Achsanul Qosasi: Ringankan target dividen BUMN

KANALSATU – Mungkin karena pengalamannya di dunia keuangan, Anggota BPK Achsanul Qosasi – mewakili Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) meminta pemerintah untuk meringankan target dividen Badan Usaha Milik Negara (bumn) yang bergerak di sektor jasa keuangan, seperti bank dan asuransi.

Anggota VII Bidang BUMN serta Minyak dan Gas (BPK) Achsanul Qosasi, di Jakarta, Kamis (8/1/15) mengatakan, relaksasi dividen BUMN ditujukan agar BUMN jasa keuangan, terutama bank, dapat lebih ekspansif menjalankan fungsi intermediasi untuk penyaluran kredit kepada masyarakat.  "Jangan ditargetkan dividen, tapi ganti dengan ekspansi untuk `generate` ekonomi," ujar Achsanul Qosasi .

Dia mencontohkan, dari dividen yang dibayarkan Bank Mandiri sebesar Rp3 triliun, salah satu bank dengan aset terbesar, itu dapat kehilangan potensi untuk ekspansi sebesar Rp24 triliun. Potensi tersebut berdasarkan jumlah dividen yang dikalikan dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Mandiri sebesar 8%.  "Artinya rakyat kehilangan kesempatan untuk dapat kredit Rp24 triliun," ujar dia seperti ditulis LKBN Antara.

Perhitungan tersebut baru untuk satu bank BUMN. Achsanul menjelaskan jika dari tiga Bank BUMN, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan dividen Rp4 triliun, dan Bank Tabungan Negara (BTN) dengan dividen Rp1 triliun, dan Bank Mandiri Rp3 triliun, berarti tiga bank BUMN tersebut kehilangan potensi penyaluran kredit Rp64 triliun.

putra Madura

Lebih lanjut, dia mengatakan, setiap kredit Rp1 triliun dari perbankan, kata dia, dapat memberikan 1.000 lapangan kerja. "Rumusannya adalah setiap investasi Rp1 triliun dapat memberikan 1.000 lapangan kerja. Jika kreditnya lebih dari Rp50 triliun, berapa lapangan kerja coba," kata dia.

Achsanul mengatakan usulannya ini sudah dibicarakan kepada Menteri BUMN Rini Soemarno. Rini juga sudah setuju untuk kelonggaran target dividen BUMN jasa keuangan itu, kata Achsanul. Anggota BPK yang juga mantan anggota Komisi XI ini mengatakan usulan tersebut akan diterapkan oleh pemerintah di APBN Perubahan 2015. "Saya akan mencoba itu, karena itu juga kewenangan BPK," kata dia.

Jika usulan ini teralisasi, Achsanul juga meminta BUMN jasa keuangan yang sudah "go public" untuk mengonsolidasikannya kepada pemegang saham di luar pemerintah. "Tapi yang penting dividen untuk pemerintah ini bisa untuk kegiatan yang ekspansif. Pemegang saham yang lain nanti dibicarakan," katanya.

Tentang Achsanul Qosasi

Sepintas orang sering salah sebut nama tokoh muda ini. Bahkan beberapa media salah menuliskan ejaan namanya. Nama lengkapnya Achsanul Qosasi, namun terkadang disebut (vocab) Kosasih  - yang biasanya menjadi nama marga warga luar Jawa. Ada media massa yang menuliskan Qosasih.

Sehingga ketika dijelaskan bahwa Achsanul Qosasi adalah berdarah Madura banyak yang tidak percaya. Qosasi adalah bahasa arab. Pengelola klub bola Madura United (Persepam) ini asli Madura, yakni terlahir di Kota Sumenep, 10 Januari 1966 – berzodiac Copricorn.

Pada Pemilu Legislatif 2014, anggota fraksi Partai Demokrat ini tidak berhasil lolos ke Senayan. Padahal hubungannya dengan warga Madura, khususnya pecinta Madura United, sangat-sangat dekat. Penampilannya yang flamboyan bisa membawanya ke lapisan masyarakat manapun. Namun karena tingginya “permainan” pada proses Pileg 2014 di Madura, Achsanul yang terbiasa dengan cara jalan lurus harus rela menelan pil pahit atas kegagalannya masuk kembali ke Senayan.

putra Kiai Besar

Meski Achsanul memiliki latar-belakang sebagai bankir handal, mantan ekskutif sejumlah bank ini nampaknya terlanjur jatuh cinta di dunia politik. Setidaknya berkarir secara politik, baik di legislatif atau pun lembaga lain di pemerintahan. Kali ini Achsanul justru menjadi Anggota BPK. Kenapa harus ke BPK ? Menurutnya, keinginannya itu didasari atas berbagai pertimbangan, salah satunya untuk menguatkan fungsi pengawasan anggaran pembangunan.

“Karena peran BPK sangat strategis dalam mengawal tercapainya tujuan pembangunan. Khususnya pembangunan daerah.”

Achsanul menaruh perhatian yang besar terhadap soal tata kelola keuangan daerah terkait pencapaian program pembangunan. Sebagian besar kesalahan pengelolaan keuangan di daerah, kata Achsanul, lebih dikarenakan kurang pahamnya SDM pengelolanya. Sekitar masalah tata-kelola keuangan daerah secara kelembagaan inilah yang sejak awal menjadi concern Achsanul Qosasi.

Putra Ulama Besar

Mungkin Tidak banyak yang mengetahui bahwa Achsanul Qosasi adalah putra KH Bahauddin Mudhary, seorang ulama besar di Sumenep yang lebih dikenal sebagai “Kristolog Ulung dari Madura”.

Ayahnya yang otodidak itu pernah menulis sebuah buku tentang pengalaman berdiskusi soal perbandingan agama, yang kemudian buku itu membawa nama KH Bahauddin Mudhary terkenal secara internasional. Bahkan buku itu diterbitkan kembali dalam bahasa Inggris oleh Cambridge University Press, juga ada terjemahan dalam bahasa Belanda. Sehingga wajar dalam diri Achsanul mengalir “darah kejeniusan” dari ayahnya.

Achsanul mengawali pendidikannya (SD dan SMP) di Kota Sumenep, Madura. Memasuki SMA, Achsanul pindah ke Jakarta dan kuliah di Universitas Pancasila Fak Ekonomi. Kemudian melanjutkan sekolah S2 di Jose Rizal University, Manila, Philippines. Selain sebagai bankir dan politisi, Achsanul juga menjabat Presiden Direktur PT Garuda Tani Nusantara (Gatara Group) yang mengelola sejumlah usaha.

Achsanul bisa disebut sebagai tokoh muda yang fenomenal. Meski secara politik dia berada di Partai Demokrat dan dikenal sangat dekat dengan Keluarga Presiden SBY, namun Achsanul juga dikenal sangat dekat dengan Prabowo Subianto. Juga dengan Nirwan Bakrie, adik kandung Aburizal Bakrie. Maka itu wajar saja ketika Achsanul pernah dijagokan oleh banyak kalangan untuk maju pada pemilihan Ketua Umum PSSI menggantikan Nurdin Chalid, saat itu.

Achsanul belakangan – kabarnya – banyak diminta oleh masyarakat Kabupaten Sumenep untuk pulang kampung menjadi pejabat Bupati Sumenep. Tapi permintaan banyak pihak itu nampaknya belum disikapi secara serius oleh Achsanul yang juga dikenal sebagai ekonom yang sangat memahami persoalan ekonomi mikro. Achsanul banyak mendalami tentang ekonomi mikro di sejumlah negara dunia ketiga, diantaranya di Filiphina, Bangladesh dan India.

KH Bahauddin, ayah Achsanul, bukan hanya dikenal cerdas dalam pemikiran filsafat ilmu, tapi secara otodidak pula dikenal memiliki ketrampilan memainkan sejumlah alat musik mulai dari alat musik petik, gesek, tiup sampai tuts piano. KH Bahaudin muda memang pernah bersekolah di Kweek School Muhammadiyah  Yogyakarta pada 1940.  Meski hanya sebentar di sekolah itu, Bahauddin muda sudah menguasai sejumlah bahasa diantaranya bahasa Arab, Jepang, Jerman, Prancis, dan Belanda. (ant/win5)

Komentar