Hadapi Kemarau dan Perubahan Iklim, Syngenta Luncurkan Benih Jagung NK Perkasa Sakti

KANALSATU — Memasuki paruh kedua tahun 2025, sejumlah daerah di Indonesia mulai merasakan dampak musim kemarau yang diperkirakan semakin parah akibat perubahan iklim global. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan petani jagung karena potensi gagal panen akibat kekeringan, serangan hama, dan tekanan gulma yang meningkat.
Sebagai bentuk respons atas tantangan tersebut, Syngenta Indonesia merilis produk benih jagung hibrida terbaru bernama NK Perkasa Sakti. Benih ini dikembangkan dengan teknologi tinggi untuk menjaga produktivitas tetap optimal di tengah kondisi lingkungan yang semakin tidak bersahabat.
Peluncuran resmi dilakukan di Syngenta Learning Center, Kedungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (2/7/2025) dan dihadiri lebih dari 500 petani serta Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa.
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gunawan memaparkan bahwa berdasarkan data PDPS, luas tanam jagung nasional mencapai 5,31 juta hektare dengan produksi sebesar 15,14 juta ton pipilan kering (KA 14%) sepanjang 2024. Sementara itu, penggunaan benih bersertifikat tumbuh signifikan dari 176,92% di 2023 menjadi 191,81% di 2024, atau naik hampir 15%.
Pada 2025, pemerintah menargetkan produksi jagung sebesar 16,68 juta ton dari total luas tanam 4,26 juta hektare, dengan alokasi bantuan benih untuk 300 ribu hektare.
“Kami mengapresiasi kontribusi PT Syngenta Indonesia dalam pengembangan varietas jagung hibrida yang terbukti sangat membantu petani,” ungkap Gunawan.
Ia menegaskan bahwa benih merupakan elemen kunci dalam produksi tanaman, dan pemerintah terus mendukung kehadiran varietas baru lewat kolaborasi dengan sektor swasta.
Customer Business Manager Syngenta Indonesia, Nguyen Huy Cuong menuturkan, kehadiran NK Perkasa Sakti menjadi solusi nyata atas ketidakpastian cuaca.
“Benih ini dirancang untuk tetap produktif, tahan terhadap penggerek batang (Asian Corn Borer), serta toleran terhadap herbisida glifosat. Kombinasi ini memudahkan perawatan, menekan biaya, dan meningkatkan hasil panen,” ujarnya.
Seed Marketing Head Syngenta Indonesia Imam Sujono menambahkan bahwa wilayah seperti Jawa Timur, termasuk Kediri, adalah sentra penting produksi jagung nasional.
Dengan potensi hasil 5–10% lebih tinggi dari benih biasa, bahkan bisa mencapai 13,3 ton per hektare dalam kondisi ideal, NK Perkasa Sakti diharapkan mendukung ketahanan pangan nasional di tengah cuaca yang tidak menentu.
Peluncuran di Kediri ini merupakan bagian dari program nasional Syngenta Indonesia yang juga telah dilaksanakan di sejumlah wilayah seperti Lampung, Bone (Sulsel), Lamongan, dan Grobogan (Jateng).
Selain benih unggul, Syngenta juga mendorong edukasi pertanian berkelanjutan melalui aplikasi peTani yang kini memiliki lebih dari 50 ribu pengguna.
Di samping itu, 24 Learning Centers milik Syngenta yang tersebar di berbagai daerah menjadi sarana pelatihan langsung dan digital bagi para petani. Setiap tahunnya, pusat-pusat pembelajaran ini menjangkau sekitar 17 ribu petani untuk mengadopsi praktik pertanian inovatif dan berkelanjutan.
“Syngenta berkomitmen mendampingi petani Indonesia dalam menghadapi tantangan iklim dan produksi. Melalui inovasi benih seperti NK Perkasa Sakti, kami ingin memastikan petani tetap sejahtera dan hasil panen tetap stabil,” tutup Imam Sujono.
Abubakar, petani asal Jember yang ikut uji tanam, mengaku hasil panennya lebih tinggi dan lebih mudah mengendalikan gulma serta hama dibanding benih konvensional. “Tanaman lebih sehat dan tidak mudah terserang ulat. Rata-rata hasil panen saya jauh lebih baik dibanding dulu yang hanya 4 ton per hektare,” ungkapnya.
(KS-5)