Menyundul bola terlalu sering berakibat kerusakan otak

Menyundul bola yang dilakukan berulangkali, terhadap bola yang bergerak dengan kecepatan hingga 80 kilometer per jam, bisa mengakibatkan kerusakan otak. (Foto Reuters)

NEW YORK (WIN): Menurut hasil penelitian terbaru, yang dilakukan oleh Albert Einstein College of Medicine Yeshiva University di New York menyatakan bahwa menyundul bola, gerakan yang populer dalam sepak bola, dapat menyebabkan cedera otak, termasuk gangguan daya ingat.

Laporan terbaru Voice Of America yang dikutip Whatindonews.com pada Senin (17/6/13) menyebutkan para peneliti tersebut menyatakan tingkat intensitas dalam menyundul bisa mengakibatkan trauma otak ringan dan gangguan daya ingat, mirip gegar otak.

Seperti diketahui, sepakbola adalah olahraga amatir paling populer di dunia. Bahkan, permainan itu dinikmati dan dimainkan secara serius sebagai hobi oleh sekitar 250 juta orang atau 0,25 miliar orang dari segala usia di seluruh dunia. Namun, fakta terbaru dari hasil pemnelitian ini membuat adanya kekhawatiran, menyundul bola yang dilakukan berulangkali, terhadap bola yang bergerak dengan kecepatan hingga 80 kilometer per jam, bisa mengakibatkan kerusakan otak.

Peneliti pada Albert Einstein College of Medicine Yeshiva University di New York mempelajari otak 37 pemain sepakbola amatir yang dipilih dari seantero kota New York. Semua bermain sepak bola sebagai hobi selama rata-rata berusia 22 tahun, berlatih dua kali seminggu dan bertanding setidaknya sekali seminggu.

Michael Lipton, direktur Pusat Penelitian MRI fakultas tersebut, mengatakan peneliti mempelajari berapa kali pemain menyundul bola dalam 12 bulan. Peserta penelitian juga menjalani serangkaian tes yang mengukur memori dan fungsi otak, dan peneliti menggunakan mesin MRI berteknologi tinggi untuk memindai otak peserta.

Para peneliti berkeinginan untuk mengetahui apakah jumlah sundulan terkait perubahan struktural mikroskopik dalam otak dan hasil kinerja pada tes memori setiap pemain.

Peneliti mendapati, pemain yang menyundul bola 1.500 kali atau kurang per tahun tidak terlalu mengalami kerusakan seperti luka pada materi putih - jaringan lemak yang menutupi otak - berisi serabut saraf yang disebut akson.

"Tetapi kalau kita beranjak ke tingkat yang lebih tinggi dan melampaui ambang batas, terjadi peningkatan mendadak dalam kemungkinan kita akan mendapati perubahan dalam jaringan otak dan memburuknya fungsi dalam tes psikologis, terutama tes memori, akibat meningkatnya kekerapan melakukan sundulan," terang Michael Lipton.

Lipton mengatakan, perubahan otak ringan dan gangguan memori mirip apa yang terjadi pada gegar otak tampak pada pemain yang menyundul bola 1.550 kali atau lebih per tahun, sementara hasil tes memori terburuk tampak pada pemain yang menyundul bola lebih dari 1.800 kali per tahun.

Helm yang digunakan dalam permainan sepakbola khas Amerika, futbol, terbukti efektif mencegah patah tulang tengkorak dan pendarahan dalam otak, menurut Lipton. Tetapi ia mengingatkan pelindung kepala tidak mungkin membantu jenis cedera otak akibat sering menyundul bola.

"Jenis cedera yang kami lihat di sini adalah akibat percepatan dan perlambatan atau rotasi otak di dalam tengkorak, semacam otak Anda tumpah di dalam tengkorak ketika otak bergerak," tambah Lipton.

Peneliti kini akan mencoba mengetahui pengaruh menyundul pada pemain sepakbola dari berbagai usia dan dari berbagai negara. Penelitian tentang pengaruh menyundul bola terhadap pemain sepak bola amatir ini diterbitkan dalam jurnal Radiology.

Penutup kepala

Meski tidak terkait, namun Federasi asosiasi sepakbola internasional, FIFA, telah memutuskan bahwa penutup kepala laki-laki dapat dipakai dalam pertandingan.

Sebelumnya, seperti dilaporkan VOA pada Minggu (16/6/130 menyebutkan federasi asosiasi sepakbola internasional, FIFA, telah memutuskan bahwa penutup kepala laki-laki dapat dipakai dalam pertandingan, sebuah keputusan yang bertentangan dengan larangan memakai sorban oleh Quebec, Kanada.

FIFA mengatakan pemain pria boleh memakai tutup kepala asalkan warnanya sama dengan seragam tim, berpenampilan profesional, tidak melekat pada kaos dan tidak menimbulkan bahaya.

Federasi sepakbola Kanada telah meminta FIFA untuk memberikan putusan mengenai masalah tersebut setelah Quebec tidak bersedia membatalkan larangan mengenakan sorban di seluruh provinsi itu.

Bisa jadi kebijakan awal yang tidakn sinergi yang baru-baru saja diambil itu bila menilik hasil penelitian tersebut diatas akan bahaya kerusakan otak akibat seringnya menyundul maka FIFA sebagai otoritas sepakbola internasiobnal sudah selayaknya mulai memikirkan agar olahraga sepak bola ini dimana-masa mendatang menjadi lebih aman dan sehat, bukan malah berbahaya bagi orang yang menggelutinya.(win7)

Komentar