Suparma Sepakati Pembagian Deviden Saham Bernilai Rp400 Lembar

PAPARAN PUBLIK: Jajaran Direksi PT Suparma Tbk (SPMA) saat menggelar Paparan Publik (Public Expose) perseroan secara daring dari Surabaya, Kamis (30/10/2025). (dok/spma)

KANALSATU - PT Suparma Tbk (SPMA), produsen kertas dan tisu nasional, memutuskan pembagian deviden saham dengan rasio 100:30, bernilai nominal Rp400 (per lembar saham).

Kesepakatan itu terungkap pada Paparan Publik (Public Expose) perseroan ini, yang digelar secara daring dari Surabaya, Kamis (30/10/2025).

Direktur PT Suparma Tbk, Hendro Luhur, mengatakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), perseroan telah menyepakati pembagian dividen saham dengan rasio 100:30.

Dijelaskan juga secara rinci, bahwa setiap 100 saham lama dengan nilai nominal Rp400 per lembar saham, akan memperoleh 30 saham baru dengan nilai nominal Rp400, dengan pembulatan ke bawah. 

Sementara jumlah saldo laba yang dikapitalisasi atas dividen saham, terbagi atas sebanyak-banyaknya 946.227.663 saham.

"Itu kesepakatan yang disepakati Perseroan kali ini, yaitu pembagian deviden saham dengan rasio 100:30, dengan nilai nominal Rp400 per lembar saham," jelasnya.

Disinggung kinerja perseroan, Hendro mengatakan dalam laporan keuangan yang berakhir tanggal 30 September 2025, PT Suparma Tbk mencatat kinerja positif. 

Meskipun harga jual rata-rata kertas selama sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2025 mengalami penurunan 2% dari Rp11.939 menjadi Rp11.703, namun kuantitas penjualan kertas meningkat 4.693 MT atau 2,9% menjadi 168.988 MT.

"Hal ini menyebabkan penjualan bersih kertas selama periode tersebut masih mengalami sedikit peningkatan sebesar Rp16,2 miliar atau 0,8% menjadi Rp1,977 triliun," tuturnya.

Penjualan bersih Perseroan, lanjut Hendro, pada periode Januari-September 2025 mencapai Rp1,990 triliun, atau naik sebesar 1,4% dibandingkan dengan penjualan bersih pada periode yang sama tahun 2024. 

Kenaikan penjualan bersih tersebut disebabkan oleh kenaikan kuantitas produk kertas sebesar 2,9%.

Pencapaian ini setara dengan 71,1% dari target penjualan bersih Perseroan di tahun 2025, yaitu sebesar Rp2,8 triliun.

Mamun untuk laba periode berjalan Januari-September 2025, diakui mengalami penurunan sebesar Rp46,4 miliar atau 40,4% menjadi Rp68,4 miliar 

Hal itu disebabkan oleh Perseroan mengalami rugi selisih kurs sebesar Rp19,6 miliar, sedangkan pada 30 September 2024 Perseroan mengalami laba selisih kurs sebesar Rp11,1 miliar.

Hendro menjelaskan bahwa rugi selisih kurs tersebut dipicu oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US$. 

Maksudnya, jika pada posisi 30 September 2024, untuk US$1 bernilai Rp15.138, sedangkan pada posisi 30 September 2025, US$1 bernilai Rp16.680.

Ditanya kuantitas penjualan kertas, Hendro menguraikan bahwa Perseroan mengalami peningkatan 2,9%, dari semula sebesar 164.295 MT menjadi 168.988 MT. 

Pencapaian ini setara dengan 70,4% dari target kuantitas penjualan kertas Perseroan yang sebesar 240.000 MT.

"Kami tetap optimistis target di akhir tahun 2025 akan bisa dicapai perseroan dengan melihat pencapaian per 30 September 2025 ini, selain juga kondisi pasar dalam negeri yang terus membaik," ujar Hendro.

Sementara terkait progres penambahan Paper Machine 11 untuk produksi tisu, dia menyebut dari total anggaran belanja modal sebesar US$23 juta, realisasi per 30 September 2025 mencapai US$3 juta. 

Mesin baru yang ditargetkan mulai beroperasi pada Triwulan IV tahun 2026 tersebut diharapkan mampu menambah kapasitas terpasang sekitar 27.000 MT. (ard)

Komentar