Teroris & Kenaikan BBM

WIN.com: 12 Oktober 2002, peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia terjadi. Dua bom meledak di Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian Kuta Bali, yang menewaskan 202 orang dan menimbulkan 209 korban luka-luka. Sekalipun sebagian besar korbannya wisatawan asing, insiden di Pulau Dewata tersebut cukup mencoreng nama Indonesia di mata dunia Internasional.
Pasca ledakan, aparat kepolisian pun langsung membentuk tim khusus untuk memburu para pelaku. Polri tidak sendiri, melainkan dibantu kepolisian luar negeri. Sampai akhirnya tim pemburu menangkap beberapa tersangka ditempat berbeda. Diantaranya yang dikenal sebagai trio Bom Bali I, yakni, Amrozi, Ali Gufron dan Imam Samudera.
Setelah divonis bersalah dan menjalani hukuman beberapa tahun, ketiganya lantas dieksekusi mati. Tepatnya pada 9 November 2008, di kawasan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah sekitar pukul 05.00 WIB.
Tragedi Bom Bali seakan menjadi tonggak kebangkitan teroris di Indonesia. Pasca tragedi itu, serangkaian peristiwa terorisme terus terjadi, dan isu-isu seputar terorisme kerap menghiasai pemberitaan disejumlah media massa. Mulai dari penangkapan terduga teroris, pengungkapan jaringan teroris dan sebagainya.
Satu hal yang tak bisa dipungkiri, aksi terorisme selalu identik dengan Islam. Contohnya saja, trio terpidana mati Bom Bali yang notabene lulusan pondok pesantren, dan mereka melakukan aksi terorisme dengan dalih menegakkan syariat Islam.
Bahkan dalam buku yang ditulis salah satu terpidana Bom Bali I jelas disebutkan, latar belakang melakukan penyerangan kepada warga asing, khususnya asal Amerika dan sekutunya karena rasa sakit hati atau dendam. Saat masih menjadi relawan di Afganistan, mereka mendapati pembantaian wanita dan anak-anak yang dilakukan tentara Amerika Serikat dan sekutunya.
Kenapa warga sipil Amerika ikut menjadi sasaran ? dalam buku juga disebutkan, setiap warga Amerika Serikat wajib militer. Sehingga mereka pantas menerima balasan sekalipun sudah menjadi warga sipil, dan dimana pun tempatnya.
Buku tulisan terpidana Bom Bali I sempat beredar bebas di masyarakat. Namun akhirnya ditarik dari peredaran sekitar tahun 2005. Para tokoh beranggapan, buku-buku tersebut bisa meracuni pembaca dengan pikiran yang menyesatkan.
Memang, kondisi Indonesia sudah berbeda dengan Afganistan maupun negara-negara konflik lainnya. Untuk menegakkan syariat Islam pun tak bisa hanya didasarkan pada rasa sakit hati, seperti yang dilakukan trio terpidana Bom Bali.
Justru aksi terorisme dengan dalih menegakkan syariat Islam, bisa merusak citra Islam itu sendiri. Lebih luas lagi, merusak citra Indonesia di mata dunia. Jadi, apapun alasannya yang dilakukan trio Bom Bali I tidak bisa dibenarkan.
Trio terpidana Bom Bali hanya secuil jaringan terduga teroris di Indonesia. Berdasarkan penelusuran aparat kepolisian diketahui, masih ada jaringan di atasnya yang dianggap lebih berbahaya. Dua nama disebut-sebut menjadi otak peledakan Bom Bali I, yakni, Dr Azahari bin Husin dan Noordin Mohammed Top. Keduanya pun ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO), dan paling dicari di Indonesia dan Malaysia.
Sepak terjang kedua terduga otak Bom Bali pun akhirnya dihentikan polisi. pelarian Dr Azahari berakhir dalam sebuah drama penggerebekan di Batu pada 9 November 2005. Berita yang tersiar, Insiyur asal Malaysia tersebut terpaksa ditembak mati karena berusaha melawan saat digerebek. Sedangkan Noordin M Top ditembak mati dalam penggerebekan di Jebres, Surakarta pada 17 September 2009.
Sejak terjadinya Bom Bali I dan selama perburuan jaringan pelaku lainnya, serentetan peristiwa terorisme terus terjadi di Tanah Air. Seakan, isu teroris sudah menjadi isu tahunan. Baik dalam bentuk aksi peledakan sampai upaya penangkapan terduga teroris oleh aparat kepolisian.
Dari serentetan aksi teroris di Indonesia, mungkin ada satu hal yang luput dari perhatian publik. Teroris di Indonesia tak hanya identik dengan pesantren atau Islam. Akan tetapi juga lekat dengan isu atau kasus besar di Indonesia. Setiap kali ada isu atau kasus besar yang muncul, hampir bisa dipastikan isu teroris ikut menyeruak.
Sebagai contohnya, isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Sepanjang hampir dua periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sudah tiga kali terjadi kenaikan BBM dan sekarang kembali ada rencana kenaikan harga. Sebelum atau sesudah kenaikan BBM itulah, peristiwa terorisme ikut muncul.
Entah sengaja atau tidak, entah sebuah kebetulan atau tidak, entah bertujuan merusak citra sejumlah kalangan atau tidak, atau apa istilahnya, yang jelas munculnya isu teroris cukup untuk mengalihkan perhatian publik atas isu kenaikan BBM itu sendiri. Pasalnya, hampir semua media massa mem-blow up pemberitaan tentang teroris. Sedangkan isu kenaikan BBM yang menyangkut hajat hidup orang banyak, mendapat porsi kecil atau bahkan tidak diberitakan sama sekali.
Seiring dengan bertambahnya waktu, sasaran para terduga teroris pun juga berubah. Tak lagi kepada warga Amerika dan sekutunya. Melainkan juga menyasar pemerintah dan obyek-obyek vital. Beralihnya sasaran teroris ini pernah disampaikan langsung pemerintah dan aparat kepolisian, dengan dalih merasa tidak puas dengan pemerintah dan terlalu condong ke Amerika. Entah benar atau tidak, yang jelas semangat jaringan teroris sekarang sudah berbeda dengan trio Bom Bali I.
Berikut sedikit catatan peristiwa terorisme atau isu terorisme yang muncul bersamaan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM.
2005Pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikan BBM sebanyak dua kali. Pertama, 1 Maret 2005, menaikkan harga bensin premium dari Rp1.810 menjadi Rp2.400, solar dari Rp1.650 menjadi Rp2.100, dan minyak tanah dari Rp1.800 menjadi Rp2.200. Kemudian yang kedua, 1 Oktober 2005, menaikkan harga bensin premium dari Rp2.400 menjadi Rp4.500, solar dari Rp2.100 menjadi Rp4.300, dan minyak tanah turun dari Rp2.200 menjadi Rp2.000.
Di tahun terjadinya kenaikan BBM sebanyak dua kali itu, banyak sekali isu dan peristiwa terorisme yang terjadi. Bahkan pada awal 2005, SBY dalam pidatonya sempat menyampaikan, aksi terorisme masih tetap menjadi ancaman bagi Indonesia. Terbukti, serentetan isu dan peristiwa terorisme mengiringi kenaikan BBM di tahun 2005.
Diantaranya, 3 Maret 2005, Abu Bakar Ba’azyir divonis 2 tahun 6 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena dianggap terbukti melakukan tindak pidana terkait kasus peledakan bom Bali pada 12 Oktober 2002.
Peristiwa lainnya, dua bom meledak di Ambon, Maluku yang melukai 19 orang pada 21 Maret 2005. Lalu, dua ledakan bom mengguncang Pasar Sentral Tentena, Poso, Sulawesi Tengah yang menewaskan 20 orang pada 28 Mei 2005. Sebuah bom meledak di teras bekas Kantor DPC PDIP Poso pada 28 Juni 2005.
Kemudian 2 Juli 2005, polisi menahan 24 orang yang diduga terlibat dalam Bom Bali 2002. Bom kembali menguncang Pulau Dewata, di Pantai Kuta dan Jimbaran pada 1 Oktober 2005, bertepatan dengan naikknya harga BBM di tahun 2005. Insiden ini menewaskan 23 orang dan menimbulkan 196 korban luka-luka. Lalu, 9 November 2005, Polri menyergap dan menembak mati Dr Azahari di sebuah vila di Kota Batu.
2008Pemerintah kembali menaikkan BBM pada 24 Mei 2008. Yakni, bensin premium naik dari Rp4.500 menjadi Rp6.000, solar naik dari Rp4.300 menjadi Rp5.500, dan minyak tanah naik dari Rp2.000 menjadi Rp2.500. Namun di tahun yang sama, pemerintah lantas mengeluarkan kebijakan menurunkan harga BBM sebanyak dua kali.
Bagaimana dengan isu dan peristiwa terorisme ? Sepanjang 2006-2008, Indonesia cenderung aman dari peristiwa terorisme. Hampir tidak ada kasus peledakan yang mengarah pada terduga teroris. Namun tidak dengan isu terorisme, yang tetap mencuat pada kurun waktu tersebut, khususnya pada tahun 2008.
Adapun diantaranya, awal Maret 2008, isu teroris kembali mencuat dengan kabar kaburnya seorang terduga teroris di Singapura bernama Mas Slamet Kastari. Sedikit janggal memang, dalam kondisi pincang, Kastari berhasil kabur dari penjara di Singapura yang notabene penjagaannya ketat. Tapi yang jelas, kabar kaburnya Kastari sempat membuat aparat kepolisian “siaga”. Karena rumornya, Kastari berupaya menuju Indonesia. Kabar kaburnya Kastari ini sempat menghiasai pemberitaan media massa di Tanah Air
Isu teroris semakin menghangat dengan kabar dari Filipina yang menyatakan dua terduga teroris, Dul Matin dan Umar Patek ternyata masih hidup. Padahal sebelumnya, keduanya sudah dinyatakan meninggal dunia.
Isu Dul Matin dan Umar Patek muncul bersamaan dengan kedatangan Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat, Robert Gates ke Indonesia, usai menghadiri forum konsultatif para menteri luar negeri dan menteri pertahanan Australia-AS (AUSMIN) di Australia. Adapun pertemuan tersebut diantaranya membicarakan keinginan untuk memperdalam keterlibatan Australia-AS secara luas dengan Indonesia, juga meningkatkan kesejahteraan dan kontra terorisme.
Selanjutnya pada awal Mei 2008 jelang naikkan harga BBM, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta digemparkan oleh sms yang dikirim dari seoarang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang bernama Hargobind P Tahilramani. Dalam pesan singkatnya, Hargobind mengancam akan meledakkan Pentagon dan Kedutaan Besar Amerikan Serikat di Jakarta. Ancaman ini langsung direspon tim Densus 88, dengan menangkap Hargobind.
Berbagai isu terorisme terus berlangsung sampai penghujung tahun 2008. Kabar yang tak kalah menariknya adalah eksekusi mati trio Bom Bali 2002, yakni, Ali Gufron, dan Imam Samudera di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah pada 9 November 2008
Sekalipun bukan peristiwa, isu-isu terorisme ini cukup menyita perhatian publik secara luas. Pasalnya, kalangan media terus-terusan memberitakan dan tak sedikit yang menjadikannya sebagai berita utama. Masyarakat pun seakan larut dalam berita yang disajikan.
2013Dengan berdalih ingin menyelamatkan keuangan negara, pemerintah berniat mengurangi subsidi BBM. Konsekuensinya, harga BBM pun kembali naik. Hanya saja, kini pemerintah menerapkan standar harga ganda. Yakni, menjual BBM dengan harga lama untuk roda dua dan kendaraan umum, dan harga BBM lebih tinggi untuk kendaraan pribadi, khususnya mobil.
Seperti sebelumnya, isu dan peristiwa terorisme seakan mengiringi kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Tahun ini, kasus teroris diawali dengan operasi tim Densus 88 dibeberapa tempat. Diantaranya di Bandung, Ciputat, Kebumen dan Kendal. Dari operasi yang digelar, Densus 88 setidaknya sudah menangkap 20 terduga teroris. Dimana, tujuh terduga yang berhasil ditangkap dalam keadaan tewas.
Demikian isu dan peristiwa terorisme di Tanah Air yang mencuatnya hampir bersamaan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Sebenarnya, bukan hanya kasus teroris dan kenaikan BBM yang sekaan beriringan. Jika diperhatikan, setiap kali terjadi peristiwa besar yang dapat mematik reaksi keras dari masyarakat, baik sifatnya kebijakan publik maupun kasus yang menyangkut pemangku jabatan, hampir bisa dipastikan akan muncul kasus lain yang menyita perhatian publik.
Entah sebuah kebetulan atau sengaja dimunculkan untuk “menutupi” kasus atau kebijakan sebelumnya, yang jelas peristiwa seperti ini cukup untuk mengalihkan atau memecah konsentrasi masyarakat.(win6)