Plus minus PON Remaja I

KANALSATU – Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja I 2014 telah usai. Dalam even yang berlangsung 9-15 Desember lalu, Jawa Timur selaku tuan rumah sukses mencatatkan sejarah dengan menjadi juara umum perdana dalam kegiatan multieven yang rencananya digelar 2 tahunan.
Jawa Timur mengoleksi 36 medali emas, 29 medali perak dan 15 medali perunggu. Disusul kemudian kontingen DKI Jakarta dengan 34 medali emas, 22 medali perak dan 18 medali perunggu. Lalu di peringkat ketiga ada kontingen Jawa Barat dengan raihan 13 medali emas, 9 medali perak dan 15 medali perunggu.
Kini, hingar-bingar PON Remaja I telah memudar. Masing-masing kontingen pun sudah kembali ke daerahnya. Namun, ada beberapa catatan dari gelaran PON Remaja I yang mungkin bisa dijadikan acuan untuk pelaksanaan PON Remaja II 2017 yang rencananya dihelat di Jawa Tengah.
Penyelenggaraan
PON Remaja I dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahwari di Gedung DBL Arena, Surabaya, Selasa (9/12/14). Musisi Ahmad Dhani bersama artis Raisya turut memeriahkan acara pembukaan.
Selanjutnya, penutupan dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Stadion Gelora Delta, Sidoaro pada 15 Desember 2014. Kali ini giliran grup musik Slank dan sejumlah artis Ibu Kota yang “menggemparkan” acara penutupan.
Cukup meriah memang acara pembukaan dan penutupan PON Remaja I. Jawa Timur pun terbilang sukses menjadi tuan rumah, bila dilihat dari segi penyelenggaraan. Padahal dana yang diterima untuk menggelar even nasional tergolong minim, yakni sekitar Rp31 miliar. Itupun merupakan dana sharing antara KONI Pusat dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kesuksesan Jawa Timur dalam menggelar PON Remaja I tak hanya dapat dilihat dari lancarnya proses pertandingan 15 cabang olahraga (cabor). Perlu diakui, Jawa Timur sudah banyak memiliki venues pertandingan yang cukup layak. Jadi bukan masalah lagi bila Jawa Timur harus menggelar even olahraga bertaraf nasional maupun internasional.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan selain venues pertandingan adalah infrastruktur penunjang. Seperti akomodasi, penginapan dan layanan lainnya. Karena bukan perkara mudah dalam melayani ribuan atlet dan official dari seluruh Indonesia, yang berkumpul di Surabaya dan Sidoarjo.
Namun, itu semua dapat dipenuhi dengan baik. Terbukti, tidak ada keluhan terkait masalah pelayanan yang masuk ke Pengurus Besar (PB) PON Remaja I 2014 Jawa Timur. "Sejauh ini belum ada laporan atas keluhan. Ini sangat kita syukuri, karena itu tak terlepas dari kerja keras kita semua," kata Sekretaris umum PB PON Remaja I Soewanto kepada wartawan di Surabaya, Jumat (12/12/14).
Soewanto lantas memberikan apresiasi kepada para relawan yang turut memberi warna baru pada gelaran PON Remaja I. "Mereka belum ada SK sudah bekerja. Itu tidak dibayar lho. Prinsip berbuat yang terbaik untuk tamu sangat dijaga, selain memperhatikan arahan dari tim Wasrah (pengawas dan pengarah) KONI Pusat," terangnya.
Selain itu, kesekretariatan juga menerapkan cara-cara yang meminimalisir perseteruan di internal panitia. "Seperti jika ada masalah, kita tidak mencari kesalahan tapi mencari penyebabnya sambil memahami karakter masing-masing panitia. Meskipun banyak kekurangan, PON Remaja tetap harus sukses," tegasnya.
Wakil Sekretaris Umum PB PON Remaja I, Dudi Harjantoro menambahkan, salah satu kunci sukses adalah manajemen kegiatan yang menunjang tugas pokok dan fungsi (tupoksi). "Karena itu harus terprogram, sehingga kita buat schedule sejak Maret (SK turun). Dibantu Dispora Jawa Timur, Unesa, Ubaya dan ITS, kita rutin lakukan evaluasi," urainya.
Sejak SK turun sampai menggelar pertemuan dengan seluruh kontingen (April), setiap tahapan bisa berjalan mulus. Salah satu penunjang adalah teknologi internet. Menurutnya, persiapan hanya 3 hari untuk menggelar manager meeting. Namun bisa efektif, karena pendaftaran peserta berjalan online. "Tidak perlu lagi bolak balik bawa berkas jika ada yang kurang," ujar Dudik.
Begitu juga pada tahapan-tahapan selanjutnya. Seperti pengambilan api, welcome party, sampai penutupan. "Intinya, kita lancar karena bisa membangun manajemen yang efektif. Apalagi even ini dananya minimalis hanya Rp31 milar. Banyak anak-anak muda yang tanpa diperintah bisa mengembangkan kinerja," papar Dudi.
Keberhasilan Jawa Timur dalam menyelenggaran PON Remaja I juga tercermin dari pernyataan Ketua Umum KONI Jambi A.S Budianto. Secara keseluruhan, menurut Budianto, Jawa Timur selaku tuan rumah sudah cukup bagus melaksanakan even yang pertama kalinya ini. "Pelayanannya bagus, ke atlet juga bagus. Hotel-hotelnya bagus dan baru. Kamarnya masih bau cat," cetus Budianto saat ditemui di Gedung Senam Nusantara Citraland, Surabaya.
Satu hal yang menjadi catatan Budianto adalah acara pembukaan yang ditempatkan di Gedung DBL Surabaya. "Sayang, pembukaan kurang representatif. Even nasional sebesar ini ditempatkan di situ (Gedung DBL)," ungkapnya.
Namun, pria asal Cirebon ini bisa memaklumi karena minimnya dana yang digunakan untuk menyelenggarakan PON Remaja I. "Tapi secara keseluruhan, Jawa Timur cukup sukses menggelar PON Remaja pertama ini," puji Budianto.
Sportifitas
Secara keseluruhan, jalannya pertandingan 15 cabor berlangsung dengan lancar. Adapun 15 cabor itu adalah sepakbola, atletik, tenis meja, karate, renang, panahan, voli pantai, bulutangkis, menembak, pencak silat, bola basket, senam, anggar, judo dan gulat.
Tapi ada beberapa catatan dalam pertandingan, khususnya soal penilaian yang menimbulkan pro dan kontra. Sebut saja di cabor senam. Berdasarkan catatan kanalsatu.com, ada 4 nomor di cabor senam yang memiliki juara bersama. Pertama di nomor gelang-gelang putra, Sumatera Selatan dan Jawa Timur sama-sama meraih medali emas.
Kedua di nomor meja L putra, dimana medali emas menjadi milik Jambi dan Jawa Barat. Ketiga di nomor papan sejajar putra, Sulawesi Selatan dan Jambi diputuskan sebagai juara bersama dan sama-sama berhak mendapatkan medali emas. Kemudian keempat di nomor papan tunggal putra, giliran Sumatera Utara dan Jawa Timur yang sama-sama mendapatkan medali emas.
Keputusan itu pun menuai reaksi keras dari Komandan Kontingen DKI Jakarta Icuk Sugiarto. Menurutnya, peristiwa munculnya 4 juara bersama baru pertama kali di dunia olahraga. “Sehingga memunculkan dugaan adanya permainan yang menguntungkan salah satu kontingen untuk mengatrol perolehan medali,” ujar Icuk saat masih di Surabaya.
Icuk pun menyoroti masalah penetapan kuota atlet pada cabor tenis meja, bulu tangkis dan tenis lapangan. Dimana, tuan rumah Jawa Timur mendapat perlakuan khusus bisa mendaftarkan empat atlet. Sedangkan kontingen lainnya hanya dijatah masing-masing dua atlet. Begitu pula dengan pengerahan suporter Jawa Timur yang dianggap berlebihan hingga mengintimidasi atau meneror atlet daerah lain, juga dipermasalahkan kontingen DKI Jakarta.
Namun panitia pelaksana (panpel) cabor senam PON Remaja I 2014, Indra Sibarani menyatakan, munculnya nilai sama dalam perlombaan senam merupakan hal wajar. “Bahkan di kejuaraan internasional juga pernah terjadi juara kembar atau juara bersama,” ucap Indra.
Ketua Umum KONI Jawa Timur Erlangga Satriagung pun turut merespon protes dari kontingen DKI Jakarta. Menurutnya, DKI Jakarta terlalu berlebihan dan emosional. Pasalnya, nomor pertandingan dan kuota atlet sudah diputuskan KONI Pusat melalui rapat anggota.
“Kalau Jawa Timur sebagai tuan rumah diberi wewenang penuh menentukan cabang olahraga dan nomor pertandingan, tentu kami akan pilih cabang yang berpotensi emas, faktanya kami hanya bisa mengusulkan," terang Erlangga.
Erlangga menegaskan, pembatasan nomor pertandingan dan kuota atle merupakan konsekuensi dari minimnya anggaran penyelenggaraan PON Remaja I, yang hanya Rp31 miliar dari rencana awal lebih dari Rp390 miliar.
"Sebagai tuan rumah, kami berusaha semaksimal mungkin menyelenggarakan PON Remaja dengan sukses, meskipun anggaran sangat minim. Kalau di lapangan muncul beberapa persoalan, itu hal yang wajar karena ini ajang pertama yang persiapannya hanya tiga bulan," tandas Erlangga.
Bukan hanya DKI Jakarta yang merasa dirugikan dengan sejumlah kebijakan di PON Remaja I. Pengurus cabor di Jawa Timur pun merasakan demikian. Seperti halnya yang dilontarkan Ketua Umum Pengprov Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Jawa Timur Marzuki Rofii.
Awalnya, PTMSI Jawa Timur menargetkan bisa menjadi juara umum di cabor tenis meja. Faktanya, Jawa Timur hanya mendapatkan 1 medali emas dari cabor tersebut. Menurut Marzuki, ada faktor nonteknis yang menyebabkan para petenis meja Jawa Timur gagal merealisasikan target medali emas.
“Padahal kita sudah kondisikan, minimal Jawa Timur tidak dikerjain. Tapi masih dikerjain juga. Saya sempat jengkel, tapi untung masih mendapatkan medali emas,” cetus Marzuki ketika diwawancara.
Ia menuding wasit menjadi salah satu faktor kegagalan Jawa Timur. Selain itu, Marzuki juga merasa dirugikan dengan program Pelatihan Nasional (Pelatnas). “Atlet (tenis meja) Jawa Timur di Jakarta (gabung program Pelatnas) malah dihancurkan. Di sana untuk dipelajari (kemampuan atlet Jawa Timur) dan dikalahkan dalam kejuaraan seperti ini," keluh Marzuki.
Tentunya, masalah-masalah seperti itu harus menjadi catatan tersendiri bagi PB PON Remaja. Termasuk saat gelaran di Jawa Tengah pada 2017. Perlu digarisbawahi, yang utama bukan prestasi tertinggi, tapi proses pembinaan olahraga itu sendiri. Sebab sejatinya, multieven olahraga seperti PON Remaja merupakan sekadar batu loncatan untuk menggapai prestasi lebih tinggi di tingkat internasional.
Barometer pembinaan olahraga
Bila mengacu dari hasil PON Remaja I 2014, pembinaan olahraga di Indonesia masih terpusat di Jawa. Khususnya di Jawa Timur, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Bahkan dalam sejarah gelaran PON, hanya 3 daerah yang mendominasi meraih gelar juara umum. Yakni, DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat. Dari situ kemudian muncul pernyataan, apakah daerah lain di Indonesia tidak memiliki atlet berprestasi?
Sudah menjadi rahasia umum bahwa “membajak” atlet sudah menjadi sesuatu yang “halal” bagi sebuah daerah demi meraih prestasi tertinggi di pentas PON maupun PON Remaja. Dampaknya, hanya daerah-daerah tertentu saja yang bisa merasakan gelar juara umum PON. Sementara sebuah daerah khususnya yang tidak kuat secara finansial, hanya akan menjadi peserta atau bahkan penggembira dalam setiap gelaran multieven olahraga.
Meski sebuah daerah menjadi gudang atlet, tidak akan berbicara banyak di pentas PON bila tidak bisa memproteksi atletnya dengan baik. Sementara seorang atlet rela meninggalkan daerah kelahiran dan membela daerah lain bisa karena beberapa faktor. Seperti tawaran materi, masa depan yang lebih menjanjikan atau iming-iming yang lain.
Tapi kini, menghalalkan segala cara dalam meraih juara umum di PON mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah. Saat membuka PON Remaja I 2014, Menpora Imam Nahrawi sudah menyatakan akan membuat sebuah regulasi yang mengatur perpindahan atlet dari satu daerah ke daerah lain.
Harapannya, gelaran PON maupun PON Remaja tidak tercoreng dengan aktifitas “jual-beli” atau “bajak-membajak” atlet. "Kita akan bikin standard," tegas Imam di Gedung DBL Arena Surabaya.
Imam mengungkapkan, transfer pemain antar-daerah bisa dibenarkan dengan catatan tertentu. "Misalnya boleh transfer (atlet), tapi dengan syarat-syarat jika di daerah itu tidak ada lagi atlet di cabang olahraga tertentu. Itu diperbolehkan," papar menteri asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur tersebut.
Sebisa mungkin, sebuah daerah harus memaksimalkan atlet binaannya sendiri. Karena sejatinya, lanjut Imam, akan muncul masalah psikologis bila atlet tidak bisa membela daerah asalnya. "Kedepan, karena atlet itu tidak boleh dibebani untuk memenangkan atas nama daerah lain. Karena secara psikologis juga akan mempengaruhi," tutup Imam.(win16/win6)