Prananda, peran dibalik layar

(WIN): Sosok pria muda ini penampilannya sederhana, egaliter, tapi disegani banyak orang – khususnya di lingkungan praktisi politik garis merah. Dia adalah H. Muhammad Prananda Prabowo, Kepala Ruang Pengendali dan Analisa Situasi - DPP PDIP. Panggilan akrabnya Nanan. Di lingkungan DPP PDIP biasa dipanggil mas Nanan. Dia adalah cucu Soekarno, Presiden RI pertama.
Nanan adalah putera kedua Megawati Soekarnoputri, Ketua DPP PDI-P dari suami pertama, Lettu Penerbang Surindro Suprijarso. Prananda (Nanan) masih berada dalam kandungan saat ayahnya wafat dalam kecelakaan pesawat Skyvan T-701 di Biak, Papua Barat pada 1970. Nanan lahir pada 23 April 1970. Sedangkan kakaknya, H. Mohammad Rizky Pratama atau akrab dipanggil Tatam, baru berusia dua tahun saat pesawat yang dipiloti sang ayah itu mengalami naas.
Kedua pemuda titisan Soekarno itu menjalani masa hidup bahagianya bersama sang Ibu dan ayah sambungnya yakni Taufiq Kemas, Ketua MPR RI yang wafat Sabtu, 8 Juni 2013 lalu. Dengan Taufiq Kiemas, mantan presiden RI Megawati dikaruniai satu puteri yakni Puan Maharani yang secara posisi politik di PDIP lebih menonjol dibanding kakaknya, Nanan.
Sosok Nanan muncul menjadi perhatian publik ketika pelaksanaan Kongres III PDI-P di Bali tahun 2010 silam. Saat itu Nanan diketahui banyak berperan sebagai tokoh di belakang layar aktivitas ibunya di partai. Anak muda ini dikenal sangat memahami ajaran dan faham Soekarno, karena sehari-hari diketahui banyak bergelut dengan buku-buku Bung Karno.
Megawati sendiri sudah mengenalkan Prananda ke publik. “Prananda anak saya, Puan juga anak saya. Ada banyak lagi anak-anak muda yang punya potensi,” ujar Mega seusai membuka Konferensi Daerah PDIP DKI Jakarta di Ancol akhir Maret 2013. Mega meyakini kedua anaknya ini kelak akan menjadi tokoh penting partai.
Nanan dinilai oleh kalangan kaum muda Marhaen sebagai pewaris trah Soekarno. Bahkan, ia dicap sebagai keturunan ideologis Bung Karno yang paling memahami ajaran Soekarno dan dinilai paling tepat untuk menggantikan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum PDIP, nantinya. Karena itu, Nanan sempat digadang-gadang menjadi salah satu Wakil Ketua Umum PDIP, meski akhirnya menjabat sebagai Kepala Ruang Pengendali dan Analisa Situasi.
Nanan walaupun berpenampilan diam dan kalem, tapi dalam ruang-ruang tertentu dia justru nampak sangat aktif. Suka berdiskusi soal ajaran Soekarno, dan sangat paham tentang ideologi Bung Karno. Dia memiliki pemahaman yang lengkap akan demokrasi dan ideologi.
Meski demikian, Nanan tetap rendah hati. “Seluruh generasi Bung Karno paham dengan ajaran-ajaran Proklamator RI, sebab sejak kecil sudah ditanamkan oleh keluarga,” katanya dalam satu kesempatan.
Kader PDIP yang sekarang menjadi Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, pernah mengatakan ada beberapa kemiripan antara Nanan dengan ibunya, Megawati. Khususnya terkait sikap low profile yang tidak banyak bicara jika memang tidak dibutuhkan. “Nanan seringkali mengkritik sikap Fraksi PDI-P di DPR bila ada kebijakan fraksi yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran Bung Karno. Nanan memang sangat mengidolakan kakeknya.”
Hal sama juga pernah diungkapkan oleh kader muda PDI-P Cepi Budi Mulyawan. Menurutnya, PDI-P ke depan harus dipimpin oleh sosok seperti Prananda Prabowo. Alasannya, selain masih trah Soekarno, Nanan dinilai cukup bisa mengawal ideologi PDI-P karena mampu menjaga konsistensinya dalam bersikap menghadapi perubahan politik yang dinamis.
"Beliau juga pintar dan cerdas. Hampir semua gagasan besar Bung Karno beliau paham dan menguasai. Hanya saja memang beliau tidak pernah tampil di media karena tidak mau dimunculkan," ujar Cepi.
Prananda sering disebut sebagai penyusun pidato-pidato Megawati. Namun ia mengaku hanya ditugasi Megawati untuk mencari kutipan-kutipan Bung Karno yang akan digunakan untuk berpidato. Namun, Megawati juga kerap mengajak berdiskusi tentang kutipan mana yang pas untuk pidatonya. Membantu penyusunan pidato Megawati bersama pakar politik UGM Cornelis Lay adalah salah satu contoh peran di balik layar yang dimainkan oleh Prananda.
Di PDI-P, dalam kapasitasnya sebagai Kepala Ruang Pengendali dan Analisa Situasi DPP PDI-P (situation room), tugasnya lebih banyak berkaitan dengan internal partai yang langsung bersentuhan dengan ketua umum. Di situation room itu, Prananda antara lain bertugas menyusun strategi partai, selain memperoleh mandat mengawasi kemungkinan adanya penyimpangan-penyimpangan partai dari koridor keputusan kongres.
Nanan juga yang mengecek segala persiapan berkaitan dengan kegiatan Megawati di suatu daerah. Politikus PDI-P Maruarar Sirait mengatakan, Prananda melaporkan segala perkembangan yang ada di pilkada, pencalegan, maupun perilaku kader partai di eksekutif dan legislatif kepada Megawati, Yang menerima laporannya hanya ketua umum dan kita tidak tahu hal itu,” katanya.
Mega diketahui sangat sayang kepada Prananda, dan kedua anaknya yang lain. Bahkan, Eros menyebut Prananda adalah peredam amarah ibunya. “Ya, karena sifatnya yang sabar dan siap mendengar pembicaraan lawan bicaranya dengan tenang, sehingga Nanda mampu menjadi peredam amarah sang Ibu.”
Maka itu banyak sekali pihak di lingkungan PDIP yang menginginkan Nanda sebagai pimpinan partai bermoncong putih itu di masa mendatang. Kata orang jawa, Nanan ini ibarat satrio piningit. Calon pemimpin bangsa seperti kakeknya yang saat ini masih dipingit atau belum terlalu dimunculkan ke hadapan publik. (win5)