Fachri, dari PRT hingga jadi wirausahawan

KANALSATU - Di usia yang baru 25 tahun, Moch Fachri Zulkifly terbilang sukses menjadi seorang wirausahawan. Kini, lulusan Universitas Airlangga (Unair) jurusan ilmu informasi tersebut telah menjadi bos sebuah usaha foto copy dan percetakan yang memiliki 2 cabang. Kesuksesan ini merupakan buah kerja keras yang dijalani pria asal Lamongan itu sejak lulus SMA dan selama mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Seperti apa ceritanya?
Malam itu, Fachri bersama dengan sejumlah kerabatnya berkunjung ke kantor redaksi kanalsatu.com. Sebenarnya, Fachri sekadar menemani kerabatnya atau lebih tepatnya sang paman, untuk bertemu dengan salah satu kru kanalsatu.com.
Kebetulan, orang yang dicari belum datang di kantor. Sembari menunggu, Dachlan harahap, paman Fachri, lantas memperkenalkan lebih jauh siapa keponakannya. Yakni, seorang wirausahawan muda yang berangkat dari nol dan mungkin bisa menjadi contoh bagi generasi-generasi muda lainnya.
Dari situlah, Fachri kemudian menceritakan perjalanan hidupnya hingga memiliki usaha foto copy dan percetakan di dua tempat. Pertama kali merantau ke Surabaya, Fachri bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di kawasan perumahaan Mulyorejo.
Pekerjaan itu dijalaninya setelah gagal masuk perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN pada 2008 silam. "Saya harus merelakan tidak kuliah di tahuh lulusan pertama. Kerja jadi PRT di Surabaya. Waktu itu bingung mau kerja apa. Lulus SMA tidak punya skil. Sampai akhirnya dikenalkan tetangga di kampung, untuk jadi PRT di Mulyorejo," cerita Fachri.
Setelah 6 bulan menjalani pekerjaan sebagai PRT dengan gaji Rp500.000 per bulan, anak bungsu dari 8 bersaudara itu berhenti untuk kembali fokus masuk ke perguruan tinggi. Mengeyam pendidikan di perguruan tinggi merupakan upaya Fachri untuk menuruti kemauan orang tua.
Dia pun akhirnya diterima di Universitas Airlangga (Unair) pada 2009. Namun karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung, konsentrasi Fachri pun terpecah antara belajar dan memenuhi kebutuhan hidup. Terlebih orang tua tidak memberikan uang saku. "Tidak dapat uang dari orang tua, ada dari kakak Rp170.000 per minggu. Kalau pulang dikasih saku," ujarnya.
Beban Fachri sedikit teringankan dengan bantuan beasiswa dari sebuah BUMN. Hanya saja, ia tidak bisa terus-terusan mengandalkan beasiswa karena kebutuhan hidup juga terus meningkat. Semester lima, Fachri sempat meninggalkan kuliah untuk berjualan es campur ke sejumlah sekolah di Lamongan.
"Kakak yang produksi (es campur), saya yang pasarkan. Jual di 3 sekolah, tapi bangkrut. Kemasan kurang bagus. Jadi dari 50 bungkus, yang bisa dijual sekitar 20 bungkus. Lainnya tumpah saat sampai sekolah," bebernya.
Gagal mencoba peruntungan dengan berjualan es campur, Fachri kembali ke Surabaya. Tidak sekadar melanjutkan kuliah, ia terus berpikir untuk berusaha demi mencukupi kebutuhan sendiri. "Saya teringat omongan guru waktu sekolah, sebagian besar rezeki ada di dagang. Jadi saya harus berjualan," paparnya.
Hingga suatu waktu, Fachri bertemu dengan teman SMP yang sama-sama kuliah di Unair namun beda fakultas. Teman tersebut bernama Bagus Budi Raharjo, yang sekaligus menjadi mentor terbaiknya. Mereka kemudian sepakat untuk berjualan sambel terasi kemasan botol, yang mengambil dari orang lain.
Setiap hari, Fachri selalu membawa sambal terasi untuk dijual, termasuk saat di kampus. Dari setiap penjualan satu botol sambal, Fachri mendapatkan keuntungan Rp2.500. "Sehari kadang dapat untung Rp25.000. Keuntungannya buat makan. Waktu itu kos di Surabaya Rp200.000 per bulan," kata Fachri.
Lagi-lagi karena kemasan produk yang kurang bagus, Fachri harus menghentikan usahanya menjual sambal terasi. Ia banyak dikomplain rekan-rekannya di kampus karena bau yang ditimbulkan dari sambal terasi. "Lama-kelamanan ada yang komplain di dalam kelas. saya merasa merugikan orang lain, akhirnya dihentikan. Kurang lebih 3 bulan (jualan sambal terasi)," bebernya.
Dari jualan sambal terasi, Fachri mencoba beralih ke usaha yang menurutnya marketable. Kali ini pilihanya adalah berjualan handphone. Dengan mengambil handphone di sebuah mall yang sedang cuci gudang ketika itu, Fachri menjualnya kembali lewat teman dan secara online. Ironisnya, tak ada satu pun handphone yang laku terjual. "Tidak laku sama sekali. Salah ambil barang, kurang diminati orang. Waktu itu ruginya sekitar Rp3 juta," cetusnya.
Dengan pengalaman dua kali bangkrut menjalankan usaha, yakni jualan es campur dan handphone, Fachri mencoba peruntungan lain untuk sekadar mengisi perut. Tanpa modal, Fachri mencoba mencari penghasilan dengan menjadi seorang perantara. Jadi, ia mengambil orderan cetak banner, spanduk dan sejenisnya dari kampus, untuk selanjutnya di lempar ke bagian produksi. "Kata lainnya makelar. Untuk cover kehidupan sehari-hari, tapi tidak cukup. Sampai saya waktu itu sehari puasa, sehari tidak. Bukan niat puasa, tapi untuk mengurangi operasinal," beber Fachri.
Berangkat dari makelar, Fachri lantas bekerja di percetakan di kampus dengan peran sebagai kurir. Baru enam bulan berjalan, percetakan tempat kerjanya mengalami kesulitan finansial. Kondisi tersebut membuat Fachri ikut resah, karena juga mengamcam mata pencahariannya.
Meski hanya sebagai kurir, Fachri turut berpikir keras bagaimana menyelamatkan usaha percetakan tempatnya bekerja. Sepertinya, kesulitan itu menjadi jalan tersendiri bagi Fachri untuk menjalani usaha yang lebih baik.
Ia mendapatkan pinjaman untuk membeli usaha percetakan tersebut dan menutupi cash flow. "Fokus perusahaan jual cabang. Saya tidak lihat profit, hanya lihat SDM. Kalau dijual, SDM tak kerja. Saya ingin membantu agar perusahaan tetap jalan," ucapnya.
"Ketemu solusi. Butuh finansial, perusahaan harus merdeka. Penanggung jawab sebelumnya harus dimerdekakan, harus jadi direktur utama. Niatan kita membantu. Dapat pinjaman untuk tutupi cash flow, akhirnya kerjasama dengan kita. akhirnya sampai punya dua (cabang foto copy dan percetakan)," imbuhnya.
Selain sukses berwirausaha, Fachri juga sukses dalam hal pendidikan. Maret lalu, ia resmi menyelesaikan kuliahnya di Unair. Dengan demikian, nasib Fachri tidak seperti lagu Iwan Fals berjudul "Sarjana Muda", yang diantaranya liriknya "engkau sarjana muda resah mencari kerja".
Melalui usaha yang mendapat support penuh dari CV M-Brother Indonesia itu, kini Fachri telah mempekerjakan 10 orang. Rinciannya, 8 pagawai bagian produksi dan 2 tenaga freelance. Omzetnya pun cukup fantastis, mencapai Rp50 juta per bulan. "Sementara masih belum bisa beli apa-apa. Masih untuk mengembalikan pinjaman modal," terangnya.
Tak ingin berhenti sampai di sini, dia masih ingin terus mengembangkan usahanya. "Ingin berkembang agar menjadi manfaat bagi orang lain. Seperti Dahlan Iskan yang memberikan kerja kepada ribuan orang," ungkapnya.
Cita-cita lain yang ingin digapai Fachri adalah menjadi pengajar di Unair. "Cita-cita harus jadi pengajar, teruskan kuliah tahun depan untuk jadi dosen," pungkas Fachri.(win6)