JANGAN MABUK ANGKA

KANALSATU - Jangan Mabuk Angka

Oleh: Hadipras

Ketua Dewan Pakar PWI Jatim

Berita mengenai IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pecah rekor yang dilansir oleh berbagai media main-stream, bagi publik yang awam perlu dipahami bahwa hal ini berarti nilai rata-rata harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencapai angka tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Indonesia Composite Index, ICI, atau IDX Composite) merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), dulu bursa Efek Jakarta ( BEJ). 

Hingga pekan pertama Januari 2026 ini, IHSG sedang mengalami tren penguatan yang sangat kuat menembus level psikologis baru di angka 8.944. Istilah kerennya di dunia saham adalah All-Time High (ATH). Sebagai gambaran, pada akhir tahun 2025 lalu, indeks ini masih berada di kisaran 8.600-an.

Mengapa disebut "Pecah Rekor"? IHSG itu ibarat "suhu" ekonomi di pasar modal. Jika angka ini naik dan pecah rekor, artinya kepercayaan tinggi dimana investor (baik lokal maupun asing) merasa sangat optimis terhadap ekonomi Indonesia di awal tahun 2026.

Di samping itu harga saham secara keseluruhan naik, saham-saham perusahaan besar (seperti BBCA, BMRI, dan sektor energi) sedang banyak dibeli sehingga harganya naik signifikan.

Namun perlu dicatat adanya January Effect di mana ada tren musiman harga saham cenderung naik di bulan Januari karena manajer investasi menyusun portofolio baru.

Beberapa pakar menilai bahwa hal tersebut juga didorong adanya harapan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) yang membuat aliran dana asing masuk ke Indonesia.

Pertemuan resmi The Fed untuk menentu kan suku bunga (FOMC Meeting) baru dijadwalkan 28 Januari 2026. Namun, situasi yang membuat IHSG pecah rekor terkait erat dengan apa yang terjadi sebelumnya.

Terakhir kali The Fed memangkas suku bunga adalah pada Desember 2025, sebesar 25 basis poin (0,25%), yang membawa suku bunga ke kisaran 3,50% - 3,75%. Ini adalah level terendah sejak tahun 2022.

Mengapa IHSG tetap naik jika belum dipangkas? Pertama karena The Fed telah memberi sinyal akan ada pemangkasan tambahan di tahun 2026 (diprediksi 1-2 kali lagi sekitar bulan April atau September).

Data ekonomi menunjukkan inflasi di AS mulai stabil menuju target 2%, sehingga investor percaya "era suku bunga tinggi" sudah berakhir. Karena suku bunga AS sudah jauh lebih rendah dibanding puncaknya yang pernah mencapai 5,5%, investor mulai memindahkan uangnya dari dolar AS ke pasar negara berkembang seperti Indonesia untuk mencari keuntungan lebih tinggi.

Optimisme domestik juga menilai bahwa kebijakan pemerintah dianggap sinkron dan ekonomi yang terus membaik. Bahkan, ada target ambisius agar IHSG bisa menyentuh level 10.000 di tahun ini. Investor luar negeri sedang banyak memasukkan uang mereka ke pasar saham Indonesia.

Dari total sekitar 280 juta penduduk Indonesia, jumlah investor pasar modal (termasuk saham, reksa dana, dan obligasi) telah menembus angka 20,3 juta orang pada awal 2026. Investor Pasar Modal sekitar 7,2% dari total penduduk sedangkan Investor Khusus Saham sekitar 8,6 juta orang atau sekitar 3% dari total penduduk.

Jika dilihat dari sisi tenaga kerja (angkatan kerja Indonesia yang berjumlah sekitar 150 juta orang), sekitar 13-14% kini sudah memiliki akun investasi di pasar modal, dan sekitar 5-6% dari angkatan kerja secara spesifik aktif memiliki aset dalam bentuk saham.

Menariknya, lonjakan ini tidak didominasi oleh pengusaha besar, melainkan oleh kelompok Generasi Muda (Gen Z & Milenial) di mana lebih dari 80% investor baru berusia di bawah 40 tahun. 

Mereka sangat melek digital dan menggunakan aplikasi investasi ponsel. Selanjuitnya Kelompok pekerjaan terbanyak yang bermain saham berasal dari sektor karyawan swasta, diikuti oleh pelajar/mahasiswa dan pegawai negeri serta Ibu Rumah Tangga.

Namun fenomena ini mungkin adalah "Desperate Investing" (Investasi karena putus asa). Karena lapangan kerja sulit dan gaji pas-pasan, banyak anak muda melihat saham sebagai jalan pintas untuk keluar dari kesulitan ekonomi, bukan sebagai instrumen pertumbuhan jangka panjang.

Ini berisiko menjadi "bom waktu". Jika IHSG yang sedang pecah rekor tiba-tiba jatuh, kelompok inilah yang paling menderita karena mereka tidak memiliki daya tahan modal.

Mungkin di antara kita melihat fenomena teman atau kerabat yang mulai memaksakan diri masuk ke saham meski kondisi keuangan mereka sedang sulit. Mungkin juga mengalihkan teknik kelola uang memanfaatkan pay later, atau karena investasi rendah minimum Rp100.000 rupiah sudah bisa beli saham, atau pergeseran pola konsumsi karena FOMO.

Meskipun IHSG pecah rekor, angka partisipasi 7% masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara maju di mana lebih dari 50% penduduknya memiliki saham). 

Hambatan utamanya di Indonesia masih pada Literasi Keuangan, banyak yang masih takut atau menganggap saham itu seperti judi; kapasitas finansial di mana sebagian besar angkatan kerja masih fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok harian, serta trauma investasi bodong. 

Hubungan IHSG dengan indikator ekonomi makro bisa diulas singkat sebagai berikut:

Pertama, Suku Bunga (BI Rate) memiliki hubungan terbalik (negatif) dengan IHSG. Ketika suku bunga naik, biaya pinjaman perusahaan meningkat (beban bunga tinggi) dan investor cenderung memindahkan uang dari saham ke instrumen yang lebih aman seperti deposito atau obligasi. Sebaliknya, penurunan suku bunga biasanya memicu kenaikan IHSG.

Kedua, pertumbuhan ekonomi (PDB) memiliki hubungan searah (positif), di mana pertumbuhan PDB yang kuat menandakan daya beli masyarakat tinggi, yang berarti pendapatan perusahaan akan naik, sehingga harga saham ikut naik

Ketiga, inflasi, jika terkendali pasar merespons positif. Namun, inflasi yang terlalu tinggi memaksa bank sentral menaikkan suku bunga, yang biasanya menekan IHSG.

Keempat, nilai tukar (Kurs Rupiah), rupiah yang melemah terhadap Dollar AS seringkali menekan IHSG, terutama karena Indonesia memiliki banyak perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki utang dalam valuta asing.

Hubungan IHSG dengan indikator ekonomi mikro bisa diulas singkat sebagai berikut :

Pertama, indikator mikro berfokus pada kesehatan fundamental dari perusahaan  yang membentuk indeks tersebut. Karena IHSG adalah rata-rata tertimbang, pergerakan saham "Big Caps" (perusaha an berkapitalisasi besar) sangat menentukan.

Kedua, laporan keuangan (Earning Per Share - EPS), yaitu jika mayoritas perusahaan emiten melaporkan kenaikan laba bersih, IHSG secara agregat akan terdorong naik. Investor melihat pertumbuhan laba sebagai indikator keberhasilan manajemen di level mikro.

Ketiga, profit margin dan efisiensi. Indikator mikro seperti Net Profit Margin (NPM) menunjukkan seberapa efisien perusahaan mengelola biaya. Efisiensi di level mikro menarik minat investor asing untuk masuk ke bursa lokal.

Keempat, Corporate Action. Keputusan mikro seperti pembagian dividen, stock split, atau akuisisi oleh perusahaan besar dalam bursa dapat memicu sentimen positif yang mengangkat indeks.

IHSG adalah cermin kepercayaan. Makro ekonomi menyediakan "cuaca" atau lingkungan tempat bisnis tumbuh, sementara mikro ekonomi adalah "kesehatan" dari bisnis itu sendiri. Jika cuaca cerah (makro bagus) dan bisnis sehat (mikro kuat), IHSG hampir dipastikan akan berada dalam tren bullish (menguat).

Euforia pemerintah dan pebisnis terkait pecah rekor IHSG dalam konteks fundamental ekonomi Indonesia harus di sikapi dengan obyektif, bahwa memang ada kinerja bagus pada sektor keuangan tetapi harus tetap diperhadapkan dengan kinerja ekosistem kehidupan bagi masyarakat kelas menengah dan bawah.

Ada jurang yang lebar antara "kinerja angka" di bursa saham (IHSG) dengan "realitas kantong" masyarakat menengah ke bawah. Fenomena ini sering disebut sebagai Decoupling (pemutusan hubungan) antara pasar finansial dan ekonomi riil.

Mengapa? Karena ada konsentrasi kepemilikan aset IHSG dimana partisipasi masyarakat Indonesia di pasar modal masih sangat rendah (kurang dari 7% populasi). 

Sehingga siapa yang untung? Investor besar, institusi, dan investor asing. Siapa yang tidak merasakan? Masyarakat menengah bawah yang uangnya habis untuk konsumsi harian dan tidak memiliki sisa untuk investasi saham. Jadi, kekayaan yang tercipta dari IHSG hanya berputar di kalangan atas.

Di samping itu kenaikan IHSG sering didorong oleh sektor perbankan, telekomunikasi, atau tambang yang merupakan sektor padat modal tetapi tidak menciptakan banyak lapangan kerja baru untuk rakyat berpendidikan rendah. Akibatnya, perusahaan makin kaya (saham naik), tetapi tidak ada "tetesan ke bawah" (trickle-down effect) dalam bentuk kenaikan gaji atau pembukaan lapangan kerja masif.

Seringkali, IHSG naik justru karena harga komoditas (seperti batubara atau sawit) sedang tinggi di pasar dunia. Sehingga dari Sisi Emiten, perusahaan tambang untung besar, harga sahamnya melonjak, IHSG naik. 

Tetapi di sisi rakyat, harga energi dan minyak goreng ikut naik. Bagi rakyat, ini adalah musibah (biaya hidup naik), sementara bagi IHSG, ini adalah berkah (indeks naik).

"Wealth Effect" yang tidak merata terjadi. Di negara maju, banyak dana pensiun masyarakat ditaruh di bursa saham. Jadi kalau bursa naik, rakyat merasa lebih kaya dan konsumsi meningkat. Di Indonesia, sistem dana pensiun kita belum cukup kuat dan luas untuk memberikan efek psikologis serupa bagi kelas menengah-bawah.

Jurang yang lebar antara "kinerja angka" di bursa saham (IHSG) dengan "realitas kantong" masyarakat menengah ke bawah pada akhirnya akan menyentuh isu krusial seperti jumlah angka kemiskinan (baik standart BPS yang sekitar 8% dan standart Bank Dunia yang 68.4%), pengangguran (baik setengah penganggur, pekerja informal dan gig ekonomi), serta daya beli masyarakat banyak yang rendah, stagnan atau makin menurun.

Euforia IHSG seperti drama panggung kemakmuran vs. realitas pinggiran.

Kita harus mengingatkan para politisi jangan mabuk angka rekor IHSG yang menggambarkan kinerja segmental ekonomi eksklusif,  tetapi perut rakyat adalah pondasi bangunan ekonomi yang struktural. Bangunan atas yang  indah  indah dan kuat perlu dikorelasikan dengan  pondasinya yang mungkin keropos karena kemiskinan, pengangguran dan daya beli.

Jangan biarkan angka di layar mengalihkan pandangan dari penderitaan di lapangan. Kemajuan ekonomi bukan tentang berapa banyak modal asing yang masuk ke bursa, tapi tentang berapa banyak kepala keluarga yang bisa pulang ke rumah dengan tenang karena tahu besok mereka masih punya pekerjaan dan cukup nasi untuk anak cucunya.

Mungkin kita perlu sepakati satu hal. Jika pemerintah terus berpesta di atas angka bursa sambil menutup telinga dari rintihan rakyat kecil, maka keberhasilan itu hanyalah fatamorgana. Masa depan Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan layar monitor yang hijau, tapi dengan kemakmuran yang bisa dirasakan sampai ke meja makan setiap rakyat jelata.

Mengadopsi kembali esensi strategi "Dual Track" (Jalur Ganda) — yakni mengejar Pertumbuhan sekaligus Pemerataan — adalah cara paling logis untuk memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak hanya berhenti di angka IHSG, tetapi sampai ke piring nasi masyarakat.

Nurani para penguasa dan politisi perlu kembali ke esensi mengapa kita menjadi satu bangsa dan mengapa kita memproklamasikan kemerdekaan menjadi suatu negara berdaulat.

Mungkin istilah amanat penderitaan rakyat yang sudah dianggap arkais atau kuno nyatanya secara fungsional, tetap hidup dalam bentuk nama tempat (Jembatan Ampera), bisnis kuliner (warung ampera), dan nilai dasar konstitusi (Pasal 34 UUD 1945 tentang fakir miskin yang dipelihara negara). Entah apa istilah itu juga masuk RPJMN?

Semoga.

Komentar