesaikan berbagai persoalan manajemen.(win5)

Komentar