Al Ustad Uje, selalu dikenang

WIN.com: Rasa duka yang mendalam atas wafatnya Al Ustad Jefri Al Buchori akibat kecelakaan tunggal motor pada Jumat, 26 April 2013 silam telah ditayangkan dari berbagai sudut berita oleh media massa khususnya televisi. Hampir tiga pekan media masih ramai memberitakan, sementara publik masih tertegun karena kesedihan yang mendalam.
Hampir setiap sisi kehidupan Uje semasa hidup sudah dikupas tuntas oleh media, dan semuanya mengkonfirmasikan bahwa ustad muda yang meninggal genap di usia 40 tahun itu adalah orang yang ikhlas, berkepribadian baik, santun, sholeh, dan menyejukkan bagi siapa saja yang ada di dekatnya, atau memirsa ceramahnya. Tapi masih saja ada sisi menarik lain untuk diperbincangkan dan ditauladani oleh seluruh umat manusia.
Bukan hanya masyarakat Indonesia yang bersedih, tapi ada juga dari beberapa negara mayorits muslim yang juga merasa kehilangan. Jutaan orang meneteskan air mata. Makam Al Ustad tidak pernah sepi, sampai-sampai Gubernur DKI, Joko Widodo, sempat terbersit ingin menjadikan makam itu sebagai salah satu cagar budaya yang perawatannya bisa dilakukan secara khusus oleh Pemda DKI.
Kini, masyarakat masih bisa mengikuti sisi lain kehidupan Ustad Uje, baik semasa hidup, atau saat-saat menjelang kepergiaannya. Penggambaran ini disampaikan sendiri oleh Ibu kandung Al Ustad, yakni Umi Tatu Mulyana melalui sebuah buka yang digarapnya bersama salah satu penerbit di tengah-tengah kesedihannya.
Buku setebal 118 halaman itu diberi judul sederhana, yakni “Untukmu Uje” dan digarap selama tiga hari oleh Umi Tatu Mulyana, sebagai bentuk ekspresi kasih sayang sang Ibu kepada puteranya. Meski isi buku diakui belum terlalu sempurna, namun banyak sekali sisi menarik yang dikisahkan, khususnya hubungan sang putera dengan Ibundanya.
“Uje itu suka manja kalau ketemu saya. Dua hari sebelum meninggal, beliau memeluk saya dan memegang pipi saya. Dia bilang, Umi, apakah airmata Umi masih banyak? Uje minta air mata Umi ya. Saya baru sadar apa arti kata itu setelah beliau meninggalkan saya untuk selama-lamanya,” kata Tatu Mulyana sambil meneteskan airmata kesedihan, di Jakarta, Sabtu (11/5/13).
Potongan-potongan cerita seperti itulah yang banyak diungkap oleh Umi Tatu melalui buku “Untukmu Uje”. Umi Tatu berjanji akan menulis lagi buku tentang Al Ustad Uje dari jejak rekam Umi Tatu sendiri sebagai ibu kandungnya.
Melalui buku-buku itu, nantinya, kita bisa jadikan Al Ustad Uje sebagai uswatun hasanah (sari tauladan), betapa sosok Al Ustad yang sudah tersohor namanya sebagai figur publik masih sangat sayang, hormat, tawadhu, dan sangat cinta terhadap ibu kandungnya.
Selamat jalan Uje...sang tauladan...(win5)