Perempuan dan Beban Ganda, StatsMe Paparkan Hasil Riset Kesetaraan Gender di Dunia Kerja

KANALSATU – Perempuan memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Namun sayangnya perempuan juga masih menghadapi tantangan besar.
Meskipun tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan meningkat menjadi 55,41 persen pada Februari 2024, menurut data GoodStats, mereka tetap terbebani dengan tanggung jawab ganda di rumah dan di tempat kerja.
“Hari Perempuan Internasional yang kita peringati pada 8 Maret lalu mengingatkan kita pentingnya membangun gender awareness dalam masyarakat,” ujar Direktur Utama PT Cemerlang Statistika Indonesia (StatsMe) Lussi Agustin dalam peluncuran hasil riset "Data & Gender" di Surabaya, Senin (10/3/2025).
Riset StatsMe yang dilakukan pada 14-25 Februari 2024 terhadap 479 pekerja perempuan di 21 kota/kabupaten di Jawa Timur menunjukkan bahwa 58,87 persen responden berbagi tugas rumah tangga dengan suami mereka. Meski begitu, kontribusi suami masih bervariasi, dengan hanya 42,8 persen responden menyatakan pasangan mereka terlibat dalam lebih dari separuh pekerjaan domestik.
“Kesadaran gender di Indonesia memang meningkat, tetapi stigma sosial bahwa perempuan lebih baik berada di rumah masih menjadi tantangan besar. Ini berdampak pada tekanan mental dan fisik yang dirasakan perempuan bekerja,” lanjut Lussi.
Survei tersebut juga mengungkap bahwa 54,28 persen perempuan mengalami stres akibat beban ganda yang mereka tanggung. Kelelahan fisik dan mental ini berisiko mengganggu keseimbangan rumah tangga, bahkan bisa memicu konflik keluarga.
Belum lagi fakta biologis yang membuat perempuan mengalami ketidakstabilan hormon satu bulan sekali saat menstruasi. Maka, selain fisik, perempuan juga rentan mengalami kelelahan mental.
Dengan jumlah penduduk perempuan yang mencapai 139,9 juta jiwa—dan diprediksi melampaui jumlah laki-laki pada 2040—peran perempuan dalam ekonomi Indonesia akan semakin besar. Namun, tanpa dukungan dari keluarga dan lingkungan, perempuan tetap menghadapi hambatan struktural dalam menjalankan peran ganda mereka.
Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, rasio pekerja perempuan di Indonesia masih rendah. Dalam kajiannya, IMF menyebutkan bahwa rata-rata rasio pekerja perempuan masih 20 persen di bawah rata-rata rasio pekerja laki-laki. Namun, kondisi di Malaysia, Singapura, Hongkong, dan China relatif lebih baik ketimbang Indonesia.
Meskipun ada kemajuan dalam partisipasi perempuan di dunia kerja, kesetaraan gender masih jauh dari ideal. Perubahan mindset dan pola kerja sama dalam rumah tangga diperlukan agar perempuan tidak terus menerus menghadapi tekanan berlebih.
Berdasar wawancara lanjutan yang StatsMe lakukan terhadap sebagian responden, perempuan yang bekerja sangat membutuhkan dukungan fisik dan mental dari suami dan lingkungan. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan tiap keluarga adalah menyeimbangkan waktu bekerja dan istirahat.
"Bukankah tugas yang dikerjakan bersama-sama akan lebih cepat selesai? Itu pula yang dibutuhkan para perempuan bekerja dalam rumah tangga mereka. Teamwork. Suami dan istri sama-sama mengurus rumah tangga dengan porsi yang seimbang. Dalam hal ini, mengasuh anak-anak juga termasuk sebagai urusan rumah tangga. Maka, suami dan istri perlu berperan aktif," jelas Lussi.
Selain berbagi beban, dua hal lain yang bisa dilakukan adalah membuat skala prioritas dan meluangkan waktu untuk healing alias menghalau stres. Pembiasaan-pembiasaan berbagi peran dan bekerja sama di dalam rumah tangga itu akan memengaruhi pula cara pandang lingkungan masyarakat terhadap peran perempuan dan laki-laki.
Baik peran mereka sebagai pelaku ekonomi, maupun sebagai istri dan suami serta ibu dan ayah, dalam kehidupan sehari-hari.
"Dengan demikian, para perempuan pekerja yang di memikul beban ganda di pundak mereka pun akan mampu menjalankan peran dengan seimbang. Punya peluang dan ruang untuk mengaktualisasikan diri merupakan kunci kebahagiaan perempuan," pungkas Lussi. (KS-5)