China 'warning' operasional raksasa taxi online Uber

KANALSATU - Menteri Perhubungan Tiongkok Yang Chuantang pada Senin (14/03) memperingatkan sejumlah perusahaan taksi online terkait subsidi yang mendorong persaingan “tidak sehat”, seperti raksasa taksi online Amerika Serikat (AS) Uber dan rival domestik Didi yang mengalokasikan dana miliaran dalam perang memperebutkan pangsa pasar.

Menteri itu tidak menyebut langsung kedua perusahan tersebut dan tidak melayangkan ancaman sanksi secara spesifik, namun pihak berwenang Tiongkok sebelumnya pernah menjatuhkan sanksi denda besar dalam penyelidikan persaingan usaha, dan komentarnya menunjukkan peringatan terhadap industri baru.

Layanan taksi online, yang menghubungkan pelanggan secara langsung dengan pengemudi lewat smartphone, mengancam taksi legal - sering membayarkan pendapatan kepada pihak berwenang setempat – dan mendorong unjuk rasa yang digelar sopir-sopir taksi legal di Tiongkok.

Kedua perusahaan taksi online itu mengumpulkan dana miliaran dari investor pada tahun lalu saat mereka berupaya mengamankan posisinya dalam persaingan pasar yang keras, memberikan subsidi kepada sopir dan penumpang yang terbukti menguntungkan konsumen Tiongkok.

“Pemberian subsidi oleh sejumlah perusahaan taksi online merupakan langkah jangka pendek untuk merebut pangsa pasar dan menimbulkan persaingan tidak sehat dengan taksi legal dalam periode waktu tertentu,” kata Menteri Perhubungan Yang Chuantang dalam konferensi pers.

“Dalam jangka panjang, (mereka) akan merusak perkembangan pasar yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya di sela-sela sidang Kongres Rakyat Nasional (National People's Congress).

Bos Uber Travis Kalanick menuding Didi mengalokasikan subsidi sebesar empat miliar dolar Amerika (sekitar Rp52,11 triliun) per tahun, yang dibantah perusahaan taksi online Tiongkok itu – didukung raksasa Internet Alibaba dan Tencent - sebagai “komentar liar”, tanpa menjelaskannya secara detail.(AFP/Antara)

Komentar