Musa, Hafidz cilik asal Babel getarkan dunia
Juara ke-3 lomba hafalan Al Quran Musabaqah Hifzil Quran Internasional Sharm El Sheikh, Mesir

KANALSATU - Seorang bocah cilik berumur enam tahun asal Bangka Belitung Indonesia, Musa La Ode Abu Hanafi berhasil mengharumkan nama baik negaranya di pentas internasional saat dirinya meraih juara ketiga dalam kompetisi hafalan Al Quran pada Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional Sharm El Sheikh, Mesir.
Hafidz (penghapal Al Quran) cilik asal Indonesia itu mengalahkan sejumlah penghapal Al Quran lainnya dengan usia jauh lebih tua diatas dirinya. Dari data yang diberikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Mesir menyatakan bahwa kompetisi penghapal Al Quran itu diikuti sedikitnya 80 peserta dari 60 negara termasuk Indonesia yang diwakili Musa La Ode Abu Hanafi itu.
Sementara itu menurut rilis resmi Kementrian Agama RI pada Minggu (17/4/16), ayahanda Musa, La Ode Abu Hanafi, melalui pesan singkatnya menjelaskan bahwa Musa berangkat ke Mesir pada 9 April 2016 lalu untuk mengikuti MHQ Internasional.
Keberangkatan Musa karena ditunjuk oleh Kementerian Agama yang mendapatkan undangan dari Kementerian Wakaf Mesir. Hal itu tidak terlepas dari prestasi bocah berusia 10 tahun ini pada STQ Nasional pada 2015 lalu yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede.
“Musa mengikuti STQ Nasional 2015 di Pondok Gede Jakarta. Semua pertanyaan dijawab lancar tanpa salah, dan [Musa] mendapatkan peringkat 5 Cabang 30 Juz Putra,” jelasnya.
Menurut La Ode, ada tiga cabang lomba pada MQH Internasional di Mesir, yaitu: cabang hafalan 30 juz dewasa beserta tafsir, cabang hafalan 15 juz dewasa beserta tafsir, dan cabang hafalan 30 juz untuk anak-anak.
Total peserta dari semua cabang berjumlah 80 orang dari 60 negara seperti Mesir, Sudan, Arab Saudi, Kuwait, Maroko, Chad, Aljazair, Mauritania, Yaman, Bahrain, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, Ukraina, dan Indonesia.
“Secara khusus Musa mengikuti cabang ketiga, hal ini sesuai dengan kategori umur Musa saat ini yang baru berumur enam tahun lebih itu,” jelasnya.
Seperti diketahui bahwa Musa merupakan satu-satunya utusan Indonesia yang berpartisipasi pada perlombaan tersebut. Hafidz Indonesia itu merupakan peserta paling kecil di antara seluruh peserta lomba, karena lainnya berusia di atas sepuluh tahun.
La Ode menambahkan, proses lomba terbagi dalam dua tahap. Peserta yang lolos tahap pertama akan masuk pada tahap kedua. Musa menjadi salah satu dari 6 peserta lainnya yang mengikuti tes tahap kedua. Peserta lainnya ada yang berasal dari Meuretania, Mesir, dan negara Muslim lainnya.
“Musa satu-satunya peserta yang dapat menjawab pertanyaan dengan lancar tanpa salah, lupa, dan tanpa di bel tanda teguran,” terang La Ode Abu Hanafi.
Keberadaan Musa ternyata menjadi daya tarik tersendiri dan mendorong jurnalis Kantor Berita MENA mewawancarai Musa dan orang tuanya pada hari pertama kedatangan mereka, sebelum bertanding.
Pada keesokan harinya hasil wawancara tersebut sudah dimuat di sejumlah media Mesir dengan judul: Indonesia Berpartisipasi pada MTQ Internasional Sharm El-Sheikh dengan Peserta Paling Kecil.
Lebih jauh seperti peserta lomba cabang Hifzil Quran golongan anak-anak lainnya, Musa diminta untuk menuntaskan 6 soal, yang berhasil dilalui Musa dengan tenang, tanpa ada salah maupun lupa.
Hal itu berbeda dengan para peserta lomba lainnya yang rata-rata mengalami lupa, bahkan diingatkan dan dibetulkan oleh dewan juri. Lancarnya bacaan dan ketenangan Musa dalam membawakan ayat-ayat Al-Quran yang ditanyakan membuat Ketua Dewan Juri Sheikh Helmy Gamal, Wakil Ketua Persatuan Quraa Mesir dan sejumlah hadirin meneteskan air mata.
Decak kagum terhadap penampilan Hafiz Cilik Indonesia tidak hanya ditunjukkan oleh dewan juri dan para hadirin.
Para peserta yang menjadi saingan Musa pun menunjukkan decak kagum kepada utusan Indonesia tersebut. Setelah tampil, Musa langsung diserbu oleh oleh para hadirin untuk berfoto dan mencium kepalanya sebagai bentuk takzim sesuai budaya masyarakat Arab.
Tak mau ketinggalan, Dewan Juri dan panitia dari Kementerian Wakaf Mesir ikut pula meminta Musa untuk berfoto dengan mereka. Hal itu tidak mereka lakukan terhadap peserta MTQ lainnya.
Meskipun karena usianya yang masih kecil dan lidahnya yang masih cadel dan belum bisa mengucapkan hurup "R" Musa dinilai telah menjadi juara di hati dewan juri dan para hadirin, meskipun secara tertulis dia hanya memperoleh juara tiga. Hal itu karena menurut Syeikh Helmy Gamal bacaan Al-Quran diatur dengan kaedah dan hukum yang jelas dan tidak bisa dikesampingkan antara lain terkait makharijul huruf.
Pada acara penutupan, Menteri Wakaf Mesir Prof. Dr. Mohamed Mochtar Gomaa memanggil Musa dan Abu Hanafi secara khusus. Pada kesempatan tersebut Menteri Gomaa atas nama Pemerintah Mesir mengundang Musa dan Hanafi pada peringatan Malam Lailatul Qadar yang diadakan pada Ramadan mendatang.
Disebutkan bahwa Presiden Mesir akan memberikan penghargaan secara langsung kepada Musa. Pemerintah Mesir akan menanggung biaya tiket dan akomodasi selama mereka berada di Mesir. Menteri Gomaa menyampaikan takjubnya kepada Musa yang berusia paling kecil dan tidak bisa berbahasa Arab, tapi menghapal Al-Quran dengan sempurna.
Prestasi Musa ini sontak disambut gembira masyarakat Indonesia. “Delegasi cilik Indonesia, Musa, telah berhasil meningkatkan kecintaan bangsa lain terhadap Indonesia,” kata Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) KBRI Kairo Lauti Nia Sutedja lewat siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (15/04/16).
Meski hanya menjadi juara tiga dalam kategori hafalan 30 juz anak-anak, Musa dianggap telah berhasil menjalani kompetisi itu karena belum menguasai bahasa Arab. Salah satu tolok ukurnya, dia mampu melantunkan Al Quran secara tartil meski sedikit cadel karena faktor usia. Ketua Dewan Juri, Syeikh Helmy Gamal, mengatakan Musa memiliki potensi yang baik meski belum menjadi juara pertama.
Mendengar prestasi cemerlang Musa, tak urung Presiden RI Joko Widodo yang tengah melakukan lawatan ke Eropa memberikan ucapan selamat dan memberikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan bocah Babel itu yang menunjukkan bahwa 'Laskar Pelangi' memang benar-benar mampu membawa harum nama Indonesia itu dipentas internasional. (win7)