Lilies 'Srikandi' Handayani Berhak Menyandang Gelar Doktor Olahraga UNESA
Lulus Ujian Disertasi Terbuka S3 FIKK UNESA

KANALSATU - Mantan atlet nasional cabang olahraga Panahan Lilies Handayani, lulus Ujian Disertasi Terbuka S3 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), di Ruang Auditorium FIKK Unesa, Lidah Wetan Surabaya, pada Rabu (1/10/2025) siang.
Nama Lilies Handayani, sudah tidak asing lagi di Indonesia. Ia merupakan salah satu aktor dalam sejarah Indonesia meraih medali perak pertama di ajang Olimpiade 1988 Seoul pada cabang olahraga Panahan.
Kala itu, perak berhasil diraih di nomor beregu recurve putri berpasangan dengan Nufitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani.
Tak berhenti sebagai pelatih, Lilies juga menjadi aktor penting sebagai pelatih dalam keberhasilan Jawa Timur sukses di PON, termasuk Timnas Indonesia di berbagai ajang internasional.
Keberhasilannya sebagai praktisi tak membuatnya puas. Kini, ibu dari tiga anak itu berhasil meraih gelar doktor bidang ilmu keolahragaan di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya.
Dalam disertasinya, Lilies mengangkat coba menuangkan segala pengalaman dan penelitiannya selama menjadi atlet dan pelatih. Ia pun mengangkat judul Model Latihan Lilies Handayani Rapid Shooting (LHRS) Dalam Meningkatkan Konsentrasi dan Performa Panahan Divisi Recurve.
Ia menjelaskan, bahwa metode ini mengasah atlet agar bisa meningkatkan konsentrasi dan performanya dalam menembak anak panah ke target di tengah kondisi cuaca apapun.
"Ini adalah salah satu model yang ditempuh dengan menembak cepat itu bisa terobos tidak akan masalah dengan kondisi-kondisi alam yang terjadi dan kondisi lingkungan ketika dia nervous. Dengan nembak cepat dia pasti bisa bagus," kata Lilies usai menjalani ujian.
Dengan menembak cepat, ia menyebut, pemanah bisa lebih tepat sasaran ketika menembakkan anak panah. Hanya saja, keberhasilan harus diiringi dengan latihan rutin.
Sehingga, dalam latihan harus mulai mengenalkan atlet dengan metode ini. Mulai dari jarak 20 meter, 50 meter, hingga 70 meter.
"Dengan menembak cepat itu teknik-tekniknya akan bisa lebih sempurna karena dia bisa melakukan dengan konsentrasi tinggi. Konsentrasi tanpa berpikir tarik, angkat, diluruskan dan lepas," pungkasnya.
Dengan metode ini, istri Denny Trisyanto itu yakin metode ini dapat meningkatkan kemampuan atlet yang pada akhirnya akan menunjang prestasi atlet di daerah, nasional, bahkan internasional. (ega)