Maftuh, jadi tumpuan berita lagi

(WIN) : Umurnya sudah tidak muda lagi, yakni 74 Th, tepatnya lahir di Rembang, Jawa Tengah, 4 November 1939. Namun catatan kiprahnya tergolong luar biasa, meski tidak banyak orang mengenalnya. Bisa disebut tidak terlalu populer. Dialah Muhammad Maftuh Basyuni.
Sudah lama tenggelam dari pemberitaan, tiba-tiba namanya muncul lagi yakni sebagai Ketua Komite Konvensi yang dibentuk Partai Dempkrat. Tugasnya tidak sederhana, yakni menjaring bakal calon presiden (capres) dari partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut. Posisi ini bakal menjadi tumpuan media massa sebagai konsumsi berita.
Komite Konvensi bekerja dengan mandat dan atas nama Majelis Tinggi PD. Tugasnya menyelenggarakan konvensi capres : menetapkan dan mengusulkan capres 2014 -2019 yang sesuai dengan ketentuan penyelenggaraan konvensi. Komite Konvensi ini wajib berpegang pada AD/ART PD serta Peraturan Tata Tertib yang telah ditetapkan Majelis Tinggi PD. Majelis Tinggi memberikan mandat penuh kepada Komite Konvensi untuk menyusun tugasnya. Dalam hal terdapat permasalahan fundamental dan krusial - yang tidak diatur dalam ketentuan penyelenggaran konvensi capres PD, maka komite wajib mengonsultasikannya dengan Majelis Tinggi PD.
Tugas Komite Konvensi dengan sendirinya berakhir setelah calon presiden dan wakil presiden yang diusung oleh Partai Demokrat ditetapkan. Komite ini terdiri dari 17 orang, diantaranya Maftuh Basyuni selaku ketua merangkap anggota, Taufiqqurahman Ruki Wakil ketua merangkap anggota, Suaidi Marrasabessy Sekretaris Komite merangkap anggota, AP Andi Timo Pangerang sebagai Bendahara merangkap anggota. Anggota lainnya Soegeng Sarjadi, Margiono, T.P Rachmat, Effendi Ghazali, Christianto Wibisono, Indrawaty Sukadis, Didi Irawadi Syamsuddin, Hinca Panjaitan, Wisnu Wardhana, Putu Suasta, Humphrey Djemat, Charis Rully dan Vera Febriyanti.
Jika dilihat dari nama-nama yang ada dalam Komite Konvensi capres PD tersebut, posisi Maftuh Basyuni cukup mantab. Mereka, para anggota Komite adalah orang-orang penting yang kapable di bidangnya masing-masing dan populer, bahkan lebih populer dari Maftuh sendiri. Ini membuktikan bahwa Maftuh bukanlah orang sembarangan. Karir puncaknya memang pernah menjabat sebagai Menteri yakni Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Maftuh menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi pada tahun 1968. Awal karirnya yakni pada 1976-1979 Maftuh tampil sebagai Sekretaris Pribadi Duta Besar Indonesia di Jeddah. Pria kalem dan santun ini banyak berhubungan dengan para pimpinan negara-negara kawasan Arab.
Maftuh juga pernah sebagai kepala rumah tangga kepresidenan saat Soeharto memimpin negara Indonesia. Dia juga menjabat Sekretaris negara pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Sejak 2002. Setelah itu, keberadaannya yang banyak dikenal orang-orang Arab menjadikan Maftuh ditempatkan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman. Pada 2004, ia tampil sebagai ketua Delegasi Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri OKI dan banyak lagi posisi penting yang disandangnya terkait banyak relasi dengan organisasi-organisasi internasional.
Mudah-mudahan tugas Komite Konvensi ini bisa maksimal dan bisa melahirkan atau mendapatkan capres yang ideal meski PD popularitasnya selama ini terus merosot. Belum banyak diketahui siapa saja yang akan ikut komvensi capres di PD, yang sering disebut-sebut diantaranya adalah Gita Wiryawan, Dahlan Iskan, dan Mahfud MD. Selamat bertugas pak Maftuh.(win5)