Suasana Puasa dan Lebaran di AS

(WIN) : Lebaran Iedul Fitri merupakan momen yang ditunggu-tunggu bagi setiap kaum muslim di dunia, khususnya muslim di Indonesia. Berkumpul bersama keluarga, sanak famili, dan kerabat, di kampung halaman pada saat lebaran merupakan kebahagiaan tersendiri yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya.

Lantas, bagaimana jika saat lebaran kita sedang berada di luar negeri atau di rantau negeri orang ? Terlebih kita berada di negara-negara di mana kaum muslimnya sangat sedikit, minoritas ? Tentu kesedihan di akhir puasa yang seharusnya bahagia itu tidak akan terelakkan.

Tapi, jika anda tinggal di Amerika Serikat (AS), kini tidak perlu lagi khawatir akan kehilangan suasana atau nuansa lebaran seperti di Indonesia. Sebuah perusahaan di AS telah menawarkan Liburan khusus Iedul Fitri menikmati indahnya alam dengan menggunakan kapal pesiar. Kapal pesiar “Salaam Cruise” akan membawa keluarga muslim berlibur lebaran ke kepulauan Karibia selama sepekan.

Tersedia makanan halal dalam lancongan kapal selama sepekan tersebut. Kapal Salaam Cruise bahkan menyediakan kegiatan siraman rohani berupa ceramah dan dialog soal keagamaan dan ibadah. Untuk Liburan Idul Fitri 2013 ini, dua pemuka agama yang akan turut berlayar pada kapal itu adalah Ustadz Wisam Sharieff, dan Ustadzah Yasmin Mogahed, keduanya dari AS.

Kapal pesiar Salaam Cruise melayani liburan kaum muslim sejak tahun lalu. Pelayaran pertama diluncurkan pada Januari 2012 dari pelabuhan Port Canaveral, Florida. Paket liburan ke kepulauan Bahama kali ini akan dilaksanakan pada akhir pekan setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya mulai 16 - 19 Agustus 2013.

Sambutan masyarakat Muslim Amerika terhadap paket liburan ini sangat positif. Berbagai program yang disusun selama pelayaran, antara lain bermain bola basket, memanjat batu, bersenam, berenang, bersampan-sampan, snorkeling, berpiknik ke pulau kecil, khusus bagi rombongan pelancong Muslim, di mana mereka disambut dengan hamparan hidangan masakan halal Karibia, dan lain-lain. “Kami ajak sekelompok peserta mengunjungi masjid. Hanya ada satu masjid di Nassau,” ujar Kidwai, salah satu investor (pemilik) kapal Salaam Cruise.

Karena paket liburan kali ini diselenggarakan dalam  liburan musim panas bagi anak-anak sekolah, bertepatan pula dengan Hari Raya Idul Fitri, menurut Kidwai, 600 orang sudah menyatakan berminat ikut serta dalam pelayaran Salaam Cruise mendatang.

Ramadhan di AS

Puasa di AS tahun ini cukup berat tantangannya. Selain harus menjalankan puasa di negara yang mayoritas masyarakatnya adalah non-muslim, masyarakat muslim harus bertahan menjalani puasa di saat musim panas, di mana suhu udara bisa mencapai 37 derajat celcius. Sebagai contoh, di Washington, D.C. puasa dimulai sekitar pukul 4 pagi sampai sekitar pukul 8:30 malam, mencapai total waktu sekitar 16 jam. Namun sebaliknya, saat puasa di waktu winter puasa lebih cepat beberapa jam. “Di musim panas tantangannya menahan haus yang lebih lama, karena jam buka puasa lebih lama,” kata Yosinata W, warga Washington, D.C, seperti dikutip dari VoA belum lama ini.

Yosi mengaku sangat rindu dengan suasana bulan Ramadan di Indonesia. “Selain berbuka puasa bersama keluarga besar, tentunya kangen jajanan puasa yang menggiurkan. Dari jajanan kue kecil sampai restoran-restoran yang cocok untuk berbuka puasa. Mungkin saya juga kangen antri di food court di mal,” paparnya sambil mengatakan bahwa dirinya puasa terakhir di Indonesia sekitar tujuh tahun yang lalu.

Waktu puasa yang panjang biasanya diisi Yosi dengan membuat kue yang seringkali dipesan oleh warga Indonesia yang tinggal di Amerika. “Tahun ini saya jualan beberapa kue kering seperti kastengels dan putri salju. Ada juga beberapa kue basah seperti lapis legit dan swiss roll,” kata perempuan berusia 36 tahun ini.

Lain halnya dengan Shaliha Afifa Anistia (Fifa), mahasiswa MBA di University of Hawaii at Manoa. Dia merasa lebih siap untuk menjalani puasa di musim panas kali ini. “Saya akan berusaha untuk menghindari udara panas. Jadi saya akan diam di dalam kantor, karena lebih dingin,” ujar Fifa seperti dikutip dari VoA.

Mengingat jadwal buka puasa yang lebih larut, jadwal sholat Tarawih juga bertambah malam. “Kendalanya untuk sholat Tarawih di masjid harus keluar malam-malam dan masjidnya juga agak jauh. Jadi mungkin akan lebih sering sholat sendiri saja di kamar,” ucap Fifa sambil mengatakan bahwa dirinya tengah merindukan suasana ramadhan di kampung halamannya.

Untuk mengobati rasa kangen akan kebersamaan dengan keluarga di bulan Ramadan, biasanya warga muslim Indonesia AS mengadakan acara buka bersama dan sholat Tarawih bersama.

Lain hal dengan Maya Rahayu yang tinggal di negara bagian Alaska, di mana matahari baru terbenam sekitar pukul 10 malam. “Kebetulan saya dengan keluarga mengikuti aturan Islamic center yang ada di sini, karena mengikuti waktunya Mekkah. Kami tidak mengikuti jam Alaska. Kalau buka puasa yang sesuai dengan aturan Alaska, sekitar jam 10 malam kita baru buka puasa, dan sahurnya jam 3 pagi. Tapi karena kita mengikuti Islamic center, kita sahurnya jam 3 pagi (dan) buka sekitar jam 7 lebih,” jelas Maya.

Aneh memang kedengarannya, karena terkadang warga muslim di Alaska berbuka puasa di saat hari masih terang benderang. Namun, untuk jadwal sholat, Maya terkadang masih mengikuti waktu setempat. Sebagai contoh, sholat Isya baru dikerjakan mendekati dini hari. “Serasa kita jadi sholat Tahajud gitu lho. Untuk Tarawih sampai jam 12 malam, hampir jam 1 malam. Terus nanti kita disambut jam 3, itu sudah harus mulai sahur. Jadi antara jam segitu kadang-kadang kita tidur atau tidak tidur, karena jaraknya terlalu dekat. Selesai sholat Tarawih, terus kita sahur,” ujar Maya kepada VOA Indonesia yang dikutip whatindonews.com, Sabtu (3/8/2013). (win5)

Komentar