"Gagasan berdirinya SKPB harus dihargai"

KANALSATU - Berdirinya Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa (SKPB) oleh Akbar Tandjung Institute patut dihargai dan kontribusinya ke depan dalam melakukan pengkaderan calon pemimpin bangsa akan dirasakan masyarakat. Demikian dikatakan Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta dalam sambutannya pada pembukaan SKPB di Jakarta, Selasa (3/5).
"Sekolah yang merupakan program dari Akbar Tandjung Institute ini pantas dihargai," kata Oesman Sapta seperti disiarkan LKBN Antara, Selasa malam. "Sekolah ini dapat menjadi ikon dalam membangun pola pengkaderan pemimpin bangsa," tambah Oesap, sapaan akrab Oesman Sapta..
Hadir pada acara pembukaan tersebut antara lain, mantan ketua DPR RI Akbar Tandjung, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Ahmad Basarah, perwakilan partai politik, serta pemimpin organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.
Oesap mengatakan, politisi senior seperti Akbar Tandjung, seharusnya sudah istirahat dari panggung politik."Tapi dia tetap tergelitik melihat kondisi kepemimpinan bangsa saat ini. Akbar berharap SKPB dapat melahirkan figur-figur pemimpin nasional maupun daerah, yang mumpuni dan berjiwa negarawann," katanya.
SEkali lagi Oesap mengapresiasi gagasan Akbar Tanjung membangun SKPB guna memberi kesempatan kepada putra-putri bangsa yang ingin berkiprah di panggung politik praktis maupun politisi untuk menempa kemampuan kepemimpinannya.
Pada kesempatan tersebut, Oesman Sapta juga menyanmpaikan romantisme - kenangan ketika rumahnya dijadikan tempat pertemuan kelompok aktivis Cipayung pada masa lalu."Suasananya sangat akrab dan menyatu meski berbeda aliran. Inilah rasa kebangsaan yang sekarang mulai luntur," katanya.
Sementara itu, Akbar Tandjung menjelaskan, SKPB adalah tempat pembelajaran politik, kepemimpinan politik, dan isu-isu politik lainnya. "Ini merupakan sumbangsih Akbar Tandjung Institute untuk pendidikan, khususnya pendidikan politik dan demokrasi," katanya.
Angkatan I sekolah tersebut sebanyak 23 yakni pemimpin organisasi kemahasiswaan dan pemuda, seperti dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Materi pembelajarannya, antara lain, etika politik, sistem kepartaian, politik lokal, ekonomi politik, Pancasila, dan wawasan kebangsaan. (Antara/win3)