Semarakkan 'Surabaya Epic 2025', Dapur Umum 'Mbok Dar Martir' Berbagi Nasi Bungkus

SURABAYA EPIC 2025: Tim Line Dance PWI bersama PARFI Jawa Timur berfoto bersama dengan Wali Kota Surabaya saat usai ikuti Parade Surabaya Juang, bertajuk Surabaya Epic 2025, Minggu (2/11/2025) sore. (dok/ita)

KANALSATU - Suasana heroik mewarnai kawasan Tugu Pahlawan Surabaya pada Minggu (2/11/2025) sore, yang sekaligus menggugah kenangan tempo dulu saat masa perjuangan.

Saat itu Tim Line Dance (LD) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bersama Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Jawa Timur ikut ambil bagian dalam Parade Surabaya Juang, yang bertajuk Surabaya Epic 2025. 

Para profesional ini hadir sebagai “Tim Dapur Umum Mbok Dar Mortir”, menghadirkan kembali semangat perjuangan para perempuan pejuang, lewat aksi berbagi makanan kepada para peserta dan penonton.

Dengan mengenakan kebaya tempo dulu lengkap dengan jarit, para anggota tim sibuk menyiapkan dan membungkus makanan menggunakan daun pisang.

Aksi ini menjadi simbol kesederhanaan dan ketulusan perempuan rakyat jelata yang berjuang dari dapur umum untuk menyokong para pejuang kemerdekaan di masa lalu

Koordinator Tim LD PWI Jawa Timur, Ita Siti Nasyi’ah, menjelaskan bahwa peran yang dimainkan timnya bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa. 

“Kami ingin menghadirkan suasana dapur umum zaman perjuangan, di mana para ibu bangsa memasak untuk pejuang dengan penuh semangat dan keikhlasan,” ujarnya.

Menurut wartawati senior yang akrab disapa Ning Ita ini, kostum yang dikenakan pun disesuaikan dengan peran yang dimainkan. 

“Kebaya yang kami pakai adalah kebaya sederhana, bukan brokat atau berpayet. Zaman dulu kebaya mewah hanya milik kaum bangsawan, sedangkan perempuan dapur umum berasal dari kalangan rakyat biasa,” jelasnya.

Dalam aksi tersebut, tim LD PWI Jawa Timur dan PARFI membagikan berbagai hidangan tradisional seperti singkong, ketela pohon, kacang tanah, dan pisang kukus. 

Semua disajikan dengan cara tradisional — dibungkus daun pisang, seperti yang dilakukan masyarakat tempo dulu saat menyiapkan makanan untuk para pejuang.

“Selain mengenang sejarah, kami juga ingin menumbuhkan kembali semangat gotong royong dan kebersamaan yang dulu menjadi kekuatan bangsa,” tutur Ita. 

“Makanan sederhana ini kami bagikan bukan hanya sebagai simbol perjuangan, tapi juga sebagai wujud cinta pada tanah air.”

Ketua PARFI Jawa Timur, Wira Lina, yang berperan sebagai Mbok Dar, mengaku sangat senang bisa ikut serta dalam kegiatan penuh makna itu. 

Ia merasa pengalaman tersebut memberinya kesempatan memahami lebih dalam peran besar perempuan di balik perjuangan kemerdekaan

“Rasanya haru sekali bisa ikut membagikan makanan sambil mengenakan kebaya sederhana seperti ibu-ibu jaman dulu. Ini bukan sekadar tampil, tapi mengenang perjuangan mereka,” ujarnya.

Pembagian makanan oleh 'Tim Dapur Umum Mbok Dar Mortir' ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang memadati area parade. 

Banyak warga yang antusias menerima makanan sambil berfoto bersama para “ibu pejuang” berkebaya itu.

Aksi sederhana namun penuh makna tersebut berhasil menyedot perhatian pengunjung. 

Aroma daun pisang dan singkong kukus seolah membawa ingatan publik pada masa-masa perjuangan, ketika semangat nasionalisme tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus.

Kehadiran Tim LD PWI Jawa Timur dan PARFI di Parade Surabaya Juang tahun ini menjadi bukti bahwa semangat perjuangan tak lekang oleh waktu.

Lewat dapur umum dan makanan tradisional, mereka mengajarkan bahwa cinta tanah air bisa diwujudkan dalam bentuk paling sederhana — berbagi dari hati untuk sesama. (ard)

Komentar