BIN dan CIA disebutkan terlibat pembunuhan Munir

KANALSATU - Badan Intelijen Negara (BIN) dan Central Intelligence Agency (CIA) disebutkan terlibat dalam pembunan aktivis Hak Azasi Manusia (HAM) Munir. Hal tersebut berdasarkan pengakuan jurnalis investigasi asal Amerika Serikat Allan Nairn, yang telah dimintai keterangan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
Pada 16 Oktober lalu, Allan Nairn melakukan wawancara dengan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono. Dari hasil wawancara itu, Nairn mengatakan, Hendropriyono dan CIA harus bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil di Indonesia, termasuk Munir.
"Menurut saya Jenderal Hendropriyono harus diadili. Jenderal Hendro sudah bilang dengan saya, kerjasama dengan CIA. Ada fakta bahwa pembunuhan Munir ada relationship antara BIN dan CIA," ungkap Nairn, seperti dilansir vivanews.
Nairn juga meminta pemerintah Indonesia menghubungi pemerintah Amerika untuk mengungkap keterlibatan CIA. Menurutnya, pemerintah Amerika harus ikut bertanggung jawab dalam berbagai kasus HAM. "Pemerintah Amerika harus juga bertanggung jawab, karena sudah memfasilitasi banyak hal seperti pelatihan dan senjata," terangnya.
Sementara itu, Komisoner Komnas HAM Nurcholis membenarkan, kedatangan Allan Nairn berkaitan dengan wawancara dirinya dengan AM Hendropriyono pada 16 Oktober 2014.
"Terkait interview-nya dengan Pak Hendropriyono yang sudah dipublikasi. Ini menjadi penting karena untuk menyelesaikan pelanggaran berat masa lalu," kata Nurcholis di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (3/11/14).
Ditegaskan Nurholis, tidak ada kepentingan lain dari pertemuan dengan Nairn. Pengumpulan informasi penting dilakukan untuk mengungkap kebenaran. Selain itu, agar Komnas HAM tidak dibilang sepihak.
Kedatangan Nairn merupakan upaya Komnas HAM untuk menuntaskan berbagai kasus pelanggaran kemanusiaan yang sejak lama tidak bisa ditindaklanjuti. "Kita tidak ada kaitannya dengan rezim pemerintahan sekarang. Semua orang yang mendapat informasi akan kami cek. Target kita tujuh kasus HAM berat bisa terselesaikan," tandasnya.(win6)