Enam wartawan dibunuh, kini ada lagi yang diculik
Kehidupan pers diteror jaringan mafia narkoba

KANALSATU - Kekerasan terhadap wartawan di Meksiko kian marak. Sebelumnya sudah ada enam jurnalis yang diculik, disiksa dan dibunuh. Pada Kamis malam (18/5/17) dilaporkan ada lagi yang diculik yakni Salvador Adame, pemilik sebuah saluran televisi lokal. Adame diculik kelompok bersenjata tidak dikenal. Keluarga korban mengabarkan penculikan ini kepada AFP, Jumat (19/5).
Serangkaian kekerasan dan pembunuhan terhadap sejumlah wartawan senior ini diduga dilakukan jaringan mafia narkoba. Persaingan antar mafia barang haram itu aktif ditulis oleh sejumlah media yang berujung pada aksi penculikan dan pembunuhan. Pada Senin (15/5) jurnalis senior bernama Javier Valdes (50) mati ditembak. Sebelumnya sudah ada lima yang diculik yang berakhir pada kematian.
Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto, Rabu (17/05) sudah berjanji akan meningkatkan jaminan keamanan dan keselamatan wartawan, setelah ratusan aktivis jurnalis dan pegiat HAM melakukan aksi unjukrasa atas kekerasan yang terjadi. Tapi janji Presiden Pena Neto itu hanya berumur sehari. Buktinya pada Kami malam lalu (18/5) masih ada wartawan senior (Salvador Adame) yang diculik.
Rata-rata korban berlokasi di Meksiko Barat, tepatnya sekitar negara bagian Michoacan, yakni salah satu wilayah yang terdampak paling parah oleh kekerasan geng narkoba selama bertahun-tahun. Sejumlah saksi dan keluarga korban mengatakan, segerombolan orang bersenjata dan bertudung membawa paksa Salvador Adame dari sebuah toko. Mereka berharap Salvador Adame tidak bernasib sama dengan wartawan korban-korban penculikan sebelumnya.
Kelompok pembela hak azazi dan kebebasan pers menyebutkan sedikitnya sudah enam wartawan dibunuh di Meksiko selama 2017 dan sudah banyak sekali yang tewas dibunuh sejak tahun 2000an setelah sebelumnya mengalami penculikan dan kekerasan. Pihak keamanan dan pemerintah setempat seolah tidak berdaya menghadapi kebengisan jaringan mafia narkoba.
Namun demikian, para aktivis dan jurnalis di Meksiko seolah tidak punya rasa takut terhadap kekerasan mafia gelap. Terbukti serangkaian unjukrasa berlangsung berkali-kali selama 2017. Pada Rabu lalu (17/5) juga ada ratusan massa aktivis yang melakukan unjukrasa menuntut pemerintah meningkatkan keamanan terhadap para awak media.
“Segera tangkap pelaku dan pihak yang berada dibalik penembakan terhadap para jurnalis. Jika tidak maka kehidupan pers di negara ini akan terjebak dalam ketakutan dan itu artinya demokrasi sudah mati,” kata salah satu aktivis jurnalis saat melakukan unjukrasa pada Rabu (17/5/17).
Para aktivis jurnalis dan pegiat HAM negara itu terpaksa turun ke jalan setelah wartawan senior bernama Javier Valdes (50) mati ditembak pada Sinin (15/5) tengah hari. Kematian Valdes melengkapi daftar wartawan senior yang dibunuh selama 2017, dan kekuatan mafia narkoba diduga kuat berada dibalik serangkaian teror melalui pembunuhan tersebut.
“Ini pembunuhan karakter profesi jurnalis. Jika tidak segera dihentikan dan ditangkap pelakunya, maka matilah demokrasi di negeri ini,” kata jubir unjukrasa yang berdemo di pusat ibu kota sembari membawa foto Javier Valdes (50). Valdez adalah salah satu wartawan ternama yang meliput ‘perang antar geng narkoba mematikan’ di Meksiko.
Para aktivis meminta pemerintah bertindak tegas untuk segera menghentikan serangkaian aksi kekerasan, penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah wartawan yang dinilai kritis terhadap maraknya persaingan bisnis dan mafia narkoba negara tersebut. Gelombang demo ini yang kemudian memaksa Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto untuk kali pertama mereaksi secara terbuka atas kekerasan terhadap pers selama ini.
Pena Neto mengatakan pihaknya telah memerintahkan penyelidikan terhadap serangkaian aksi kejahatan terhadap para jurnalis. “Kami berjanji akan mempertahankan kebebasan pers, yang merupakan fondasi bagi demokrasi negara kita,” kata Pena Neto.
Gelombang kemarahan dari banyak kalangan terutama dari para pegiat HAM secara terbuka menuduh pejabat dan penegak hukum yang korup telah mencegah penetapan hukuman bagi para pembunuh wartawan. Mereka menuduh jaringan mafia telah memberikan banyak suap dan dukungan pendanaan politik.
Sementara itu, Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists/CPJ) yang berbasis di AS menyatakan bahwa Meksiko masih menjadi salah satu negara negara paling berbahaya di dunia untuk jurnalis, meski sudah dibentuk badan penuntutan tersebut.(afp/ant/ks-4)