Media dan Politik

Oleh : Prasojo (Indonesia Menggugat)

Silvio Berlusconi

(WIN) : - Minggu, 13 Desember 2009, agaknya menjadi salah satu hari sial bagi Silvio Berlusconi. Sebuah model katedral Gothic Milan dilemparkan Massimo Tartaglia ke wajahnya usai berpidato di Piazza del Duomo. Tulang hidung PM Italia kala itu pun dikabarkan patah, demikian pula dua giginya yang dikabarkan rontok.Sakit, tentu saja. Namun, lemparan Tartaglia itu justru menyelamatkan kekuasaan Berlusconi yang tengah dirundung banyak masalah. Berkat media yang dikuasainya, ekspose massif berita pemukulan itu telah menjadikan public Italia melupakan skandal rekaman percakapan seks Berlusconi yang menghebohkan waktu itu.

Bagi banyak kalangan di Indonesia, nama Berlusconi agaknya tidak terlampau asing. Selain menjadi PM Italia cukup lama, ia juga adalah pemilik klub sepakbola ACMilan, dengan jargon Forza Azzuri atau Forza Italia—Berlusconi juga menjadi pemimpin partai Forza Italia—yang lekat di setiap perhelatan Piala Dunia ataupun Piala Eropa. Selain itu, ia juga menguasai hampir separuh industry media Italia. Melalui Mediaset, ia mengontrol tiga saluran televisi nasional yang mengusai hampir setengah penonton nasional. Ia juga mempunyai Publitalia, perusahaan periklanan dan publisitas terkemuka Italia. Selain itu, Berlusconi memiliki Mondadori, penerbit majalah berita Panorama; Medusa dan Penta (bioskop dan distribusi video rumahan), asuransi dan perbankkan (Mediolanum) serta berbagai aktivitas lainnya. Di luar itu, istri Berlusconi juga menguasai Il Foglio dan adik lelakinya menguasai Il Giornale, keduanya suratkabar tengah-kanan.

Dengan semua yang dikuasainya itu, Berlusconi yang sebenarnya tidak terlampau disukai public Italia itu, mampu menggiring opini public tentang kepantasan dirinya memimpin Italia. Ia juga berulang kali berhasil menutupi skandal penyalahgunaan kekuasaan, suap dan seks yang dilakukannya.

Hubungan media dan politik memang kian menjadi kombinasi tak terpisahkan. Media bukan hanya menjadi alat komunikasi, tapi juga industri yang menopang kehidupan berpolitik. Dan ketika kemudian kapitalisme memenangkan persaingan, hegemoni atas media pun menjadi konsekwensi yang tak terelakkan.

Rupert Murdoch menjadi contoh lain yang tak bisa dilupakan. Meski memiliki banyak reputasi buruk, ia adalah legenda hidup dalam industry media kontemporer. Melalui News Corporation, Murdoch merajai bisnis percetakan, surat kabar, perfilman, internet hingga TV berbayar. Dialah pemilik 20th Century Fox, Fox Television Studios, DIRECTV, Fox News Channel, Harper Collins Publishers, Festival Records hingga the New York Post.

Untuk melanggengkan hegemoninya, ia menebar banyak dana menyokong kampanye sejumlah pemimpin politik di berbagai negara. Di Inggris, ia dikabarkan menjadi pendukung penting Margareth Thatcher. Konon, berkat dukungan itu, ia leluasa mengakuisisi The Times dan The Sun. Selepas itu, ia juga menjadi donator bagi Toni Blair, Gordon Brown, dan juga David Cameron, di samping juga dikabarkan menjadi pendukung Kevin Rudd (mantan PM Australia) dan juga Barack Obama.

Murdoch memang bukan Berlusconi, Meski dekat dengan dunia politik, ia lebih memilih berada di balik layar. Bagi Murdoch, seperti halnya kampiun kapitalis lainnya, ia tak pernah kenal sudah, meskipun ia dikecam ramai atas skandal penyadapan telpon yang dilakukan News of the World miliknya di Inggris.

Dan ketika banyak perusahaan media saling merger, Murdoch justru menebarkan banyak tantangan: "Anda mau merger sekarang, atau kita bertarung dulu untuk kemudian merger."

Di Indonesia hal serupa juga terjadi. Kuasi pemilik media dan pelaku politik tampak marak. Sebut saja Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar, pemilik kelompok usaha Bakrie & Brothers ini adalah pemilik TVOne, ANTV, dan juga Vivanews.com.

Perusahaan media keluarga Bakrie itu berada di bawah payung PT Visi Media Asia, yang dipimpin Erick Thohir. Erick sendiri—adik kandung Boy Garibaldi Thohir, salah satu pemilik perusahaan pertambangan Adaro—adalah pemilik Jak-TV dan kelompok usaha Mahaka, yang antara lain mengelola Republika dan jaringan radio Prambors.

Kemudian ada Surya Paloh (Media Indonesia dan Metro TV), pendiri Partai Nasdem yang kini berkolaborasi dengan Hary Tanoesoedibyo, pemilik Media Nusantara Citra (MNC) yang menguasai RCTI, Global TV, Sindo TV, MNC TV, Koran Sindo, Trust, MNC Radio, serta sejumlah jaringan media lokal.

Kekuatan MNC belakangan agaknya akan bertambah dengan masuknya Haim Saban, pengusaha asal Israil yang juga pemilik Saban Capital Group Inc. Melalui Indonesia Media Partner LLC, yang terafiliasi dengan Saban Capital Group Inc. dan PT Global Mediacom Tbk., Haim membeli 5 % saham MNC seharga Rp 700 miliar, dan masih mendapat jatah opsi pembelian saham sebesar 2,5 %.

Sebelumnya, Saban sempat membangun Fox Kid’s Network berkongsi dengan Rupert Murdoch. Adapun Murdoch sendiri pernah masuk ke Indonesia dengan membentuk usaha patungan dengan kelompok Bakrie untuk mengelola ANTV. Selain itu, Saban yang pernah bekerja pada Badan Pertahanan Israel itu juga dikenal sebagai pengusaha yang lekat dengan dunia politik. Ia misalnya juga menjadi salah satu pendukung penting Bill Clinton.

Ekspansi Saban ke Indonesia itu memang terkesan sepi, terutama akibat berita pembelian portal berita detik.com oleh pemilik CT.Corp, yang mengelola stasiun Trans TV dan Trans 7, Chairul Tanjung. Dan meski secara resmi tidak terafiliasi dengan partai politik, namun Chairul Tanjung sempat digadang-gadang Partai Keadilan Sejahtera sebagai calon presiden 2014, berpasangan dengan Djoko Suyanto (Menko Polhukam). Di luar itu, Chairul Tanjung juga mempunyai kedekatan dengan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.

Selain itu masih ada Kelompok Jawa Pos, pemilik Koran Jawa Pos, Rakyat Merdeka, dan jaringan di daerah-daerah dengan merek Radar, serta sejumlah stasiun TV lokal. Kelompok media ini didirikan dan dimiliki PT Grafiti Pers, yang juga pendiri Tempo, setelah diambil alih dari pemilik sebelumnya.

Kelompok yang dikelola dan dibesarkan Dahlan Iskan ini, merupakan salah satu pendukung SBY pada pemilu silam. Entah pada pemilu 2014 nanti, meskipun aromanya sudah mulai tampak.

Dua kelompok media besar yang masih menjadi bola liar—setidaknya sampai hari ini—adalah Kelompok Kompas dan Tempo. Namun demikian, gerak pendulum kedua kelompok media ini dipastikan akan segera tampak jelang pemilu 2014 mendatang.

Di luar itu, dengan pola kuasi media dan politik serupa itu, agaknya kita bisa menarik benang yang agak pasti bahwa, informasi yang disajikan oleh media tersebut dipastikan sarat dengan kepentingan dan serba bias. Pembodohan public melalui media sangat mungkin terjadi karena mereka harus melindungi kepentingan politik pemilik dan pengelolanya. Itu artinya menempatkan media sebagai control social hanya sebuah ilusi. Apalagi menempatkan media sebagai pilar tambahan setelah tiga pilar Montesquau dalam demokrasi. Sebab adalah sesuatu yang teramat naïf jika media yang dimiliki politisi masih bisa mengatakan bebas dari kepentingan politik sang pemilik.

Bagi sebagian masyarakat perkotaan yang telah memasuki era social media seperti twitter, mungkin dapat terbebas dari situasi itu. Tapi bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang masih berkutat dengan media konvensional, dominasi pemberitaan yang sangat bias, terutama menjelang pemilu nanti agaknya menjadi situasi yang tak terelakan.

Dalam situasi serupa itu, saran terbaik bagi kita, konsumen informasi yang awam adalah: ketika sebuah media terafiliasi politik memberitakan kegiatan kelompok politik atau figure, maka percayalah, itu semua sampah. Begitu pula ketika media itu membombardir lawan politiknya, maka janganlah coba-coba mengunyah, tapi buanglah, kecuali bila yang diungkap adalah fakta tanpa disertai opini.

Namun, bagi para penguasa yang hari ini masih bisa arogan berkat media yang dimilikinya, ketahuilah, kekuasaan Anda agaknya takan lagi lama. Kebangkitan social media secara perlahan akan merevolusi struktur pemegang kekuasaan. Penurunan para gatekeeper informasi tradisional kini telah berada di halaman. Sebab bahkan Rupert Murdoch pun tak mampu membendung kemarahan masa lewat media on-line, begitupun Berlusconi.

Dan karena itu, seperti sebuah petuah tua: selalu ada giliran bagi setiap orang untuk di atas atau di bawah, siapapun dia. Jadi janganlah adigang, adigung, lan adiguna. Wallahu’alam.*

Komentar