Pemindai pun serasa ikut UN
Sofyan Cahyono, Wartawan WIN

WIN.com: Ujian Nasional (UN), bisa menjadi berkah bagi pegawai di lingkungan Perguruan Tinggi yang berperan sebagai pemindai Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN). Sebab, mereka mendapat tambahan rupiah dari setiap LJUN yang dipindai sebelum file dikirim ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk dikoreksi.
Namun, musim UN juga bisa menjadi derita tersendiri karena harus bekerja sampai dini hari dengan segala carut-marutnya. Seperti halnya pasca pelaksanaan UN di sekolah, soal dan LJUN dikumpulkan lagi di setiap rayon pemindai UN, sebelum akhirnya dikirim ke pusat dalam bentuk file.
Di Jawa Timur sendiri, pelaksana pemindai hasil UN terbagi dalam tiga rayon. Yakni, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan Intitut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya. Seperti apa duka para pemindai tersebut? Berikut laporan whatindonews.com saat menengok proses pemindaian LJUN di salah satu rayon.
Beragam persoalan muncul sejak awal dimulainya UN 2013. Yang paling santer diberitakan adalah keterlambatan pendistribusian soal di 11 provinsi yang berdampak pada mundurnya jadual pelaksanaan UN. Ini sebenarnya hanya secuil persoalan UN dengan menggunakan sistem baru. Masih banyak persoalan-persoalan lain yang tak terekspos.
Ternyata, pekerjaan petugas pemindaian tak kalah beratnya dengan anak didik peserta UN itu sendiri. Mereka harus bekerja ekstra keras dan hati-hati dalam menangani LJUN baru. Lembar soal dan LJUN harus dijadikan satu berkas.
"Persoalan yang umum terjadi adalah, sobekan antara soal dan LJUN yang dilakukan siswa saat membuka soal dan lembar naskah ujian, tidak rapi. Akibatnya, barcode di LJUN rusak, karena ikut tersobek. Karena jarak barcode LJUN sangat mepet dengan dengan batas tepi soal. Banyak yang seperti itu, padahal barcode itu penting untuk koreksi jawaban," kata salah satu petugas pemindai, sebut saja Dwi.
Kasus lainya, pada saat dikumpulkan lagi, barcode LJUN tidak sesuai dengan soal yang dikerjakan. Kemungkinan LJUN rusak saat disobek dan oleh pengawas UN diganti dengan LJUN lain. Bisa juga saat mengerjakan, siswa mencoba mengganti jawaban dengan menghapus, tetapi akhirnya membuat LJUN berlubang. Kemudian oleh guru pengawas diganti dengan LJUN lain.
Sebenarnya, menurut Dwi, langkah ceroboh itu tak boleh dilakukan, karena setiap soal yang menyatu dengan LJUN memiliki barcode berbeda. "Tidak seperti tahun lalu, setiap kelas barcodenya hanya ada empat. Sekarang tidak tahu berapa, karena setiap soal berbeda," terangnya.
Ada lagi dalam satu kelas di sebuah sekolahan, mengerjakan soal sama tapi dengan barcode LJUN yang berbeda. Jadi, satu soal difotokopi lalu dikerjakan bersama dalam satu kelas. "Ada juga kejadian itu. Satu kelas soalnya sama, fotokopi-an. Padahal setiap soal barcode-nya berbeda," cetusnya.
Bahkan ada pula beberapa siswa yang tidak mengerjakan soal di LJUN, tetapi justru mengerjakan di lembar soal dengan cara melingkari ataupun memberi tanda silang. "Yang begini ini kok ya dibiarkan sama gurunya. Mungkin gurunya sendiri juga tidak paham dengan sistem baru ini," paparnya.
Selain sejumlah kesalahan yang banyak dilakukan para peserta UN. Masih ada lagi kesalahan lain yang dilakukan guru atau pengawas UN. Diantaranya, tidak cermat dan salah saat memasukkan soal dan LJUN ke dalam amplop. Misalnya, soal Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dimasukkan dalam amplop pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan, ada satu kelas di satu sekolahan, semua soal dan LJUN-nya salah amplop.
Keteledoran lain dari guru atau pengawas UN adalah LJUN lengket antara satu dengan lainnya. Mungkin saja terkena lem yang digunakan saat merekatkan amplop. "Saya sendiri juga tidak tahu bagaimana hal seperti ini bisa terjadi, kok bisa salah memasukkan amplop," ujar Dwi.
Bila melihat banyaknya persoalan yang muncul selama pelaksanaan UN, maka tingkat kelulusan seorang siswa tak hanya dipengaruhi oleh faktor kemampuan. Namun, bisa juga akibat rumitnya sistem UN yang diterapkan.
LJUN kusut
Petugas pemindai di masing-masing rayon tak hanya bertugas memindai LJUN, menyimpannya dalam bentuk berkas elektronik (file) dan kemudian mengirimkannya ke Kemendikbud. Para petugas juga bertanggungjawab membenahi semua LJUN yang tidak sempurna atau rusak kondisinya agar bisa dipindai.
Banyak kasus terjadi, LJUN sampai di petugas koordinator pemindai masing-masing rayon dalam kondisi tak sempurna. Seperti barcode LJUN sobek, barcode antara soal dan LJUN tak sesuai, jawaban dikerjakan di lembar soal, LJUN kusut dan berbagai kondisi lainnya. LJUN yang tak sempurna ini tentu menghambat proses pemindaian, atau bahkan tak bisa di-scan sama sekali.
Meski sebenarnya bukan menjadi tanggungjawabnya, para petugas pemindai toh tidak membiarkan begitu saja. Mereka tetap berusaha membenahi agar semua LJUN bisa dipindai untuk selanjutnya dikirim ke Kemendikbud. "Intinya, semua harus bisa dipindai. Kalau terpaksa tak bisa dipindai, harus ada berita acaranya yang kemudian dilaporkan ke panitia pusat UN," ungkap Dwi.
Beberapa langkah dilakukan petugas pemindai diantaranya membenahi atau menyambung kembali barcode LJUN yang sobek. Caranya, potongan barcode yang menyatu dengan lembar soal, diambil dan disatukan lagi. Kemudian sambungan tersebut diisolasi bagian belakangnya. Atau bila perlu dirangkap dengan lembar soal atau kertas lainnya, selanjutnya baru di-scan. "Kasus barcode rusak inilah yang terbanyak. Jumlah pastinya tidak tahu, yang jelas sampai ribuan kasus," ucap Dwi lagi.
Teknik merangkap LJUN dengan kertas lain kadang diperlukan untuk mempermudah proses pemindaian. Sebab kualitas kertas LJUN pada tahun ini tergolong jelek. "Kertasnya tipis, mungkin tidak sampai 70 gram. Beda dengan LJUN tahun lalu, bahan kertasnya masih tebal," ujarnya memaparkan.
Dwi menilai, buruknya kualitas kertas LJUN membuat proses pemindaian pun harus dilakukan hati-hati. Sebab bila salah sedikit saja, LJUN bisa kusut atau bahkan sobek. Bila sudah demikian, LJUN sudah tak bisa lagi dipindai. "Yang lungset (kusut) pasti ada. Kemarin saja ada sembilan berkas yang tidak bisa dipindai. Itu baru kasus di satu sekolahan."
Barcode LJUN sobek hanya contoh kecil kasus yang harus ditangani para petugas pemindai. Masih banyak persoalan lain yang perlu ditangani, dan cara penanganannya berbeda-beda. Semakin parah kondisi atau kerusakan LJUN, maka pembenahannya pun semakin berat.
Adapun hasil UN yang perlu pembenahan ekstra adalah LJUN kusut, sobek, lembar LJUN berlubang dan siswa menuliskan jawaban di lembar soal. Kondisi yang demikian tetap ditangani petugas sampai bisa dipindai. Bila pekerjaan tambahan itu tidak dilakukan, LJUN tak bisa dikirim ke Kemendikbud. Akibatnya ya fatal. Hasil UN siswa tak akan keluar, sehingga terancam gagal dalam UN.
Benahi ribuan LUJN
Membenahi barcode sobek masih tergolong pekerjaan ringan bagi para petugas pemindai. Di luar itu, ada pekerjaan yang lebih berat lagi. Yakni, ketika mendapati LJUN kusut, LJUN tak sesuai dengan barcode soal, dan jawaban dikerjakan di lembar soal.
Untuk kasus seperti itu, petugas pemindai harus bekerja total memindahkan jawaban ke LJUN baru. Termasuk mengisi nama, nomor peserta dan identitas sekolahan. "Setiap rayon diberi LJUN khusus dari pusat, namanya LJUN multi fungsi. Ini yang digunakan kalau ada yang salah, dengan cara memindahkan satu persatu jawabannya," ungkap Dwi.
Proses pemindahannya pun tak boleh sembarangan. Harus disaksikan beberapa pihak, diantaranya dari Dinas Pendidikan setempat dan aparat kepolisian. Setelah proses pemindahan jawaban selesai, dibuatkan berita acara sebagai pengantar ke Kemendikbud.
Berapa banyak pemindahan ke LJUN baru?
Dwi tak bisa menyebutkan secara pasti. "Kemarin saja di Unair sudah ada 2.000 lembar yang dipindahkan. Itu baru satu rayon, belum yang lainnya. Rata-rata setiap rayon menangani sekitar 6.000 LJUN," tuturnya.
Satu lagi persoalan yang sulit ditangani adalah jika ada satu kelas dalam satu sekolahan yang menggunakan soal sama. Seperti satu lembar soal difotokopi kemudian digunakan bersama dalam satu kelas. "Kalau seperti ini yang susah, yang penting dan hanya bisa dilakukan adalah memindai kemudian mengirim ke pusat dan dibuatkan berita acara," cetusnya.
Dwi menilai, sistem UN tahun ini lebih rumit dari tahun sebelumnya walau sistemnya lebih bagus, karena dapat meminimalisir siswa untuk menyontek. Namun, nampaknya banyak yang tidak siap. Tak hanya dari pesertanya sendiri, tetapi juga dari kalangan guru dan pengawas UN.
Belum lagi carut-marut pencetakan dan pendistribusian soal. "Misalnya, mestinya soal untuk Kecamatan Gayungan, Surabaya, tapi dikirimnya ke Kec. Wonokromo, Surabaya. Meski masih satu kota, tapi itu sudah menyulitkan," paparnya.
Yang jelas, para petugas pemindai LJUN kembali harus siap bekerja ekstra sampai berakhirnya UN. Problem lebih berat mungkin kian menambah beban para petugas pemindai saat menangani hasil UN tingkat SMP. Pasti dengan persoalan yang sama.(win6)