Semen Indonesia, “dipersulit” di negeri sendiri
PROFIL KORPORASI

KANALSATU – Judul tulisan ini sangat tepat untuk menggambarkan betapa PT Semen Indonesia Tbk (SMI) – sebagai industri semen nasional milik negara-, kesulitan untuk menggembangkan kapasitas produksinya di dalam negerinya sendiri – ketika pasar semen di dalam negeri terus meningkat.
Sudah dua daerah yang dicoba oleh BUMN berpusat di Kota Gresik, Jatim ini untuk didirikan pabrik semen, yakni di kabupaten Pati dan kabupaten Rembang. Keduanya provinsi Jateng. Padahal semua tahapan legal-formal sudah dilalui oleh holding semen ini. Namun aksi penolakan ada saja. Anehnya, aksi dan dorongan penolakan itu justru banyak dari luar daerah lokasi pabrik yang akan dibangun.

Dari latar-belakakang seperti inilah kemudian holding SMI – memilih investasi ke luar negeri. Diantaranya membeli 70% saham Thang Long Cement – perusahaan semen milik pemerintah Vietnam senilai sekitar Rp1,5 triliun. Selain itu juga berancang-ancang untuk investasi sejenis di Myanmar. Semua proses investasi di negeri seberang itu justru lancar, bahkan pemerintahnya sangat mendukung.
Anehnya, investasi di negeri sendiri justru “dipersulit”. Kini holding SMI agak serius investasi di kabupaten Rembang. Namun demo penolakan terus bermunculan. Padahal dari aspek apapun – keberadaan industri semen di daerah itu akan berdampak positif bagi perekonomian daerah – khususnya bagi masyarakat sekitar lokasi. Namun gelombang demo penolakan diduga justru berasal dari orang-orang di luar daerah rencana pendirian pabrik. Entah apa motif-nya.
Bahkan ada media cetak papan atas nasional yang secara terus – menerus melakukan pemberitaan tak lazim. Baik dari aspek porsi kerapnya pemberitaan, maupun space halaman yang seolah “diobral” untuk “berita negatif” tentang rencana pendirian pabrik semen ini.
Bombardir berita-berita dari media besar inilah yang kemudian diduga “menyandera” para pengambil kebijakan untuk “menahan diri” mendukung berdirinya pabrik. Padahal tak ada alasan apapun pendirian pabrik semen ini untuk tidak didukung. Intensitas beritanya tak lazim. Padahal korporasi sudah mencoba menjelaskan duduk-persoalannya. Namun tetap saja “serangan” terhadap rencana investasi di negeri sendiri oleh perusahaan milik negeri ini tetap saja mengalir seolah menjadi sandera.

Maka itu wajar jika kemudian penduduk setempat, tempat lokasi pabrik akan dibangun, menunjukkan kemarahan. Pada Kamis (25/9/14) siang lalu, gelombang massa yang berasal dari 5 desa di Kecamatan Gunem dan Bulu, Kabupaten Rembang, melakukan aksi dukungan - berupa demo - terhadap berdirinya pabrik semen di daerahnya. Karena keberadaan industri itu diyakini akan membawa dampak perkembangan ekonomi bagi daerah maupun kepada masyarakat sekitar pabrik secara langsung.
Suharti, salah satu peserta demo, mengatakan sejatinya mayoritas warga di Desa Kajar, Pasucen, Tegaldowo, Timbangan (Kec Gunem) dan Desa Kadiwono (Kec. Bulu) sangat mendukung pendirian pabrik semen. Suharti yang berasal dari kec. Gunem itu menegaskan bahwa dari sekitar 4000 warga Desa Tegaldowo, hanya sekitar 180 orang yang tidak setuju berdirinya pabrik semen. Sedangkan mayoritas warga justru berharap pabrik semen segera dibangun.
Menurut Suharti, kalaupun tidak ada industri semen, praktek penambangan bebatuan kapur di kawasan itu toh sudah berlangsung sejak lama – yang justru secara sporadis bisa merusak lingkungan – karena aktivitasnya dilakukan secara apa adanya- tanpa ada perencanaan, pengelolaan dan perbaikan lingkungan.
"Keberadaan pabrik semen yang akan dibangun sudah dipastikan tidak mengganggu lahan pertanian warga. Tapi hanya memanfaatkan lahan batu kapur yang tandus. Toh penambangan batu kapur itu sudah berlangsung sejak lama. Kenapa tidak sekalian pabrik saja yang menambang, karena bakal ada jaminan pengelolaan lingkungan dan bina lingkungan bersama-sama warga,” ungkapnya.
Inilah nasib industri dalam negeri di halaman negeri sendiri. Padahal ekspansi pasar harus dilakukan oleh holding SMI baik pasar ekspor maupun pasar dalam negeri. Terlebih menghadapi diberlakukannya Asean Economic Community (MEA) pada 2015 yang nota-bene 65% pasar MEA adalah Indonesia (karena penduduk Indonesia sangat besar dibanding 10 negara peserta MEA lainnya). Ceruk pasar semen dalam negeri yang besar, pada 2015 pasti akan diserbu oleh industri semen regional – seperti Siam Cement – Thailad, dll.
Holding SMIHolding SMI cikal-bakalnya adalah pabrik semen Gresik, yang diresmikan di Gresik pada 7 Agustus1957 oleh Presiden RI Soekarno- dengan kapasitas terpasang 250.000 ton per tahun, dan di tahun 2013 kapasitas terpasang sudah mencapai 30 juta ton/tahun.
Pada tanggal 8 Juli 1991 saham Perseroan tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa EfekSurabaya (kini menjadi Bursa Efek Indonesia) serta merupakan BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat. Komposisi pemegang saham pada saat itu: Negara RI 73% dan masyarakat 27%.

Pada bulan September 1995, Perseroan melakukan Penawaran Umum Terbatas I (Right Issue I), yang mengubah komposisi kepemilikan saham menjadi Negara RI 65% dan masyarakat 35%. Pada tanggal 15 September 1995 PT Semen Gresik berkonsolidasi dengan PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa.Total kapasitas terpasang Perseroan saat itu sebesar 8,5 juta ton semen per tahun.
Pada tanggal 17 September 1998, Negara RI melepas kepemilikan sahamnya di Perseroan sebesar 14% melalui penawaran terbuka yang dimenangkan oleh Cemex S. A. de C. V., perusahaan semen global yang berpusat di Meksiko. Komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara RI 51%, masyarakat 35%, dan Cemex 14%. Kemudian tanggal 30 September 1999 komposisi kepemilikan saham berubah menjadi: Pemerintah Republik Indonesia 51,0%, masyarakat 23,4% dan Cemex 25,5%.

Pada tanggal 27 Juli 2006 terjadi transaksi penjualan saham Cemex Asia Holdings Ltd. Kepada Blue Valley Holdings PTE Ltd. sehingga komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara RI 51,0% Blue Valley Holdings PTE Ltd. 24,9%, dan masyarakat 24,0%. Pada akhir Maret 2010, Blue Valley Holdings PTELtd, menjual seluruh sahamnya melalui private placement, sehingga komposisi pemegang saham Perseroan berubah menjadi Pemerintah 51,0% dan publik 48,9%.
Tanggal 18 Desember 2012 Perseroan melakukan akuisisi 70% saham Thang Long Cement, perusahaan semen terkemuka Vietnam yang memiliki kapasitas produksi 2,3 juta ton/tahun. Akuisisi Thang Long Cement Company ini sekaligus menjadikan Perseroan sebagai BUMN pertama yang berstatus multi national corporation. Sekaligus mengukuhkan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas (posisi 2013) sebesar 30 juta ton per tahun. Terus melakukan penguatan korporasi, diantaranya: 1. Menyelesaikan pembangunan unit pabrik semen. 2. Menjadi Strategic Holding Company dan merubah nama menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
Transformasi Perseroan sebagai upaya meningkatkan kinerja, setelah penerapan Functional Holding melalui sinergi dari masing-masing kompetensi perusahaan baik dibidang operasional, maupun dibidang pemasaran. Perseroan meningkatkan kualitas pengelolaan organisasi dan melakukan komunikasi yang lebih intensif dengan pemangku kepentingan di masing-masing operating company.
Pada tahun 2012, Perseroan semakin mengintensifkan upaya membentuk strategic holding company yang lebih menjamin terlaksananya sinergi pada seluruh aspek operasional dari perusahaan yang bernaung dibawah grup perusahaan. Melalui pembentukan strategic holding ini, Perseroan meyakini seluruh potensi dan kompetensi perusahaan dalam group baik dalam bidang operasional, produksi dan terutama pemasaran, dapat disatu padukan dengan semakin baik untuk memberikan kinerja optimal. Melalui penerapan strategic holding, maka posisi “holding” terhadap anak usaha (yakni perusahaan semen dan anak perusahaan yang akan datang) menjadi sangat jelas, yakni:
1. HoldCo menentukan arah group. 2. Di masa yang datang, setiap OpCo tambahan akan berada di tingkat yang sama dengan OpCo yang ada. 2. Dengan kedudukan dan fungsi yang jelas tersebut, maka akan diperoleh berbagai manfaat utama, meliputi:
a-. Pemisahan jelas antara peran HoldCo vs OpCo dengan pemisahan yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab di bawah entitas hukum yang terpisah. Memungkinkan HoldCo untuk beroperasi sebagai HoldCo “murni” untuk mengelola semua anak perusahaan OpCo.
b-. Dalam jangka pendek: Potensi manfaat sinergi yang lebih tinggi akan dapat dihasilkan dari hubungan yanglebih baik dan meningkatnya kerjasama antar OpCo.
3. Dalam jangka panjang: a. Mendukung pertumbuhan masa depan Perseroan dalam penerapan strategi ekspansi regional dan internasional melalui akuisisi perusahaan semen lain. b. Maksimalisasi pengetahuan dan kemampuan grup dalam berbagai bidang operasional, mencakup: pemasaran, pengadaan, Litbang, untuk mendorong perbaikan operasional dan optimalisasi kinerja melalui penerapan best practices pada masing-masing bidang tersebut.

Semen Indonesia, Nama yang Menyatukan Seluruh Potensi Group. Pada tanggal 20 Desember 2012, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan, resmi mengganti nama dari PT Semen Gresik (Persero) Tbk, menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Penggantian nama tersebut, sekaligus merupakan langkah awal dari upaya merealisasikan terbentuknya Strategic Holding Group yang ditargetkan dan diyakini mampu mensinergikan seluruh kegiatan operasional dan memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk menjamin dicapainya kinerja operasional maupun keuangan yang optimal.
Setelah memenuhi ketentuan hukum yang berlaku, pada tanggal 7 Januari 2013 ditetapkan sebagai hari lahir PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Perseroan menggunakan nama Semen Indonesia dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang krusial, mencakup:
1. Nama tersebut bisa merefleksikan ambisi dari grup. 2. Merangkul karakteristik nasional dari perusahaan yang mencakup ketiga OpCo. 3. Melalui nama tersebut sejarah dan tradisi tetap dihormati. 4. Melalui nama Semen Indonesia, seluruh Opco tetap dapat menggunakan keberadaan merek eksisting secara optimal, mengingat pengenalan merek baru akan sangat menyita waktu dan biaya.
Jangkauan DistribusiKeunggulan jaringan distribusi Perseroan didukung oleh 30 unit gudang penyangga, pengoperasian 22 packing plant di lokasi yang strategik dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia serta didukungoleh 361 distributor nasional untuk menjamin kelancaran pasokan semen ke seluruh penjuru Nusantara.

Perseroan saat ini sedang membangun 3 packing plant tambahan di beberapa lokasi prospek. Hingga tahun 2016 Perseroan merencanakan tambahan 12 unit packing plant. Tujuan pembangunan packing plant tersebut adalah: • Efisiensi biaya transportasi, distribusi dan pengantongan. • Menjamin kontinuitas pasokan semen di wilayah pemasaran Perseroan. • Perluasan pasar.
Brand ImagePerseroan memiliki empat merk yang lekat di hati konsumen, yaitu Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa dan Thang Long Cement. Perseroan menguasai pangsa pasar domestik terbesar yang mencapai sekitar 44 %, menunjukkan keunggulan reputasi yang mencerminkan kekuatan corporate dan brand image Perseroan.
Sejalan dengan rencana pengembangan usaha, perubahan pola usaha sebagai perusahaan multinasional dan perubahan struktur korporasi sebagai Strategic Holding, Perseroan telah menerapkan Human Capital Master Plan (HCMP) tahap ketiga yang disebut excellent performance.

Perseroan menekankan pengelolaan Human Capital (HC) pada pengembangan kompetensi, karakter dan integritas. Ketiganya merujuk pada satu tujuan, yakni tersedianya HC yang berkompetensi tinggi, berkarakter kuat dan berintegritas untuk mendukung pencapaian visi dan misi Perseroan.(win5)