Bank Desa berhasil mandirikan perempuan Malawi

(WIN): Sebuah lembaga
swadaya masyarakat (LSM) di Malawi yang fokus pada pemberdayaan perempuan,
Center for Alternatives for Victimized Women and Children, telah bekerja untuk
membantu perempuan miskin, janda dan teraniaya untuk menjadi mandiri secara
ekonomi melalui program simpan pinjam di level pedesaan.
Laporan terbaru Voice of America yang dikutip
Whatindonews.com pada Jumat (10/5/13) menyebutkan pihak LSM berkeyakinan bila inisiatif
perbankan desa memungkinkan warga Malawi khususnya kalangan wanitantya lebih
mandiri secara ekonomi lewat program simpan pinjam.
Menurut pihak LSM tersebut, inisiatif yang dikenal dengan
perbankan desa itu telah mendorong para perempuan membentuk kelompok
beranggotakan antara 15 dan 25 orang untuk mengumpulkan sejumlah uang tiap
minggu untuk membeli saham.
"Kami mendorong setiap anggota dalam kelompok untuk
meminjam uang [untuk memulai usaha pilihannya]. Tidak perlu ada jaminan karena
mereka saling mengenal dan kami bahkan tidak memberlakukan bunga," jelas
Hlazulani Malumbo Ziba, fasilitator LSM di distrik Chiradzulu bagian selatan, salah
satu lokasi pelaksanaan proyek sebagimana dilaporkan reporter VOA Lameck Masani.
"Mereka memutuskan sendiri jenis persentase bunga yang
harus dibayar tiap anggota setelah meminjam uang," ujarnya.
Ziba mengatakan bunga yang dibayar kemudian ditambahkan ke
jumlah uang yang diterima masing-masing anggota saat pembagian uang, yang
disimpan sepanjang tahun.
"Kami mengatakan bahwa bunga harus dimiliki setiap
anggota yang meminjam karena kami ingin mereka berpartisipasi dalam meminjam,
karena lewat pinjaman itulah jumlah uang akan meningkat pada akhirnya,"
ujarnya.
Lebih Jauh Ziba
menerangkan, lebih dari 5.000 perempuan dari 81 desa telah mendapat manfaat
dari program yang dimulai 2010 ini.
Eunice Victory adalah koordinator proyek simpan pinjam di
daerah sekitar desa Chingoli.
Victory yang merupakan janda beranak dua itu, mengatakan dirinya
bergabung dengan program tersebut pada 2011 karena hidup dalam kemiskinan
setelah ditinggal mati suaminya, dan tidak dapat membayar uang sekolah
anak-anak.
"Hari pertama saya bergabung dengan kelompok ini saya
meminjam sekitar MK10.000 [setara US$26] yang saya gunakan untuk memulai usaha
menjual gorengan karena awalnya saya tidak memiliki aktivitas," jelasnya.
"Sekarang, saya dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup
saya, dan bisa membangun rumah."
Eunice Victory juga mengatakan lewat program ini dirinya dapat
membayar uang sekolah kedua putrinya, salah satunya sedang kuliah kedokteran.
Maxwell Kaliati, manajer program untuk kantor pusat di
Blantyre mengatakan, salah satu tantangan adalah menyimpan uang dengan aman,
terutama sejak dikumpulkan, karena tidak disimpan di bank-bank komersial.
"Meski demikian, kami mendorong orang-orang bahwa saat
mereka menyimpan, mereka sebaiknya segera meminjam. Ada ketakutan uang itu
dicuri. Meski kami belum melihat ada kasus perampokan, namun itu merupakan
tantangan," ujar Kaliati.
Kaliati menambahkan bahwa untuk mengatasi kendala-kendala
yang ada, mereka bertemu dengan polisi dari daerah sekitar untuk menjalin
hubungan dan menghindari pencuri. (win7)