KI Jawa Timur, Anti-Hoaks: Kewajiban Melindungi Publik dari Informasi Palsu

SEMERU ERUPSI: Erupsi Gunung Semeru hingga Kamis (20/11/2025) dini hari masih berlanjut, dan awan perak berjalan sesuai arah angin menuju ke utara dari gunung yang terletak di Kab. Lumajang, Jawa Timur ini. (dok/ks)

KANALSATU - Komisi Informasi (KI) Jawa Timur menekankan selain memastikan tersedianya informasi yang cepat dan benar, peran sentral Badan Publik adalah melindungi publik dari disinformasi. 

Alasannya, alam kondisi darurat, seperti terjadinya bencana erupsi Gunung Semeru, hoaks dapat memicu kepanikan, kekacauan, dan bahkan menghambat upaya penyelamatan.

"Oleh karena itu, KI Jawa Timur juga menekankan kewajiban Badan Publik untuk secara proaktif dan serta merta melakukan klarifikasi, membantah, dan meluruskan setiap informasi yang beredar luas namun berpotensi menyesatkan atau mengancam ketertiban umum," kata Yunus Mansur Yasin, Ketua Bidang Advokasi, Sosialisasi, dan Edukasi KI Jawa Timur, Kamis (20/11/2025).

"Intinya, KI Jawa Timur harus Anti-Hoaks, dan ini kewajiban melindungi publik dari informasi palsu."

Dia juga menyatakan Badan Publik wajib mengumumkan kanal resmi informasi, narahubung resmi, dan layanan pengaduan yang dapat diakses masyarakat untuk memverifikasi kebenaran informasi sebelum menyebarkannya lebih lanjut. ?

Partisipasi masyarakat dalam mengkonfirmasi informasi adalah bagian dari ketahanan informasi publik.

KI Jawa Timur akan terus melakukan monitoring dan evaluasi ketat dengan memantau pemenuhan standar pelayanan informasi publik dalam masa darurat ini untuk memastikan tingkat kepatuhan semua Badan Publik di Jawa Timur. 

"Komitmen ini demi tegaknya hak masyarakat atas informasi publik yang berkualitas," jelas Yunus.

Seperti dikwtahui, sejak Rabu, 19 November 2025 pkl. 14.13 WIB, telah terjadi Awan Panas Guguran (APG) pada Gunung Api Semeru, Kab. Lumajang.

Erupsi iyu terjadi sejak jam 16.00 WIB, dan dilaporkan kenaikan Tingkat Aktivitas Gunung dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga).

Awan panas juga dilaporkan masih terus berlangsung, dengan amplitudo maksimum 40 mm, dengan jarak luncur 8.5 km dari puncak gunung.

Hingga Kamis (20/11/2025), awan perak itu masih berlanjut, berjalan sesuai arah angin menuju ke Utara.sehingga akses di Jembatan Gladak Perak ditutup.

Tercatat belum ada korban jiwa, karena petugas telah sigap mengarahkan masyarakat yang terdampak menuju benerapa titik pengungsian, yaitu di Kec. Pronojiwo & Kec. Candipuro.

Ketua KI Jawa Timur, Edi Purwanto, sebelumnya menegaskan bahwa periode tanggap darurat bencana merupakan momen krusial, di mana informasi yang valid dan cepat adalah alat vital untuk menyelamatkan jiwa atau nyawa. (ard)

Komentar