Saham AirAsia anjlok di pasar Kuala Lumpur

KANALSATU - Harga saham AirAsia, maskapai penerbangan bertarif rendah terbesar di Asia Tenggara berpusat di Malaysia, anjlok di pasar Kuala Lumpur, Senin (29/12/14). Kondisi itu dipicu salah satu pesawat Airbus A320-216 (bukan seri A320-200) dengan nomor penerbangan QZ8501-nya hilang bersama 162 orang di dalamnya.
Saham AirAsia merosot 12% menjadi MYR2,60 pada pembukaan sesi awal pekan di akhir tahun, tetapi sedikit pulih menjadi MYR2,69, atau masih turun 8,50% dari sesi penutupan akhir pekan lalu.
Baca: CEO AirAsia pastikan bertanggungjawab hingga tuntas
Meski demikian, nilai itu merupakan penurunan terbesar saham AirAsia sejak 2011. Sekitar 102 juta saham AirAsia diperdagangkan dan membuat sahamnya paling aktif di bursa. Namun para analis mengatakan, dampak terburuknya justru bisa terjadi pada sektor maskapai penerbangan bertarif murah, karena menurunnya popularitas di mata konsumen.
Pesawat Airbus A320-216 milik AirAsia menghilang dalam penerbangan dari Bandara Internasional Juanda Surabaya, Provinsi Jawa Timur, menuju Bandara Internasional Changi, Singapura. Pilot sempat meminta perubahan rencana penerbangan akibat badai cuaca.
Seorang pialang Malaysia mengatakan, para investor terus menjual saham AirAsia. Namun, tekanan jual tampaknya berkurang, karena para investor mendapati fakta pesawat yang hilang tersebut merupakan milik unit usaha AirAsia Malaysia yang membuka layanan di Indonesia.
Shukor Yusof, pendiri perusahaan riset penerbangan Endau Analytics mengatakan, investor dan kreditur akan tetap kuat di belakang AirAsia dan CEO-nya Tony Fernandes mampu mengubah maskapai itu menjadi perusahaan penerbangan bertarif rendah paling sukses di kawasan Asia.
“Reaksi pasar sangat alamiah. Saya tidak terkejut. Saya kira kepercayaan investor akan kembali dengan cepat karena maskapai ini memiliki model bisnis yang kuat,” ujar Shukor meyakinkan.
Dia juga menilai, insiden hilangnya QZ8501 tersebut tidak akan mengurangi antusiasme publik untuk bepergian menggunakan AirAsia. “Insiden ini akan berdampak sangat minimal pada load factor AirAsia di kuartal berikutnya. Ini tidak akan merusak bottom line perusahaan penerbangan.”
Dekan Sekolah Bisnis Universitas Sains dan Teknologi Malaysia Ya Kim Leng, mengatakan, dampak negatif pada harga saham perusahaan akan berumur pendek. Kecelakaan itu tidak akan mengurangi perjalanan udara pada AirAsia. Sebab, AirAsia sudah terekam sebagai maskapai bertarif murah yang menarik pasar massal seiring peningkatan kemakmuran di kawasan Asia.
AllianceDBS menurunkan peringkat saham AirAsia dari ‘buy’ menjadi ‘hold’ untuk alasan yang tidak terkait dengan hilang pesawat. Namun, manajemen AllianceDBS menyatakan, beban utang yang sebagian besar dalam mata uang dolar akan lebih berat pada tahun depan seiring menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap ringgit Malaysia.
Analis Tan Kee Hoong juga mengatakan maskapai penerbangan mungkin tidak sepenuhnya diuntungkan dari harga minyak yang lebih rendah, karena manajemen telah mengindikasikan beberapa penghematan akan diteruskan kembali kepada konsumen melalui biaya tambahan bahan bakar yang lebih rendah.
Meski dikenal sebagai maskapai bertarif murah, tetapi AirAsia selama ini tidak pernah mengalami kecelakaan fatal. Airbus A320-216 bernomor register PK-AXC yang hilang pun menjalani pemeliharaan terakhir pada 16 November. Namun, hilangnya QZ8501 pada akhir tahun melengkapi tahun penuh bencana bagi penerbangan Malaysia.
Sebelumnya, Malaysia Airlines (MAS) nomor penerbangan MH370 menghilang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing pada Maret dengan 239 penumpang dan awak. Pada Juli, MAS MH17 ditembak jatuh di atas wilayah perang di Ukraina yang menewaskan 298 penumpang dan awak dalam pesawat itu.(win10)