Ekonomi Indonesia Tangguh di Tengah Gejolak Global, OJK Dorong Intermediasi dan Pasar Modal Tumbuh Signifikan

KANALSATU – Di tengah ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Kinerja ekonomi domestik tetap solid berkat konsumsi rumah tangga yang terjaga dan inflasi yang stabil.
Pada kuartal I-2025, ekonomi Indonesia tumbuh 4,87 persen secara tahunan (year-on-year), meskipun sedikit melambat. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,89 persen yoy dan menjadi pendorong utama pertumbuhan. Sementara inflasi tetap dalam kendali di angka 1,95 persen, masih dalam rentang target Bank Indonesia.
Menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari sejumlah indikator positif lainnya. Di antaranya adalah surplus neraca perdagangan yang konsisten, penurunan defisit transaksi berjalan menjadi hanya 0,05 persen dari PDB (sebelumnya 0,87 persen), serta cadangan devisa yang tetap tinggi.
"Ini menunjukkan bahwa meski tekanan eksternal terus berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi dan pasar keuangan Indonesia tetap terjaga," jelas Mahendra.
OJK menyambut baik paket insentif ekonomi yang direncanakan pemerintah pada Juni 2025, dan berkomitmen mendukung langkah-langkah strategis untuk memperkuat intermediasi keuangan, pendalaman pasar, serta pengembangan sektor produktif termasuk UMKM.
"Kami akan terus bekerja sama dengan kementerian, lembaga, dan pelaku industri keuangan untuk menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih inklusif dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," tegasnya.
Sementara itu, kondisi pasar keuangan Indonesia turut mencerminkan optimisme. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan 6,04 persen secara bulanan (month-to-date) pada Mei 2025, mencapai level 7.175,82—salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Secara year-to-date, IHSG naik 1,35 persen. Nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp12.420 triliun, naik 6,11 persen mtd.
Investor asing juga mulai kembali masuk ke pasar, dengan net buy sebesar Rp5,53 triliun pada bulan Mei, setelah sebelumnya mencatatkan net sell sejak Desember 2024. Sektor basic material dan energi mencatatkan penguatan tertinggi, sementara sektor teknologi menjadi satu-satunya yang mengalami pelemahan.
Rata-rata transaksi harian pasar saham tahun ini mencapai Rp12,90 triliun, naik dibandingkan bulan April sebesar Rp12,47 triliun.
Sementara itu, pasar obligasi juga menunjukkan tren positif. Indeks ICBI naik 0,78 persen mtd dengan rata-rata yield SBN turun 4,76 basis poin. Investor asing mencatatkan net buy Rp24,09 triliun di SBN.
Di sektor pengelolaan investasi, total Asset Under Management (AUM) mencapai Rp848,88 triliun dengan NAB reksa dana senilai Rp517,99 triliun. Penggalangan dana di pasar modal tetap kuat, mencapai Rp65,56 triliun dari 6 emiten baru.
Securities Crowdfunding (SCF) juga terus berkembang, dengan 18 penyelenggara dan 825 efek yang diterbitkan oleh 594 penerbit. Dana yang dihimpun mencapai Rp1,57 triliun.
Pada pasar derivatif keuangan, nilai transaksi pada Mei 2025 mencapai Rp160,39 triliun dengan volume 52.605 lot.
Sementara itu, Bursa Karbon Indonesia yang diluncurkan pada September 2023 telah mencatat volume perdagangan sebesar 1.599.314 tCO?e dengan nilai transaksi mencapai Rp77,95 miliar, mencerminkan pertumbuhan pesat dalam mendukung transisi energi nasional.
(KS-5)