Perputaran Uang Lebaran 2025 Anjlok, Kadin: Daya Beli Melemah


KANALSATU – Perputaran uang selama masa Idul Fitri 2025 tercatat turun signifikan sebesar 12,28 persen dibandingkan tahun lalu, dari Rp157,3 triliun menjadi Rp137,97 triliun. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menyebut penurunan ini sebagai sinyal melemahnya daya beli masyarakat.

"Ini mencerminkan turunnya konsumsi rumah tangga. Penurunan ini juga berkaitan erat dengan menurunnya jumlah pemudik dan gejala deflasi yang tengah melanda ekonomi nasional," ujar Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto.

Menurutnya, momen Lebaran yang biasanya memicu lonjakan konsumsi di berbagai sektor—seperti pangan, transportasi, pariwisata, dan ritel—justru mengalami kontraksi. Hal ini menunjukkan masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, dan mengutamakan kebutuhan dasar.

Data deflasi secara nasional sebesar 0,48% (mtm) dan 0,09% (yoy) menjadi bukti bahwa daya beli sedang tertekan. "Deflasi di tengah momentum Lebaran adalah anomali. Seharusnya ada inflasi musiman akibat lonjakan permintaan," kata Adik.

Ia menambahkan, meningkatnya gelombang PHK di berbagai sektor turut memperparah kondisi ini. Berkurangnya pendapatan rumah tangga berdampak langsung pada pengeluaran masyarakat, termasuk untuk kebutuhan khas Lebaran seperti baju baru, bingkisan, makanan khas, dan ongkos mudik.

Tak hanya itu, penurunan jumlah pemudik juga memberi dampak berantai ke sektor transportasi, perhotelan, hingga UMKM di daerah tujuan. Padahal, selama ini momen mudik berperan menyebarkan pertumbuhan ekonomi ke wilayah non-perkotaan.

Adik menilai, penurunan ini merupakan cerminan dari gabungan faktor struktural dan psikologis: lemahnya daya beli, ketidakpastian ekonomi, gelombang PHK, serta pola konsumsi yang semakin hati-hati pasca pandemi.

"Jika tidak segera ditangani dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat—seperti insentif UMKM, perluasan lapangan kerja, dan penguatan jaring pengaman sosial—pelemahan konsumsi bisa berlanjut dan mengancam target pertumbuhan ekonomi 2025," tegasnya.

Adik menutup dengan peringatan bahwa penurunan ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan alarm serius bagi pemerintah dan pelaku usaha agar segera mengambil langkah pemulihan ekonomi yang konkret.
(KS-5)
Komentar