Mafia narkoba Meksiko otaki penculikan dan pembunuhan wartawan

aksi unjukrasa para jurnalis dan pegiat HAM memprotes serangkaian kekerasan terhadap kehidupan pers yang diduga dilakukan oleh jaringan mafia narkoba

KANALSATU – Sedikitnya sudah lima wartawan senior di Meksiko dibunuh selama 2017 dan jarigan mafia narkotika diduga kuat berada dibalik kekerasan tersebut. Para aktivis dan pegiat HAM mendesak keras pihak keamanan agar segera menangkap pelaku penembakan, dan menuntut jaminan keamanan bagi para jurnalis.

“Segera tangkap pelaku dan pihak yang berada dibalik penembakan terhadap para jurnalis.  Jika tidak maka kehidupan pers di negara ini akan terjebak dalam ketakutan dan itu artinya demokrasi sudah mati,” kata salah satu aktivis jurnalis saat melakukan unjukrasa pada Rabu (17/5/17).

Para aktivis jurnalis dan pegiat HAM negara itu terpaksa turun ke jalan setelah salah seorang wartawan senior bernama Javier Valdes (50) mati ditembak pada Sinin (15/5) tengah hari di negara bagian Sinaloa. Kematian Valdes melengkapi daftar wartawan senior yang dibunuh selama 2017, dan kekuatan mafia narkoba diduga kuat berada dibalik serangkaian  teror melalui pembunuhan tersebut. 

“Ini pembunuhan karakter profesi jurnalis. Jika tidak segera dihentikan dan ditangkap pelakunya, maka matilah demokrasi di negeri ini,” kata jubir unjukrasa yang berdemo di pusat ibu kota sembari membawa foto Javier Valdes (50) – sebagai wartawan ke lima  yang ditembak mati. Valdez adalah salah satu wartawan ternama yang meliput ‘perang narkoba mematikan’ di Meksiko.

Para aktivis unjukrasa pemerintah bertindak tegas untuk segera menghentikan serangkaian aksi kekerasan, penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah wartawan yang dinilai kritis terhadap maraknya persaingan bisnis dan mafia narkoba negara tersebut.

Sementara itu, Presiden Enrique Pena Nieto mengatakan bahwa pihaknya telah memerintahkan penyelidikan terhadap serangkaian aksi kejahatan terhadap para jurnalis. “Presiden berjanji akan mempertahankan kebebasan pers, yang merupakan fondasi bagi demokrasi negara kita,” kata jubir pemerintah.

Kelompok hak-hak pers Articulo 19 mengatakan,  itu kali pertama Pena Nieto bereaksi secara terbuka terhadap salah satu gelombang pembunuhan jurnalis, dan itu bisa menjadi tanda meningkatnya tekanan terhadap presiden.

Serangkaian pembunuhan jurnalis telah memicu gelombang kemarahan bagi banyak kalangan terutama sejumlah kelompok pegiat HAM. Bahkan aksi-aksi unjukrasa secara terbuka menuduh pejabat penegak hukum yang korup telah secara terbuka mencegah penetapan hukuman bagi pembunuh jurnalis.(afp/ks-3)

 

Komentar