Antisipasi Hujan Ekstrem, Wagub Emil Cek Command Center BBWS Brantas

Jatim Perkuat Kesiapsiagaan Banjir


KANALSATU – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau langsung Command Center Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas di Surabaya, Selasa (6/1/2026). Kunjungan ini guna memastikan kesiapan Jawa Timur menghadapi potensi curah hujan ekstrem yang diperkirakan terjadi sepanjang Januari.

BBWS Brantas memiliki peran strategis dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang membentang di 19 kabupaten/kota di Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, Emil didampingi Kepala BBWS Brantas Muhammad Noor serta Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto.

Emil menegaskan, kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat BMKG dan Gubernur Jawa Timur telah berulang kali mengingatkan potensi hujan dengan intensitas sangat tinggi pada periode ini.

“Bulan Januari memang menjadi fase rawan cuaca. Karena itu, kesiapsiagaan harus benar-benar optimal,” ujar Emil.

Ia mengapresiasi keberadaan Command Center BBWS Brantas yang dinilai memiliki sistem pemantauan berteknologi tinggi. Dashboard tersebut memungkinkan pemerintah memantau kondisi infrastruktur sumber daya air secara real time, mulai dari bendungan, tanggul, dinding sungai, hingga pos-pos pantau di berbagai wilayah.

Dengan dukungan teknologi tersebut, Emil menilai pemerintah dapat mengambil langkah preventif maupun penanganan bencana secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Terlebih, BBWS Brantas juga terintegrasi dengan SITABA (Sistem Informasi Tanggap Bencana), platform digital milik Kementerian PUPR yang menyajikan data historis kejadian bencana.

“Data bencana sebelumnya menjadi basis penting untuk proyeksi risiko dan penentuan langkah antisipasi ke depan. Command Center BBWS dan BPBD bisa saling melengkapi dan memperkuat respons kebencanaan,” jelasnya.

Selain itu, Pemprov Jatim juga didukung sejumlah program nasional dan internasional, seperti National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) yang didanai Asian Development Bank (ADB) untuk penanganan banjir di Surabaya dan Malang. Emil berharap program ini ke depan dapat diperluas ke kawasan Surabaya Raya.

Program lain yang berjalan antara lain Volcanic Risk Reduction Program hasil kerja sama dengan JICA Jepang untuk pengelolaan sedimen vulkanik di Lumajang, serta pelaksanaan Inpres Nomor 2 Tahun 2025 terkait percepatan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Program JIAT akan menghadirkan sumur berkapasitas 10–20 liter per detik di sekitar 70 titik di Jawa Timur.

Saat ini, BBWS Brantas juga memprioritaskan normalisasi dan penguatan Kali Kedurus di Surabaya, termasuk koordinasi dengan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam penanganan banjir di kawasan Ketintang.

Di wilayah tersebut, rencananya akan dibangun pompa pengendali banjir di sisi sungai. Namun, terdapat sejumlah bangunan yang perlu ditertibkan karena berada di luar peruntukannya.

“Pendekatan yang dilakukan tetap humanis. Relokasi akan disertai solusi bagi warga terdampak, namun langkah ini harus diambil demi kepentingan masyarakat yang lebih luas,” pungkas Emil.
(KS-9)
Komentar