Alexander The Great

Oleh : Anwari WMK (Kolumnis)

iliustrasi : Howard David Johnson

(WIN) : - Iskandar Zulkarnaen yang Agung alias Alexander the Great (356-323 SM) ternyata berwajah ganda dalam perspektif sejarah dunia. Wajah pertama wajah kekaguman. Wajah kedua wajah kebencian. Dalam narasi sejarah Barat, Alexander the Great dikagumi sebagai penakluk yang tiada tara. Namanya menghiasi sejarah Barat. Tapi dalam narasi sejarah Persia, ia dibenci sebagai petualang yang hanya menciptakan kerusakan dan penghancuran.

Dalam laman BBC, Profesor Ali Ansari dari Institute of Iranian Studies, St Andrews University, Scotland, Inggris, memaparkan sosok Alexander the Great itu menurut cara pandang Persia. Ali Ansari menulis artikel bertajuk “Alexander the not So Great: History Through Persian Eyes”.

Dalam artikelnya itu Profesor Ali Ansari menyebut reruntuhan Persepolis sebagai bukti bahwa Alexander hanya mampu merusak peradaban. Sebagaimana diketahui, Persepolis merupakan ibukota kekaisaran Achaemenid pada zaman Persia kuno. Peradaban Persepolis dibangun oleh Darius the Great, serta dilanjutkan pembangunannya oleh Xerxes the Great. Tapi oleh Alexander, Persepolis malah dihancur leburkan.

Menurut Profesor Ali Ansari, narasi sejarah Yunani yang menyebar di Barat menyebut Alexander sebagai seorang genius militer yang ditakdirkan menghancurkan Persia. Kebesaran nama Alexander pun dikait hubungkan dengan kemenangannya melawan kekaisaran Persia. Narasi sejarah ini, menurut Profesor Ali Ansari, aneh. Sebab lalu muncul permakluman dan pemafaatan terhadap Alexander yang dengan biadabnya menghancurkan Persepolis.

Dalam konteks Alexander, pertarungan politik dan militer antara Yunani dan Persia selalu ditekankan pada narasi terjadinya invasi Persia ke Yunani, yaitu pada tahun 490 SM di bawah pimpinan Darius dan pada tahun 480 SM di bawah pimpinan Xerxes, anak Darius. Dalam dua invasi itu, Persia gagal mencapai kemenangan. Bahkan kemudian, serbuan pasukan Alexander ke Persia di kelak kemudian hari dinarasikan sebagai retaliasi atau pembalasan dendam.

Dalam perspektif Persia, persoalan terkait dengan tindakan Alexander the Great yang meratakan dengan tanah kota Persepolis. Padahal, kota tersebut dibangun sebagai cipta karsa kebudayaan dan peradaban. Seandainya invasi Alexander ke Persia yang diklaim sebagai retaliasi itu tak sampai menghancur leburkan Persepolis, maka orang-orang Persia takkan keberatan menyebut Alexander sebagai “the Great”. Tapi sayangnya, panggung sejarah mempertontonkan hancur leburnya Persepolis.

Bagaimana cerita kehancuran Persepolis itu? Dalam narasi sejarah Yunani disebutkan, invasi Xerxes disertai oleh pembakaran kota kuno Acropolis di Yunani. Pembalasan dendam Alexander dilakukan pada malam hari dengan mengirimkan wanita-wanita pelacur Yunani untuk memberikan minuman keras kepada tentara penjaga kota Persepolis. Hal yang kemudian nenarik disimak, ternyata Xerxes tidak pernah membakar kota kuno Acropolis.

Namun tak cukup hanya Persepolis yang diratakan dengan tanah, di berbagai wilayah Persia justru Alexander melakukan perusakan secara serius terhadap situs-situs agama dan kebudayaan. Simbol-simbol Zoroastrianisme [agama zaman Persia kuno] diserang dan dihancurkan. Pendeta Magi dalam agama Zoroastrianisme pun turut dibantai. Alexander dalam konteks ini merupakan figur anti-toleransi yang tiada taranya. Di Persia, ia meletuskan malapetaka kemanusiaan.

Berabad-abad kemudian, kuatnya pengaruh bahasa dan kebudayaan Yunani di Barat justru mengubah fakta brutalitas Alexander menjadi narasi kepahlawanan. Bahkan, invasi Alexander ke Persia dinarasikan secara gegap gempita sebagai perang besar yang membawa peradaban dan kebudayaan adiluhung dari Barat ke Timur yang masih barbar.

Tapi fakta historis yang terkuak melalui serangkaian studi secara serius justru menunjukkan, bahwa Kekaisaran Persia di zaman lampau telah mencapai puncak-puncak kebudayaan dan peradaban. Latar belakang penyerbuan Alexander ke Persia bukan karena tidak adanya kebudayaan dan peradaban. Tapi lebih karena alasan geopolitik dan geostrategis. Bahwa Kekaisaran Persia mencakup wilayah kekuasaan yang luas, membentang dari Asia Tengah hingga ke Libia di Afrika. Persia, dengan demikian, merupakan sebuah negara adidaya. Jika Persia berhasil ditaklukkan, maka itu sama saja maknanya dengan penaklukan sebuah negara adidaya. Alexander pun berpeluang tampil sebagai figur puncak sebuah negara adidaya. Dalam bahasa Profesor Ali Ansari, “Persia was an enormously rich prize.”

Bagaimana pun, Alexander merupakan tokoh militer yang tipikal mengagumi luasnya wilayah politik dan ekonomi Kekaisaran Persia. Ia sesungguhnya tampil dengan mengadopsi pola kepemimpinan gerombolan kaum barbar yang berambisi merebut Persia. Ia terobsesi merebut mahkota kebesaran seorang Kaisar Persia. Apalagi, kekaguman Yunani terhadap Persia telah terjadi jauh sebelum Alexander dilahirkan.

Xenophon (430-354 SM), seorang jenderal dan filosof di Athena, Yunani, menulis lagu-lagu pujian untuk Kaisar Persia Cyrus the Great (576-530 SM), bertajuk “Cyropaedia”. Dalam lagu-lagu pujian tersebut termaktub lirik-lirik sanjungan terhadap seorang penguasa yang karakter dan personalitasnya tampak dengan sangat jelas jejaknya.

Xenophon menulis, “Cyrus mampu menembus batas wilayah yang luas pada negara-negara yang semula dikelola berdasarkan metode teror, hingga kemudian negara itu tertib, patuh kepada undang-undang. Pada waktu bersamaan, Cyrus mampu menginspirasi rakyat pada wilayah-wilayah yang berhasil ditaklukkan. Cyrus dan rakyat pada wilayah-wilayah yang ditaklukkan tunduk pada hukum yang sama.”

Xenophon juga menulis, “Dengan demikian Cyrus merajut teritori kebangsaan yang begitu luas, sehingga tercipta sistem perpajakan yang adil.”

Memang, Darius dan Xerxes pada akhirnya menginvasi Yunani, dan gagal. Seorang tokoh bernama Themistocles (524-459 SM) berhasil menghalau invasi Darius di Marathon. Themistocles juga memenangkan pasukan Athena melawan pasukan Xerxes di Salamis. Sunguh pun begitu, rakyat Yunani tetap tunduk pada sistem hukum seperti yang berlaku di Persia. Ketika kemudian kehilangan jabatan politik di Athena, Themistocles lalu memilih pergi ke Persia hingga akhir hayatnya untuk menduduki jabatan di pengadilan Persia serta kemudian diangkat menjadi gubernur pada sebuah provinsi di Kekaisaran Persia.

Sejarah tak bisa mengingkari pengaruh Persia terhadap perkembangan politik di Yunani. Ketika meletus peperangan antar-negara kota di Yunani, pengaruh politik Persia menentukan. Dalam Perang Peloponnesian (431-404 SM), dukungan logistik dan pendanaan Persia merupakan faktor penentu kemenangan Sparta atas Athena.

Alhasil, Profesor Ali Ansari mengajak kita membaca secara kritis ketokohan Alexander the Great, terutama terhadap klaim yang menyebut Alexander membawa kebudayaan dan peradaban Helenistik ke Persia. Sebab, jauh sebelum era Alexander, keberhasilan Yunani melahirkan filosof-filosof besar justru karena persentuhannya dengan kebudayaan dan peradaban Persia. Bukankah isme-isme yang berpengaruh pada perkembangan filsafat Yunani memang bermula dari Persia?  *

Komentar