Tingkatkan Produktivitas, SGN Perkuat Tebu Rakyat
Buka Akses Kredit untuk Petani

KANALSATU - PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) terus melakukan penguatan kemitraan dengan petani. Hal ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani tebu rakyat guna mendukung swasembada gula nasional.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara (PTPN) III Mohammad Abdul Ghani mengatakan, salah satu fokusnya adalah perbaikan dari sisi bahan baku. Ia mengungkapkan, saat ini pasokan tebu untuk Pabrik Gula masih kurang, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Abdul Ghani menggambarkan produktivitas tebu pada tahun 1930 bisa mencapai 14,7 ton per hektare. Kondisi saat ini, produktivitas per hektare 5 ton. Selepas program penguatan diharapkan produktivitas bisa 8 ton per hektare.
Kalau petani mampu menaikkan produktivitas 5 ton ke 8 ton maka untuk menghasilkan 1 kg HPP gula itu turun dari sekitar Rp9.763/kg menjadi hanya Rp6.269/kg. Biaya ini sudah termasuk sewa lahan, sehingga bila lahan milik sendiri biaya pokoknya bisa turun.
"Bila produktivitas bisa 8 ton per hektare, sekarang gula Rp15.000, uangnya sudah Rp120 juta. Kesimpulannya petani mendapat Rp47juta per hektare (bila sewa) kalau lahan sendiri bisa mencapai Rp60 juta," kata Ghani saat launching Program Penguatan Tebu Rakyat di Surabaya, Rabu (21/8/2024).
Program Penguatan Tebu Rakyat ini terdiri dari sejumlah program. Dari sisi on farm, memiliki sejumlah program. Di sisi lahan (on farm), petani dipastikan mendapatkan bibit yang terbaik, dipelihara dengan cara benar, diberi pupuk sesuai kebutuhan, dan dipanen saat yang tepat.
Guna memaksimalkan target tersebut, SGN mengandeng lembaga pembiayaan guna memperkuat petani. Alokasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) tersedia bagi petani tebu. Akses kredit bakal difasilitasi SGN dan plafon pembiayaan bisa maksimal.
"Ekosistem inilah yang nanti bisa membantu petani meningkatkan produktivitasnya," ujarnya.
Dia menjelaskan petani tebu saat ini bisa mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) Khusus yang diluncurkan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian. Program ini tidak lagi dibatasi plafon maksimal Rp500 juta. Dan satu petani bisa mengajukan KUR Khusus lebih dari sekali.
"Saya terima kasih kepada kementerian yang secara konkret memberikan dukungan, terutama ke petani, dimana KUR Khusus petani tebu plafonnya sudah tidak ada lagi," jelasnya.
Dukungan lain terhadap petani, ada program Mari Kita Majukan Usaha Rakyat (Makmur). Adapula pendanaan dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), asuransi, penguatan sarana produksi dari Petrokimia Gresik, PTPN, RNI dan Bulog.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi, mengatakan penguatan ekosistem tebu rakyat ini memang salah satu kunci untuk swasembada gula konsumsi terutama pada 2028 mendatang. Perseroan sudah menyiapkan KUR khusus kluster tebu.
"Kami menyiapkan infrastruktur digital E-Tera dimana ini menjadi basic data dari petani dan kepentingan serta kebutuhan petani untuk menuju target 8 ton per hektare," jelasnya soal dukungan ke petani.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro Dan Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian menjelaskan, program KUR memang digunakan untuk beberapa kluster usaha yang membutuhkan pinjaman Secara rutin.
Dia pun berharap SGN sebagai off taker dari produk petani bisa bersinergi sehingga pendanaan lebih lancar. (KS-5)