Bisnis Warkop Kian Tumbuh di tengah Perang Dagang Amerika - China

WARKOP TEPI JALAN: Pemandangan satu warkop di tepi jalan, jika parkir motor terlihat penuh, dipastikan jumlah pengunjungnya juga melimpah (rom)

KANALSATU - Gaya hidup minum kopi yang marak beberapa tahun belakangan ini, menjadi peluang usaha baru bagi sebagian masyarakat untuk membuka warkop (warung kopi).

Terbukti, hampir di seluruh pelosok desa atau di kota sekalipun, selalu terlihat bertumbuh terus jumlah warkop, dan bisa dikatan mati satu tumbuh seribu.

Perang dagang antara Amerika dan China, yang terbukti telah mempengaruhi dunia, khusus sektor bisnis dan usaha internasional, usaha warkop justru terlihat tak goyah, bahkan terlihat terus berkembang.

Sebagai bukti, di setiap gang atau bakan di sepanjang tepian jalan, baik itu jalan desa, jalan kota atau jalan provinsi, sedikit terlihat ada 3 - 10 warkop yang buka.

Jika di hitung semua, pasti ada jutaan warkop, dan jutaan tenaga kerja yang terserap, juga perputaran modal usaha di sektor kecil sekelas warkop ini.

Ada fenomena di Indonesia, jika banyak industri dan sektor usaha besar gulung tikar, usaha warkop di kota maupun di pedesaan, di pinggir pinggir jalan utama atau perkampung, terus berkembang.

Tidak susah mencari warkop, apa itu warung kopi baru buka, atau yang sudah bertahun tahun ada. Terlebih dengan fasilitas seperti parkir luas, kapasitas tempat duduk nyaman dan menyediakan WiFi gratis, pasti akan gampang ditemukan.

Seperti kita lihat di satu warkop kawasan Jl Raya Trosobo, Kemendung Pos Bringin Kulon, Kecamatan Taman Sidoarjo, Jawa Timur.

Di kawasan itu banyak sekali ditemukan warkop dengan aneka kelas, yaitu ada warkop tiga jaman, ada kelas warkop biasa (semula warung makan yang juga melayani pesanan kopi), ada warkop dadakan (buka warkop coba-coba, atau buka warkop karena korban PHK).

Nurhadi misalnya, pemilik warkop tiga jaman (buka warkop sejak masa  Presiden SBY, Presiden Joko Widodo, sampai Presiden Prabowo Subianto), mengakui buka usaha warkop sebagai ladang penghasilan.

Semula memang sepi, sering dengan terus berkembangnya gaya hidup minum kopi, dan menjadi tren 'ngopi sambil ber-WiFi-ria', warkop miliknya sekarang menjadi semakin ramai.

Hal itu dibenarkan Junaedi, Ketua RT di Bringin Kulon. Warkop Nurhadi memang semuka sepi. Namun lama kelamaan semakin ramai.

"Langganan warkop ini banyak, khususnya dari kalangan pegawai. Kebetulan wiarkop berdekatan dengan pabrik, seperti pabrik kaca PT Asahimas dan  pabrik kopi Kapal Api dll, yang karyawannya banyak kos disekitar warkop," kata Junaedi.

Sumarji, bagian kebersihan kawasan itu, membenarkan hal tersebut. Bahkan saat ini warkop di wilayah kerjanya dikatakan semakin tumbuh menjamur. Karena itu dia senang, sebab hampir setiap hari mendapat jatah kopi gratis.

Pemilik warkop lainnya juga memgakui bahwa usaha sektor ini semakin diminati, karena tidak butuh modal besar, cukup dengan kecermatan pilih lokasi, dan mempekerjakan karyawan yang teliti, sabar dan ramah.

Disinggung pendapatan per hari, yang buka warkop sejak lama mengatakan bisa menembus angka jutaan. Tapi bagi yang baru buka, target bersih bisa balik modal sudah bagus. 

Fakta, di tengah keributan perang dagang antara Amerika dan China, yang terbukti telah mempengaruhi dunia, khusus sektor bisnis dan usaha internasional, usaha warkop justru terlihat tak goyah, bahkan terus berkembang. (rom/ard)

Komentar