Budiono Darsono, tokoh pers nasional
Anugerah PWI JATIM AWARD 2016

KANALSATU - Tidak terbantahkan, Budiono Darsono adalah tokoh dibalik suksesnya detik.com, sebuah media online paling populer sejak berdirinya pada 1998. Ada sejumlah portal berita (news online) yang dibangun di awal 2000-an mengikuti jejak detik.com. Namun usianya tidak panjang. Padahal dua diantaranya sudah tercatat sebagai perusahaan go public di pasar modal.
Itu bukti bahwa detik.com – yang awalnya dikelola PT Agranet Multicitra Siberkom (Agrakom) – tidak hanya besar karena momentum, tapi ada “tangan dingin” yang mengawalnya. Itulah “tangan” Budiono Darsono. Pria kelahiran Semarang (1 September 1961) ini sebelumnya sudah “kenyang makan garam” di dunia jurnalistik dan kehidupan pers.
Darsono tidak sendirian. Dia didukung tiga temannya saat mengkonstruksi detik.com. Pilihannya jatuh pada (saluran) online. Alasannya sederhana, tapi mengena: “Kenapa harus nunggu besok jika detik ini sudah ada berita.” Dari sinilah nama domain detik.com dipilih. Nama domain yang sangat tepat. Mencerminkan satu situasi: bisa menyebarkan berita seketika dan bisa dibaca publik seketika pula.
Awalnya tidak sederhana. Ada “perjuangan” sampai akhirnya menjadi populer. Mulai dari memperkenalkan kepada publik, sampai mempertahankan eksistensi di tengah terbatasnya fasilitas. Proses inilah yang meneguhkan detik.com menjadi besar bukan karena “mencuri start”, tapi Budiono Cs – memang berupaya keras membesarkannya.
Jika saat ini anda searching tentang prestasi media online, apapun kategorinya, maka yang muncul di posisi teratas adalah detik.com. Meski telah ada ribuan portal berita di Indonesia, versi Alexa traffic ranks. Posisi ini sudah belasan tahun didekapnya. Sebuah prestasi yang tidak mudah. Karena setiap saat posisi bisa berubah jika lengah.
Sampai di sini, kru - detik,com di bawah Budiono Darsono terbukti telah berjuang keras mempertahankan prestasinya. Sehingga aneka label pun disandangnya: sebagai portal berita paling populer, paling berpengaruh, paling cepat, paling banyak dibaca, paling menjadi refrensi, dan sederet “paling” lainnya. Tentu saja label itu berbuah manis, yakni menjadi portal berita berpenghasilan paling besar. Dan yang “terpaling” adalah fakta bahwa detik.com merupakan icon utama media online di Indonesia.
Sedangkan ranking untuk all web (tidak fokus berita) -, situs Alexa (actionable analytics for the web) menempatkan detik.com berada di posisi nomor lima (5) pada (medio) Maret 2016. Setingkat lebih tinggi dari yahoo.com. Atau empat tingkat di bawah google.co.id, google.com, facebook.com, dan youtube.com.
Setidaknya terdapat beberapa pekerjaan besar yang telah dikawal Budiono Darsono dalam membesarkan detik.com, yakni: menguatkan manajemen redaksi, memperbanyak kreasi menu berita dan sub-menu, memperluas segmentasi pembaca, menguatkan basis tekonologi informasi, dan penguatan Agracom sebagai sebuah perusahaan pengelola.
Kabarnya, Budiono Darsono akan segera menutup kembali saluran menu baru di laman detik.com – jika dalam kurun waktu tertentu tidak dikunjungi oleh minimal dua juta pengakses. Dari sinilah nampak spirit seorang pemimpin, yang kemudian menjadi energi-spirit mewarnai kultur kerja korporasi. Sehinga wajar jika detik.com selalu tampail sebagai media online nomor satu.
Portal berita detik.com tidak hanya populer di dalam negeri, tapi di banyak negara pun menjadi salah satu refrensi bagi pengakses berita. Baik di Amerika, Eropa, Asia, dan Australia. Bahkan di Malaysia dan Singapura tampil sebagai portal berita yang berada di posisi layak jual versi rank in country, Alexa. Juga diminati oleh sites lain dan versi Alexa sudah ada 104,620 sites di dunia yang linked, serta 10 sites yang related links.
Portal berita besutan Budiono Darsono ini juga memiliki tingkat hubungan yang dekat dengan mesin pencari, atau percentage of visits to this site come from a search engine. Berdasarkan situs Alexa, hampir 8% pengunjung detik.com berasal dari search engine, yakni google.co.id 12,6%, google.com 9%, facebook.co 7,4%, yahoo.com 4,8%, dan youtube.com 3,7%. Mereka masuk dengan kata sandi : detiknews 7,8%, detik 6,9%, berita terkini 3,1%, detik.com 2,7%, dan detiksport 2,2%.
Banyak prestasi yang telah dicapai oleh detik.com dan Agracom, sehingga wajar jika perusahaan media papan atas sekelas TransCorp milik pengusaha Chairul Tanjung, pada 2011 berani membelinya dengan harga mahal. Kabarnya akuisisi media online ini mencapai Rp540 miliar. Nilai transaksi terbesar sepanjang sejarah jual-beli media di Indonesia yang belum terpecahkan rekornya hingga kini. Di bawah TransCorp, Budiono Darsono tetap dipercaya sebagai nahkoda di media tersebut.
Dari sederet prestasi itulah PWI Jatim merasa perlu memberikan apresiasi kepada Budiono Darsono, terutama dari aspek jerih payahnya membesarkan detik.com dan belasan tahun mempertahankan prestasnya. Sebagai sebuah media massa, detik.com telah banyak memberikan sumbangsih kepada kehidupan pers nasional, baik dalam konteks pilar demokrasi, edukasi publik, maupun hiburan. Maka itu, dalam peringatan HPN 2016 Tingkat Provinsi Jawa Timur, Budiono Darsono sangat layak dianugerahi “PWI JATIM AWARD” dengan kategori TOKOH PERS NASIONAL.
Anugerah akan dilaksanakan pada puncak resepsi Peringatan HPN Tingkat Provinsi Jatim, Rabu, 30 Maret 2016 pukul 19.00, bertempat di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Bersama Budiono terdapat 10 Tokoh lainnya yang mendapatkan PWI JATIM AWARD 2016 sesuai kategorinya, diantaranya Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur Jatim Soekarwo, Dirut PTPN 10 Subijono, Dirut Semen Indonesia Suparni, Rektor Unair Mohammad Nasih, Planolog Johan Silas, budayawan Zawawi Imron, tokoh sepak-bola Madura Achsanul Qosasi, dan lainnya..*(win5)