Genjot kinerja pemasaran, Puspa Agro gandeng PPI

KANALSATU - Divisi Trading House PT Puspa Agro  terus melakukan terobosan untuk memaksimalkan peran ekonominya dalam meningkatkan nilai tambah. Komitmen itu diimplementasikan dalam aksi terus melakukan pengembangan wilayah dan volume serapan hasil panen petani, nelayan, dan peternak di berbagai daerah di Jatim.

Di sisi lain, terobosan menjalin kerja sama dengan mitra bisnis untuk mempercepat pemasaran aneka komoditas yang diserap dari petani, nelayan, dan peternak, terus dilakukan. Salah satu terobosan yang dilakukan Puspa Agro adalah dengan menggandeng PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero).Kerja sama pemasaran ini sekaligus sebagai perluasan pangsa pasar, karena baik Puspa Agro maupun Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) memiliki segmen dan sasaran pasar yang beragam.

Dirut PT Perusahaan Pedagangan Indonesia (PPI), Agus Andiyani mengatakan, kerja sama ini akan terus dikembangkan, karena perusahaan yang dipimpinnya mulai intens menggarap pasar sektor pangan. "Dan, Puspa Agro merupakan pilihan tepat karena sudah eksis di sektor pertanian, terutama pangan," kata Agus Andiyani, Jumat (9/9/16).

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim M. Ardi Prasetiawan, mengungkapkan, kerja sama pemasaran dua perusahaan ini bisa dimaksimalkan dengan menyinergikan kantor perwakilan dagang (KPD)  Jatim yang tersebar di 26 provinsi di Indonesia dengan 36 perwakilan PT PPI di seluruh wilayah Indonesia.

"Ini akan menjadi kekuatan besar dalam perannya ikut menjaga stabilitas harga dan memperluas jaringan pasar di seluruh wilayah Indonesia," kata Ardi.

Langkah Puspa Agro dalam memaksimalkan serapan hasil panen petani melalui trading house-nya tidak sia-sia. Saat diuji-coba pertengahan 2014 lalu, serapan terhadap hasil panen  petani, nelayan, dan peternak baru mencapai 780 ton dengan nilai transaksi Rp 14,37 miliar.

Tahun 2015 capaian itu meningkat drastis menjadi Rp78 miliar dari total volume 5.485 ton. Dan, tahun 2016 ini dipastikan kembali meningkat, karena hingga satu semester saja (Januari-Juni), serapan trading house telah mencapai 9.677 ton dengan nilai Rp 83,98 miliar. Hingga akhir tahun ini,  serapan Puspa Agro dari divisi trading house diprediksi  melampaui Rp 150 miliar.

"Kami memang lagi memaksimalkan peran trading house sambil menunggu perkembangan pengoperasian pasar induk yang juga kami kelola," kata Dirut PT Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin.

Seperti diketahui, pasar induk Puspa Agro yang diharapkan menjadi salah satu pengungkit perekonomian Jatim dan membantu pemasaran hasil panen petani Jatim hingga kini belum maksimal perannya. Selain dukungan infrastruktur  yang kurang, karena arus lalu lintas yang menuju atau keluar pasar induk di Desa Jemundo, Kec. Taman, Sidoarjo ini cenderung macet, kata Muchibuddin, untuk menghidupkan pasar  induk, rata-rata memerlukan waktu sekitar 20 tahun.

"Kami telah melakukan studi banding dan survey ke pasar-pasar induk di Thailand juga Australia. Di sana untuk mengidupkan pasar induk yang benar-benar berkembang butuh waktu 17 hingga 20 tahun. Kami yakin, kalau infrastruknya baik, terutama kondisi jalan yang menghubungkan Puspa Agro dan sekitarnya, pasar induk Puspa Agro juga bisa berperan maksimal," katanya.

Karena itu, untuk bisa tetap menyerap hasil panen petani, nelayan dan peternak di Jatim, Puspa Agro melakukan langkah percepatan lewat divisi trading house-nya.  Selain menyerap berbagai komoditas pertanian, Puspa Agro juga terus melakukan pengembangan mitra bisnis untuk membantu pemasarannya.(win8)

Komentar