Danau Limboto, satu diantara 15 danau terkritis
Permukaan tertutupi enceng gondok, mengalami pendangkalan sistematis

(WIN): Danau Limboto yang berlokasi di perbatasan Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo itu kini kondisinya sangat kritis.
Sejumlah pengamat lingkungan hidup sepakat untuk menetapkan sebagai salah satu dari 15 danau dengan kondisi terkiritis di Indonesia.
Serbuan eceng gondok yang dikenal sebagai tanaman gulma pengganggu air telah secara sistematis dalam rentang beberapa waktu ini menutupi sebagian besar permukaan danau. Laporan Kementerian PU menyebutkan danau Limboto semakin parah akibat pendangkalan, sehingga terancam kehilangan endimitas. Untuk itu mitigasi bencana danau menjadi persoalan penting yang harus diatasi, antara lain dengan revitalisasi.
Kepala Bidang Lingkungan Hidup, Balai Lingkungan Hidup Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, Rugaya Biki, menyatakan sedimentasi Danau Limboto sudah mengkhawatirkan, yakni mencapai sekitar 5.300 ton per tahun. Pendangkalan di danau itu mencapai 66 senti meter per tahun, sehingga kehilangan luas 66,7 hektar per tahun.
Pada 2012, Balai Wilayah Sungai Sulawesi II Gorontalo Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah melakukan revitalisi dengan pengerukan dan pengangkatan gulma, dan dilanjutkan pada 2013 ini.
”Tahun lalu BWS Sulawesi II Gorontalo telah melakukan revitalisasi dengan pengerukan dan pengangkatan gulma, serta normalisasi sungai Alopohu dengan dana Rp 80 milyar. Sedang tahun ini dengan dana yang hampir sama juga dilakukan pekerjaan lanjutan dan peningkatan tanggul sungai Alopuhu sepanjang 8 kilometer,” tutur Kepala BWS Sulawesi II Gorontalo Ruhban Ruzziyatno akhir pekan lalu.
Ruhban mengatakan bahwa hasilnya cukup menggembirakan, permukaan danau semakin terbuka, kedalamannya bertambah, dan endapannya kian berkurang. Upaya lain yang dilakukan Balai di kawasan DAS hulu adalah membuat arboretum dengan penanaman pohon pelindung resapan.
Ruhban, menambahkan setiap danau memiliki karakteristik berbeda sehingga memerlukan penanganan yang berbeda pula. Karenanya kajian-kajian untuk mengungkap struktur dan fungsi ekosistem perairan darat ini sangat dibutuhkan untuk memahami dan menjaga kesetimbangan ekologis yang mengalami tekanan semakin tinggi.
Selanjutnya dia mengungkapkan, usaha revitasasi dan mitigasi bencana menjadi kebutuhan, demikian juga masyarakat yang rentan terkena risiko bencana tersebut juga harus disiapkan.
”Bagaimana pun kondisinya Danau Limboto perlu diselamatkan,” tegas Ruhban.
Alasannya, pengelolaan perairan danau yang tak berkelanjutan terkait nyata dengan berbagai persoalan lain, seperti bencana kematian massal ikan, pencemaran, banjir, dan kekeringan yang memicu konflik masyarakat.
Rubhan menjelaskan, perlu kearifan dan landasan kajian-kajian ilmiah secara komprehenshif, termasuk di dalamnya mitigasi bencana dan peran serta masyarakat dalam menjaga pelestarian perairan danau.
Rugaya Biki menjelaskan bahwa pada 1930, kedalaman danau mencapai 15 meter, dengan luas 8.000 hektar. Kini kedalaman danau menyisakan 2-2,5 meter saja, yaitu di saat musim kemarau dan 400 Ha di saat musim hujan pada ketinggian 4,8 meter dpl. “Hampir dua pertiga permukaan danau tertutup oleh serbuan eceng gondok juga menjadi persoalan tersendiri,” tegas Rugaya
Kondisi ini apabila terus dibiarkan, danau yang saat ini luasnya tinggal seluas 2.500 hektar itu diperkirakan dalam kurun waktu 10-15 tahun ke depan akan lenyap. Ini berarti lonceng kematian bagi Danau Limboto.
Sementara penanganan yang dilakukan selama ini terkesan lamban pula. Eceng gondok dan tanah endapan di dasar danau masih terbengkelai, belum dimanfaatkan secara maksimal.
Danau Limboto menyimpan potensi besar, yaitu selain hasil ikan, sumber daya airnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti retensi banjir, irigasi pertanian, air minum, dan pariwisata. Sedang eceng gondok bisa dipakai untuk pupuk organik, pakan ternak, dan bahan kerajinan anyaman. Endapan lumpurnya dapat dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata. Hal itu pernah dilakukan pemda Gorontalo, namun mandek karena kesulitan pemasaran dan dana operasional. Sementara jumlah eceng gondok terus meningkat - diperkirakan mencapai 1 juta meter kubik.
Sementara itu Kementerian PU telah merilis 15 danau di Indonesia yang kondisinya dalam keadaan kritis secara lingkungan hidup yang perlu mendapat penanganan. Salah satunya danau Limboto.Diketahui bahwa danau Limboto.
Danau-danau itu adalah Danau Toba (Sumatera Utara), Danau Singkarak dan Danau Maninjau (Sumatera Barat), Danau Kerinci (Jambi), Rawa Danau (Banten), Danau Rawa Pening (Jawa Tengah), Danau Batur (Bali), Danau Tempe dan Danau Matano (Sulawesi Selatan), Danau Poso (Sulawesi Tengah), Danau Tondano (Sulawesi Utara), Danau Limboto (Gorontalo).
Danau lainnya yang mengalami kondisi kritis secara lingkungan yaitu Danau Sentarum (Kalimantan Barat), Danau Cascade Mahakam-Semayang-Melintang-Jempang (Kalimantan Timur), serta Danau Sentani (Papua). (win7)