Pasca bentrok Kashmir, Trump: Akan indah jika India - Pakistan rukun

KANALSATU – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi pesan khusus menyikapi panasnya konflik bersenjata yang telah menewaskan sejumlah korban jiwa dari pihak tentara India dan gerilyawan radikalis di Kashmir Utara – wilayah yang sedang disengketakan kedua belah pihak, yakni Pakistan dan Idia.
“It would be wonderful if they got along,” kata Trump beberapa hari pasca pernyataan resmi (klaim) dari kelompok militan di Kashmir wilayah Pakistan, bahwa pihaknya yang bertanggung jawab atas insiden pemboman bunuh diri besar-besaran di Kashmir – wilayah India pada 14 Februari 2019 lalu, sebagaimana dikutip dari The Washington Post (21/2/19).
Trump menyebut insiden itu "mengerikan" dan menyampaikan pesan khusus ecara singkat untuk India dan Pakistan agar segera berdamai. “It would be wonderful if they got along (akan luar biasa jika mereka rukun)," kata Trump.
Sebagaimana diberitakan sejumlah media asing sebelumnya, sedikitnya 40 polisi keamanan India dinyatakan tewas setelah bom bunuh diri meledak di kawasan Kashmir yang berada di wilayah India. Wilayah Kashmir Utara merupakan daerah abu-abu yang banyak ditinggali kalangan radikalis, sejak wilayah tersebut disengketakan antara India dan Pakistan puluhan tahun silam.
India menuduh Pakistan tidak becus mengatasi gerilyawan muslim radikal yang ditengarai banyak bermarkas di Kashmir - wilayah Pakistan. Sementara pihak Pakistan meraksi keras atas tuduhan tersebut, dan menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan operasi dan menindak tegas para gerilyawan radikalis yang berada di Kashmir bagian wilayahnya.
AS melihat sumber konflik antar kedua negara bertetangga itu adalah sengketa wilayah, yakni Kashmir Utara yang merupakan wilayah perbatasan Himalaya – yang statusnya telah diperebutkan kedua belah pihak.
Sejarah mencatat, sejak kedua negara berkonflik akibat sengketa batas wilayah, telah terjadi tiga kali pertempuran atau perang singkat – yakni pada tahun 1947, 1965 dan 1971 - serta konflik – konflik kecil pada tahun 1999. Selama dua dekade terakhir, sudah ada upaya pemulihan hubungan kedua negara. Tapi pihak gerilyawan radikal selalu mengacaukan dengan aksi-aksi kekerasan.(ks-2)