Dorong Peningkatan Kualitas, PT Susanti Megah Beri Edukasi ke Petani Garam

KANALSATU - PT Susanti Megah terus mendorong peningkatan kualitas garam dari Petani. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan memberikan edukasi.
Direktur Utama PT Susanti Megah Hermawan Santoso mengungkapkan, peningkatan kualitas garam memang menjadi konsen PT Susanti Megah. Ini dilakukan agar garam petani dapat memenuhi kebutuhan garam konsumsi di dalam negeri.
Terlebih lagi pada tahun 2022, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 126/2022 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional menetapkan kebutuhan garam nasional. Dalam PP tersebut dijelaskan bahwa baik garam konsumsi dan industri, harus dipenuhi dari garam produksi dalam negeri.
"Tujuan dikeluarkannya Perpres nomor 126/2022 itu agar kita tidak lagi mengandalkan impor. Agar tahun depan tidak ada Impor garam lagi," ujar Hermawan seusai edukasi ke petani garam, di Surabaya, Kamis (15/8/2024). Kali ini, edukasi diberikan kepada sekitar 60 petani garam yang berasal dari wilayah Madura, Indramayu dan Demak.
Hermawan menuturkan, Kadar NaCI garam rakyat saat ini rata-rata masih di angka 80 persen. Padahal idealnya harus mencapai 96 persen untuk garam konsumsi. Sedangkan untuk garam industri lebih tinggi lagi yaitu mencapai 98-99 persen.
Begitu juga dengan kadar Ca dan Mg yang juga masih jauh dari standar. Kadar Ca dan Mg garam petani saat ini masih tinggi, di kisaran 10.000 hingga 14.000. Padahal standarnya di bawah 600. Tingginya kadar Ca dan Mg menyebabkan garam menjadi lembab.
Masih rendahnya kualitas garam petani disebabkan beberapa hal. Selain karena cuaca, juga karena hal teknis yang belum dipenuhi.
”Soal cuaca, kita memang berbeda dari Australia yang musim hujannya hanya satu bulan. Itu juga curah hujannya tidak terlalu tinggi. Berbeda dibandingkan kita di sini,” ujarnya.
Selain itu, teknik petani garam di sini memang berbeda. Saat ini petani garam umumnya hanya memberikan geomembran di bawah meja pengkristalan.
”Di Australia, mereka mengeringkan garam bisa sampai satu tahun. Sedangkan di sini, paling seminggu sudah dipanen garamnya,” ucapnya. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari masalah ekonomi.
Ia berharap melalui edukasi ini, kualitas garam petani bisa meningkat dan tidak perlu lagi dilakukan impor.
PT Susanti Megah sendiri tahun ini menargetkan mampu menyerap sebesar 300 ribu ton garam rakyat. Penyerapan ini naik dari realisasi tahun lalu yang hanya dikisaran 150 ribu ton dari target sebesar 230 ribu ton.
Selain menyerap dari petani garam di Madura, Demak dan Indramayu, PT Susanti Megah juga menyerap garam dari Kupang, NTT. "Saya perkirakan panen tahun ini akan lebih bagus karena cuaca juga lebih bagus,” pungkasnya. (KS-5)