PARFI Jawa Timur Dukung Produksi Film Nasional The Hostages Hero

CASTING TERBUKA: PARFI Jawa Timur akan menggelar casting terbuka untuk film The Hostages Hero di Museum Pusat TNI AL Surabaya, pada Rabu (9 Juli 2025), Pukul 08.00 WIB sampai selesai. (dok/parfi)

KANALSATU - Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Jawa Timur siap mendukung pembuatan film nasional The Hostages Hero dengan terlibat langsung pada proses casting terbuka.

Dukungan itu diberikan PARFI Jawa Timur karena film The Hostages Hero dinilai bukan hanya film aksi penyelamatan biasa, tetapi juga kisah refleksi tentang keberanian, konflik batin, dan makna sejati dari sebuah perjuangan.

Ketua PARFI Jawa Timur, Wira Lina, mengataka dunia perfilman masional kembali mendapat warna baru lewat film aksi drama patriotik berjudul The Hostages Hero, yang terinspirasi dari kisah nyata penyanderaan di Selat Malaka tahun 2004. 

Film ini, lanjutnya, mengangkat ketegangan antara semangat patriotisme dan ekstremisme, serta sisi kemanusiaan dalam konflik yang membara.

Karena itu dia menyampaikan dukungannya terhadap produksi film The Hostages Hero dan sekaligus turut berpartisipasi dalam kegiatan casting.

Tentang proses casting terbuka untuk film ini akan digelar pada:
-Museum Pusat TNI AL, Surabaya
-Rabu, 9 Juli 2025
-Pukul 08.00 WIB sampai selesai

“Film ini bukan sekadar aksi militer, tapi juga refleksi perjuangan, kemanusiaan, dan nilai kebangsaan. PARFI Jawa Timur siap mendukung talenta lokal untuk turut ambil bagian,” ujar Wira Lina di Surabaya, Sabtu (5/7/2025).

The Hostages Hero akan menghadirkan tokoh-tokoh kuat seperti Letkol A. Taufik, Jalaludin, hingga sosok anak kecil bernama Cut Aisyah yang menjadi simbol harapan dalam badai konflik."

Film ini, tambah Wira Lina, diharapkan mampu mengangkat semangat nasionalisme serta membuka ruang dialog tentang makna sejati perjuangan di tengah gempuran ideologi.

Dari catatan rencana pembuatan film The Hostages Hero, terungkap:

-Durasi Film: 90 Menit
-Genre: Aksi, Drama, Patriotik
-Latar: Selat Malaka, tahun 2004 berdasarkan kisah nyata yang terinspirasi dari konflik laut Nusantara

Tentang sinopsi film itu, tertulis:

Di tengah panasnya konflik separatis di wilayah perairan Selat Malaka tahun 2004, Letkol A. Taufik, seorang perwira TNI AL yang dikenal berani dan tegas.

Perwira AL itu ditugaskan memimpin misi penyelamatan sandera di kapal legendaris KRI Dewaruci yang dibajak kelompok separatis bersenjata. 

Di balik penyanderaan ini berdiri nama Jalaludin, tokoh karismatik sekaligus ekstremis yang percaya bahwa jalannya adalah bentuk “jihad” membebaskan bangsanya.

Namun konflik ini bukan sekadar tentang senjata dan kekuasaan. Ketegangan meningkat saat Letkol Taufik mengetahui bahwa di antara sandera terdapat warga sipil, perempuan, bahkan anak-anak. 

Di sisi lain, Jalaludin juga dihadapkan pada tekanan batin dari istrinya, Cut Syifa, yang mulai mempertanyakan makna perjuangan suaminya: apakah ini pembebasan…atau justru pembajakan atas kemanusiaan?

Dua ideologi besar—patriotisme dan ekstremisme—bertabrakan di tengah gelombang laut, dengan nyawa sebagai taruhannya. 

Letkol Taufik tak hanya harus menghadapi Jalaludin secara militer, tapi juga menyelami sisi kemanusiaan lawannya. Apakah Jalaludin benar-benar musuh…atau korban sejarah?

Ketegangan memuncak ketika Letkol Taufik berhasil menyusup ke kapal dan terjadi dialog konfrontatif antara dua tokoh ini yang membuka luka lama, rahasia keluarga, dan trauma masa kecil yang ternyata menghubungkan mereka lebih dari yang mereka duga.

Singkatnya, film The Hostages Hero bukan hanya berkisah tentang aksi penyelamatan, tetapi juga kisah refleksi tentang keberanian, konflik batin, dan makna sejati dari sebuah perjuangan. (ard)

Komentar